Bila kita mendengar soal kuliner khas dari Betawi atau Jakarta, makanan yang pasti akan terbayang pertama kali dalam kepala kita adalah kerak telor. Sebuah makanan yang bisa dibilang omelet versi lokal yang dimasak di kuali dengan telur, ketan putih, beserta serundeng kelapa.
Makanan ini sudah begitu ikonik dan lekat dengan budaya Betawi sehingga menjadi incaran para turis dan wisatawan. Kalau kita coba cari di search engine mengenai makanan khas Jakarta yang harus dicoba, maka kerak telor akan tampil di atas dengan gambar yang sangat menggiurkan. Ini bukanlah suatu hal yang kebetulan, Ali Sadikin yang menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1966-1977 memang pernah mempromosikan kuliner ini secara khusus.
Namun, sebagai orang yang dari kecil tinggal di Jakarta, saya merasa aneh mengapa kerak telor begitu diagung-agungkan sehingga menjadi ikon kuliner di sini. Keberatan saya terhadap hal tersebut tentunya memiliki dasar dengan berbagai alasan. Dan, hal itulah yang akan saya coba jelaskan pada tulisan ini. Selamat membaca.
Rasa kerak telor tidak sebanding harga
Secara penampakan, kerak telor memang menggiurkan. Apalagi, dimasak di tungku kecil yang memberikan aroma smoky yang cukup membuat kita tergiur dan menelan ludah. Namun, bila kita melihat harga, porsi, dan mencicipi langsung, maka ekspektasi kita terhadap makanan tersebut akan hancur.
Jujur saja rasa kerak telor yang pernah saya coba tidak sekaya itu rasanya. Ya, hanya seperti telor biasa saja. Malah, tidak sedikit juga yang bilang rasanya hambar. Memang ada rempah-rempah yang biasa dipakai pada kerak telor, tetapi rempah-rempah tersebut lebih cenderung berkontribusi kepada aroma, daripada rasa.
Rasa yang biasa saja itu sudah membuat kita kecewa. Kalau melihat harganya, kita akan tambah kecewa. Umumnya, kerak telor dijual di Jakarta dengan seharga Rp20.000-25.000. Dengan uang segitu saya sih lebih milih makan di warteg yang lebih enak dan mengenyangkan. Di warteg, modal sebesar Rp25.000,00 sudah bisa mendapatkan nasi, telor dadar, dan sepotong ayam. Setelah makan saya bisa bersendawa puas dengan perut terisi penuh.
Sulit ditemukan
Harga kerak telor dengan rasanya yang biasa saja sebetulnya sudah cukup membuat penghuni Jakarta sendiri lupa dengan makanan tersebut. Tapi, kondisi itu diperparah lagi dengan minimnya orang yang berjualan kerak telor.
Di pinggir jalan Jakarta kita akan lebih sering menemukan tenda-tenda pecel lele yang sebetulnya asli Lamongan atau bebek Madura. Kalau makanan khas Betawi lain, kita akan lebih sering menemukan soto Betawi atau sop kambing. Kerak telor di mana? Wallahua’lam.
Sebetulnya kerak telor baru mudah ditemukan bila kita mengunjungi festival kuliner atau acara kebudayaan, seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ). Di PRJ pun harga kerak telor dijual dengan harga yang lebih mahal dari biasanya dengan kisaran harga Rp35.000-Rp40.000. Hemat saya, kehadiran kerak telor dengan cara seperti ini membuat makanan ikon Betawi ini malah menjadi terkesan eksklusif dan tidak dekat dengan masyarakat Jakarta sendiri. Dan, tentunya menjadi tidak pantas untuk dijadikan ikon kuliner Betawi.
Masih banyak opsi lain yang layak
Makanan yang ditetapkan sebagai ikon kuliner seharusnya bisa memberikan pengalaman yang bisa dikenang secara positif bila dicicipi, terutama bagi para turis. Selain itu, sangatlah aneh bila makanan yang ditetapkan sebagai ikon kuliner daerah malah jadi eksklusif dan terkesan jauh dari masyarakatnya sendiri.
Secara historis, kerak telor memang memiliki kisah sejarah yang panjang dan konon sudah ditemukan dari zaman kolonial Belanda. Namun, aspek historis saja tidak cukup untuk dijadikan landasan agar makanan ini bisa dijadikan kuliner. Turis atau wisatawan peduli setan dengan sejarah pada suatu makanan dan akan lebih penasaran dengan rasa makanan itu.
Lagi pula kenapa sih terus memaksakan kerak telor sebagai ikon kuliner? Kayak kekurangan opsi saja. Banyak lho, makanan khas Betawi yang lebih layak menyandang gelar tersebut. Misalnya, soto Betawi atau sop kambing yang lebih kaya rasa dan mudah ditemukan. Memang betul harga makanan tersebut tidak bisa dibilang murah, tapi setidaknya cita rasa yang ditawarkan akan lebih berkesan dan bisa mengenyangkan perut.
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















