Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Muhammad Irsyad Azis oleh Muhammad Irsyad Azis
2 April 2026
A A
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Share on FacebookShare on Twitter

Saya masih ingat betul momen pertama kali status saya berubah dari pegawai tidak tetap—atau bahasa jujurnya: honorer—menjadi PPPK di sebuah kementerian. Rasanya seperti naik kelas dalam hidup. Bukan cuma karena penghasilan yang lebih jelas, tapi juga karena ada semacam pengakuan sosial yang sebelumnya terasa samar.

Dan seperti kebanyakan orang yang baru “naik level”, saya mulai berpikir: sepertinya sudah waktunya punya mobil.

ADVERTISEMENT

Dulu, waktu masih honorer, naik motor itu bukan pilihan, tapi keharusan. Bahkan kadang bukan soal praktis atau tidak, tapi soal ya memang cuma itu yang bisa diusahakan. Hujan, panas, ban bocor di jalan—semuanya sudah seperti bagian dari rutinitas yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.

Tapi setelah jadi PPPK, cara pandang saya pelan-pelan berubah. Entah karena penghasilan yang terasa lebih “lega”, atau karena mulai sering membandingkan diri dengan lingkungan sekitar, mobil tiba-tiba terasa bukan lagi kebutuhan sekunder. Ia berubah menjadi semacam simbol: tanda bahwa hidup sudah sedikit lebih “berhasil”.

Lucunya, keputusan itu tidak pernah benar-benar saya hitung secara matang.

Yang saya pikirkan waktu itu sederhana: cicilan masih masuk akal, bensin masih bisa diatur, dan toh saya sudah bukan honorer lagi. Rasanya seperti sudah saatnya menikmati hasil kerja.

Masalahnya baru terasa setelah mobil itu benar-benar ada di garasi.

PPPK memang gajinya lumayan, tapi pengeluaran saya jadi berlebihan

Pengeluaran yang dulu terasa cukup stabil, tiba-tiba punya cabang baru yang tidak kecil. Bensin bukan lagi sekadar isi dua atau tiga hari sekali, tapi bisa jadi rutinitas yang lebih sering. Belum lagi servis berkala, asuransi (yang awalnya saya anggap opsional, lalu jadi terasa wajib), dan biaya-biaya kecil lain yang entah kenapa selalu muncul di waktu yang tidak tepat.

Baca Juga:

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

4 Alasan Pegawai P3K Baru Harus Pamer di Media Sosial

Di titik ini, saya mulai sadar: yang berubah bukan cuma status pekerjaan, tapi juga standar hidup. Dan standar hidup ini punya sifat yang cukup licik—ia naik tanpa permisi.

Yang lebih menarik, saya mulai melihat perbandingan yang cukup jelas. Teman-teman PPPK di daerah dengan skema penghasilan berbeda, ada yang tetap santai tanpa mobil, ada juga yang langsung “gas penuh” seperti saya. Sementara di lingkungan kementerian, ekspektasi tidak tertulis itu terasa lebih kuat: seolah-olah kalau sudah naik status, gaya hidup juga harus ikut naik.

Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada aturan yang benar-benar mengharuskan itu. Tapi ya, manusia jarang bergerak berdasarkan aturan. Lebih sering karena perasaan “tidak enak” kalau terlihat tertinggal. Mungkin FOMO, mungkin gengsi, mungkin juga hal-hal lain.

Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan yang agak mengganggu: punya mobil itu bukan sekadar soal mampu atau tidak, tapi soal bagaimana kita memaknai perubahan hidup. Dari luar, terlihat seperti upgrade. Dari dalam, kadang hanya perpindahan jenis beban.

BACA JUGA: Curhat Guru PPPK Paruh Waktu: Status ASN, Kontrak Setahun, Gaji Masih Teka-teki

Rasa cukup terasa begitu jauh

Dulu, beban saya adalah bagaimana bertahan dengan penghasilan terbatas. Sekarang, bebannya berubah menjadi bagaimana mengelola penghasilan yang lebih besar tapi dengan pengeluaran yang ikut membengkak. Dan anehnya, rasa “cukup” itu tetap terasa jauh.

Mungkin masalahnya memang bukan pada status honorer atau PPPK, bukan juga pada ada atau tidaknya mobil di garasi. Tapi pada kebiasaan kita yang diam-diam selalu menyesuaikan standar hidup begitu keadaan sedikit membaik—tanpa pernah benar-benar bertanya: ini kebutuhan, atau cuma keinginan yang kebetulan sekarang bisa dibayar?

Penulis: Muhammad Irsyad Azis
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Beban Kerja PPPK Paruh Waktu Mirip ASN, tapi Standard Gaji Honorer: Nasib Guru Muda Makin Tak Jelas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: gaji PPPKhonorerkredit mobilPPPK
Muhammad Irsyad Azis

Muhammad Irsyad Azis

Pegawai PPPK di Sulawesi Selatan, lulusan manajemen yang hobi mikir hal-hal random. Dari kebiasaan itu, sering muncul ide—baik untuk tulisan maupun untuk sekadar bikin kerjaan jadi lebih masuk akal.

ArtikelTerkait

Kata Siapa Gaji Guru Swasta itu Bercanda? Gaji Kami Gede kok (Syarat dan Ketentuan Berlaku)!

Andai Gaji Guru Naik, Berapa Persentase Kenaikan yang Ideal? Apakah Bisa Sebanyak Tukin Kementerian?

25 September 2024
Tunjangan Kinerja buat ASN, Beban Kerja buat Honorer, di Mana Adabmu?

Tunjangan Kinerja buat ASN, Beban Kerja buat Honorer, di Mana Adabmu?

30 Oktober 2025
Awalnya PPPK Adalah Angin Segar Honorer, Kini Jadi Angin Ribut Mahasiswa FKIP terminal mojok.co

Awalnya PPPK Adalah Angin Segar Honorer, Kini Jadi Angin Ribut Mahasiswa FKIP

14 Januari 2021
4 Alasan Pegawai P3K Baru Harus Pamer di Media Sosial (Unsplash)

4 Alasan Pegawai P3K Baru Harus Pamer di Media Sosial

3 November 2025
Tenaga Honorer Status Paling Sial dalam Instasi Pemerintah, Lebih Baik Tidak Mendaftar Sejak Awal Mojok.co

Tenaga Honorer Status Paling Sial dalam Instansi Pemerintah, Lebih Baik Tidak Mendaftar Sejak Awal

13 Desember 2023
Guru Bahasa Jawa Lulus Tes PPPK dan Ngajar Seni Budaya, Gimana Jadinya? terminal mojok.co

Guru Bahasa Jawa Lulus Tes PPPK dan Ngajar Seni Budaya, Gimana Jadinya?

3 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jaga ikhtiar Bupati Klaten beresin borok PD BKK Klaten (Pexels)

Yang paling penting adalah jagain ikhtiar Bupati Hamenang menyelesaikan luka lama yang dibikin PD BKK Klaten

29 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa Mojok.co

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

28 Juli 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi Mojok.co

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi

27 Juli 2026
Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.