Kalau kamu pernah main ke Purwokerto saat libur panjang atau momen Lebaran, ada satu tempat yang hampir pasti kamu temui dalam kondisi penuh sesak: Rita Supermall. Mall satu-satunya yang sering jadi pusat peradaban warga Banyumas dan kabupaten sekitar ini memang punya daya tarik tersendiri. Mau nonton, makan, belanja, atau sekadar ngadem, semuanya numplek di situ.
Akibatnya, di waktu-waktu tertentu, suasana di dalamnya bisa lebih padat daripada ekspektasi masa depan yang belum tentu jelas. Parkiran penuh, antrean mengular, dan eskalator terasa seperti jalur evakuasi darurat.
Dari situ, muncul satu ide yang terdengar masuk akal: “Kayaknya Purwokerto butuh satu mall lagi deh.”
Tapi, bagi saya, justru sebaliknya. Purwokerto tidak terlalu butuh mall kedua. Setidaknya, belum sekarang.
Purwokerto itu sudah cukup ramai, bukan sepi hiburan
Kalau argumennya adalah “biar warga punya lebih banyak pilihan,” saya rasa kita perlu duduk sebentar dan menghitung ulang. Soalnya, Purwokerto tidak sesepi itu dalam urusan belanja dan hiburan.
Selain Rita Supermall, kita juga punya Rita Pasaraya Kebondalem, Rita Pasaraya Alun-Alun, sampai Rita Isola. Belum lagi toko grosir seperti Indogrosir Purwokerto dan supermarket modern seperti Superindo Purwokerto.
Kalau mau nonton bioskop, memang ada CGV di dalam Rita Supermall. Tapi jangan lupa, ada Rajawali Cinema yang justru lebih dulu hadir dan punya nilai historis tersendiri. Bahkan bagi sebagian orang, nonton di sana itu bukan sekadar hiburan, tapi juga nostalgia.
Soal tempat makan, apalagi. Sekarang kafe dan tempat nongkrong kekinian sudah bertebaran di berbagai sudut kota. Tidak semuanya harus bernaung di dalam mall. Justru banyak yang lebih hidup karena berdiri mandiri, lebih fleksibel, berani bereksperimen, dan tentu saja tetap Instagramable.
Jadi, kalau alasannya karena “kurang pilihan,” sepertinya Purwokerto sudah cukup punya stok.
Belajar dari yang sudah sepi, jangan sampai nambah korban
Membangun mall kedua mungkin terdengar seperti langkah maju. Tapi kalau tidak dihitung matang, bisa jadi malah jadi langkah mundur yang mahal. Kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Moro Mall Purwokerto pernah jadi salah satu pusat keramaian. Tapi sekarang tinggal cerita. Sepi, tutup, lalu dikenang sebagai “dulu pernah ramai.”
Masalahnya sederhana: daya beli dan jumlah pengunjung itu terbatas. Ketika ada terlalu banyak pilihan dalam satu kategori yang sama, persaingan jadi tidak sehat. Yang kuat mungkin bertahan, tapi yang setengah-setengah akan tergilas pelan-pelan.
Mall bukan sekadar bangunan besar dengan AC dingin, tapi juga butuh arus pengunjung yang stabil. Kalau pasar yang ada dipaksa dibagi dua tanpa pertumbuhan signifikan, hasilnya bukan dua mall yang sama-sama ramai, tapi dua-duanya setengah hidup. Dan kita sudah punya satu contoh nyata bagaimana cerita itu bisa berakhir.
Ada yang lebih mendesak di Purwokerto
Daripada sibuk membayangkan mall kedua, ada baiknya kita menoleh ke masalah yang lebih dekat dan lebih sering bikin emosi: parkir.
Ya, parkir di Purwokerto itu seperti sinetron panjang tanpa episode terakhir. Sudah sering dibahas, sering dikeluhkan, tapi entah kenapa selalu kembali lagi dengan plot yang sama. Pengelolaannya juga kadang bikin bingung, ini resmi atau sekadar inisiatif warga yang terlalu kreatif?
Masalah ini jelas lebih urgent daripada menambah mall baru. Karena bahkan dengan satu mall saja, urusan parkir sudah bisa bikin pening. Bayangkan kalau nanti ada dua mall. Bisa jadi, kita bukan lagi pusing soal belanja, tapi soal di mana harus menaruh kendaraan tanpa merasa dirugikan.
Tidak semua kota harus punya dua mall
Ada semacam anggapan tidak tertulis bahwa kota yang “maju” itu harus punya lebih dari satu mall. Padahal, tidak semua kota perlu mengikuti template yang sama. Purwokerto punya ritmenya sendiri. Tidak terlalu cepat, tapi juga tidak tertinggal. Kehidupan kotanya tumbuh dengan cara yang unik, tidak selalu harus seragam dengan kota besar lain.
Menambah mall kedua mungkin terlihat seperti simbol kemajuan. Tapi kalau fondasinya belum siap, justru bisa jadi beban baru.
Jadi, untuk sekarang, biarlah Rita Supermall tetap jadi pusat keramaian yang kita keluhkan sekaligus kita tuju. Sambil berharap, suatu hari nanti, yang dibenahi bukan jumlah mallnya, tapi kualitas kotanya secara keseluruhan.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















