Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Mohammad Rafatta Umar oleh Mohammad Rafatta Umar
9 April 2026
A A
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif (Lord Mountbatten via Wikimedia Common)

Share on FacebookShare on Twitter

Bila kita mendengar soal kuliner khas dari Betawi atau Jakarta, makanan yang pasti akan terbayang pertama kali dalam kepala kita adalah kerak telor. Sebuah makanan yang bisa dibilang omelet versi lokal yang dimasak di kuali dengan telur, ketan putih, beserta serundeng kelapa.

Makanan ini sudah begitu ikonik dan lekat dengan budaya Betawi sehingga menjadi incaran para turis dan wisatawan. Kalau kita coba cari di search engine mengenai makanan khas Jakarta yang harus dicoba, maka kerak telor akan tampil di atas dengan gambar yang sangat menggiurkan. Ini bukanlah suatu hal yang kebetulan, Ali Sadikin yang menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1966-1977 memang pernah mempromosikan kuliner ini secara khusus.

Namun, sebagai orang yang dari kecil tinggal di Jakarta, saya merasa aneh mengapa kerak telor begitu diagung-agungkan sehingga menjadi ikon kuliner di sini. Keberatan saya terhadap hal tersebut tentunya memiliki dasar dengan berbagai alasan. Dan, hal itulah yang akan saya coba jelaskan pada tulisan ini. Selamat membaca.

Rasa kerak telor tidak sebanding harga

Secara penampakan, kerak telor memang menggiurkan. Apalagi, dimasak di tungku kecil yang memberikan aroma smoky yang cukup membuat kita tergiur dan menelan ludah. Namun, bila kita melihat harga, porsi, dan mencicipi langsung, maka ekspektasi kita terhadap makanan tersebut akan hancur.

Jujur saja rasa kerak telor yang pernah saya coba tidak sekaya itu rasanya. Ya, hanya seperti telor biasa saja. Malah, tidak sedikit juga yang bilang rasanya hambar. Memang ada rempah-rempah yang biasa dipakai pada kerak telor, tetapi rempah-rempah tersebut lebih cenderung berkontribusi kepada aroma, daripada rasa.

Rasa yang biasa saja itu sudah membuat kita kecewa. Kalau melihat harganya, kita akan tambah kecewa. Umumnya, kerak telor dijual di Jakarta dengan seharga Rp20.000-25.000. Dengan uang segitu saya sih lebih milih makan di warteg yang lebih enak dan mengenyangkan. Di warteg, modal sebesar Rp25.000,00 sudah bisa mendapatkan nasi, telor dadar, dan sepotong ayam. Setelah makan saya bisa bersendawa puas dengan perut terisi penuh.

Sulit ditemukan

Harga kerak telor dengan rasanya yang biasa saja sebetulnya sudah cukup membuat penghuni Jakarta sendiri lupa dengan makanan tersebut. Tapi, kondisi itu diperparah lagi dengan minimnya orang yang berjualan kerak telor.

Di pinggir jalan Jakarta kita akan lebih sering menemukan tenda-tenda pecel lele yang sebetulnya asli Lamongan atau bebek Madura. Kalau makanan khas Betawi lain, kita akan lebih sering menemukan soto Betawi atau sop kambing. Kerak telor di mana? Wallahua’lam.

Baca Juga:

5 Kuliner Enak yang Sulit Ditemukan di Semarang

Dilema Orang Bogor: Terlalu Betawi untuk Disebut Sunda

Sebetulnya kerak telor baru mudah ditemukan bila kita mengunjungi festival kuliner atau acara kebudayaan, seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ). Di PRJ pun harga kerak telor dijual dengan harga yang lebih mahal dari biasanya dengan kisaran harga Rp35.000-Rp40.000. Hemat saya, kehadiran kerak telor dengan cara seperti ini membuat makanan ikon Betawi ini malah menjadi terkesan eksklusif dan tidak dekat dengan masyarakat Jakarta sendiri. Dan, tentunya menjadi tidak pantas untuk dijadikan ikon kuliner Betawi.

Masih banyak opsi lain yang layak

Makanan yang ditetapkan sebagai ikon kuliner seharusnya bisa memberikan pengalaman yang bisa dikenang secara positif bila dicicipi, terutama bagi para turis. Selain itu, sangatlah aneh bila makanan yang ditetapkan sebagai ikon kuliner daerah malah jadi eksklusif dan terkesan jauh dari masyarakatnya sendiri.

Secara historis, kerak telor memang memiliki kisah sejarah yang panjang dan konon sudah ditemukan dari zaman kolonial Belanda. Namun, aspek historis saja tidak cukup untuk dijadikan landasan agar makanan ini bisa dijadikan kuliner. Turis atau wisatawan peduli setan dengan sejarah pada suatu makanan dan akan lebih penasaran dengan rasa makanan itu.

Lagi pula kenapa sih terus memaksakan kerak telor sebagai ikon kuliner? Kayak kekurangan opsi saja. Banyak lho, makanan khas Betawi yang lebih layak menyandang gelar tersebut. Misalnya, soto Betawi atau sop kambing yang lebih kaya rasa dan mudah ditemukan. Memang betul harga makanan tersebut tidak bisa dibilang murah, tapi setidaknya cita rasa yang ditawarkan akan lebih berkesan dan bisa mengenyangkan perut.

Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Penjual Minyak Wangi Pertama di Malioboro Jual Kerak Telor Pakai Resep Khas Padang: Belum Pernah Mencicipi Racikannya Sendiri, Tapi Cocok di Lidah Pembeli

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh

Tags: betawikerak telormakanan khas betawimakanan khas jakarta
Mohammad Rafatta Umar

Mohammad Rafatta Umar

Mahasiswa Ilmu Politik di Jaksel yang pesimis sama negara.

ArtikelTerkait

ondel-ondel

Ondel-Ondel dan Riwayatnya Kini

12 September 2019
4 Pedagang yang Selalu Ada di Hajatan Orang Betawi (Gandi Purwandi via Shutterstock.com)

4 Pedagang yang Selalu Ada di Hajatan Orang Betawi

21 September 2022
Soto Mie Bogor dan Betawi_ Serupa tapi Tak Sama terminal mojok

Membedah Perbedaan Soto Mie Bogor dan Betawi

5 Agustus 2021
10 Ungkapan Ekspresif dalam Dialog Masyarakat Betawi

10 Ungkapan Ekspresif dalam Dialog Masyarakat Betawi

26 Februari 2022
Ondel-ondel, Ikon Jakarta yang Terpinggirkan Terminal mojok

Ondel-ondel, Ikon Jakarta yang Terpinggirkan

8 Februari 2021
5 Hal yang Bikin Cikarang Jadi Pilihan Utama untuk Menetap di Jabodetabek Terminal Mojok.co

5 Hal yang Bikin Cikarang Jadi Pilihan Utama untuk Menetap di Jabodetabek

28 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas
  • Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata
  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.