“Soto ne kok bening ngene, mbak?” Itu adalah kalimat pertama yang saya ucapkan sekitar 10 tahun yang lalu ketika dihidangkan semangkuk soto bening Jogja oleh saudara saya di Jogja. Rasa kaget langsung mengambil alih tubuh saya, mengusir sebentar rasa lapar yang sedari tadi hinggap. Sambil melahap semangkuk soto yang aneh itu hingga tandas, satu pertanyaan berputar di kepala saya, ini soto model apa kok bening begini?
Itu adalah momen di mana saya pertama kali melihat ada model soto yang sangat berbeda dengan model soto yang selama ini saya imani. Sebagai orang Jawa Timur, saat itu saya masih mengimani bahwa soto yang “benar” ya soto Jawa Timuran, seperti soto Lamongan. Kuahnya kuning, agak keruh, dengan isian lengkap, dan ditaburi koya. Maklum, saat itu pikiran saya memang belum terbuka sekarang dengan kekayaan model atau gagrak soto di Indonesia.
Culture shock dengan soto bening yang ada di Jogja
Sedari kecil hingga sekarang, saya memang sudah beberapa kali main ke Jogja. Tentu dengan berbagai tujuan, mulai dari liburan, sowan ke saudara, hingga tujuan-tujuan lain. Selama berkali-kali saya main ke Jogja, pengetahuan kuliner saya paling mentok di gudeg, sate klatak, dan tengkleng. Saya sama sekali nggak kenal dengan soto Jogja, dan nggak tahu kalau ternyata sotonya beda.
Maka ketika pertama kali melihat bentuknya sekitar 10 tahun lalu, tentu saya kaget. Soto kok bentuknya kayak begini. Wujudnya asing, tapi rasanya familiar. Visualnya kuahnya mirip sop, tapi rasanya dan kondimennya kayak soto. Lalu menjawab pertanyaan saya di atas, saudara saya malah bilang bahwa soto di Jogja ya rata-rata begini. Makanya banyak yang bilang soto yang modelnya seperti ini dengan sebutan soto bening.
Jawaban dari saudara saya memang nggak menjawab semua rasa penasaran dan kekagetan saya. Tapi, nggak apa-apa. Setidaknya sejak saat itu saya tahu kalau ternyata Jogja punya gagrak soto sendiri yang tentunya beda dengan soto-soto yang ada di Jawa Timur.
Beberapa orang Jawa Timur pun merasakan kekagetan yang sama
Pengalaman saya menemukan soto bening ini saya ceritakan ke teman-teman saya di rumah. Mendengar ada yang namanya soto bening, respons mereka sama dengan saya. Mereka kaget, beberapa bahkan ada yang nggak terima dan menganggapnya bukan soto. Padahal mereka juga belum pernah mencobanya. Aneh juga.
Kekagetan saya dan teman-teman saya tentu saja sangat bisa dipahami. Kami, saya dan teman-teman, adalah orang Jawa Timur. Selama bertahun-tahun, pengetahuan kami soal soto ya berpusat di soto Lamongan dengan kuah kuningnya itu. Jadi ketika nemu ada soto yang bentuknya berbeda banget dengan soto Lamongan. Apalagi yang kuahnya bening seperti soto-soto yang ada di Jogja, kami jelas kaget.
Kekagetan itu juga dirasakan oleh beberapa orang Jawa Timur lain. Di internet misalnya, mereka masih ada yang kaget dengan adanya soto bening yang kerap dijual di Jogja. Apalagi bagi mereka-mereka yang belum pernah mencobanya. Pertanyaan “Soto kok bening?” jadi pertanyaan yang pasti muncul dari orang Jawa Timur ketika pembahasan soal soto bening keluar.
Pelan-pelan mulai bisa menerima
Pertemuan pertama saya dengan soto bening di Jogja sekitar 10 tahun lalu bisa dibilang cukup membekas. Makanan ini identitasnya familiar, tapi bentuknya asing. Lidah memang bisa menerima, tapi otak masih bertanya-tanya. Meskipun terasa aneh, tapi saya masih penasaran dengan soto bening yang ada di Jogja.
Itu mengapa, ketika ada kesempatan main ke Jogja lagi, saya mencoba beberapa soto bening yang ada di sana. Saya mencoba mulai dari soto ayam sampai soto daging. Dari yang porsinya kecil dengan harga Rp5.000-an, sampai yang porsi normal dengan harga Rp15.000-an. Setelah mencoba, perlahan saya bisa menerima soto bening ini. Saya juga jadi paham bahwa soto bening ini ya sebenarnya nggak ada aneh-anehnya, kok. Beberapa bahkan ada yang enak, yang cocok dengan lidah Jawa Timur saya.
Saya menemukan bahwa karakteristik soto bening yang cenderung ringan, beda dengan soto Jawa Timuran (soto Lamongan atau soto Madura) yang cenderung berat. Soto bening yang ada di Jogja ini kuahnya kaldu, tentunya tanpa santan, dan cenderung light. Seger aja gitu rasanya. Apalagi ada beberapa warung yang menyediakan porsi kecil. Itu mengapa, soto ini cocok buat sarapan ringan, atau sekadar buat ganjel perut.
Soto bening memang sudah jadi makanan yang bisa saya terima. Otak saya sudah sejalan dengan lidah terkait soto bening. Sebagai orang Jawa Timur, sudah nggak ada lagi perasaan aneh atau nggak terima dengan adanya soto bening. Perbedaan ini wajar banget. Toh, soto-soto yang ada di Indonesia juga beda-beda. Soto yang sama-sama dari Jawa Timur, soto Lamongan dan soto Madura saja bisa berbeda, kok.
Saya sudah berhenti mempersoalkan perbedaan itu. Saya memilih menerimanya. Itu mengapa, sekarang saya sudah memasukkan soto bening Jogja sebagai kuliner wajib kalau saya main ke sana. Rugi juga rasanya kalau ke Jogja nggak nyobain soto-soto yang ada di Jogja, apalagi soto beningnya. Yah, buat saya yang orang Jawa Timur, soto bening memang bukan favorit, tapi tetap layak untuk dicoba.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Soto di Jogja yang Enak dan Cocok bagi Lidah Orang Malang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















