Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

Handri Setiadi oleh Handri Setiadi
25 Maret 2026
A A
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co

Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bandung sejak lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata favorit di Jawa Barat. Udara yang relatif sejuk, pemandangan alam yang indah, serta banyaknya tempat wisata membuat kota ini hampir selalu ramai dikunjungi. Terutama saat musim liburan.

Setelah Lebaran, fenomena itu terasa semakin jelas. Mobil dengan berbagai plat luar kota datang berbondong-bondong menuju Bandung. Jalanan yang lengang setelah Lebaran mendadak berubah menjadi lautan kendaraan yang tidak ada habisnya.

Bagi wisatawan, Bandung mungkin terasa seperti surga kecil untuk melepas penat setelah mudik. Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi, mulai dari kawasan Lembang dengan berbagai wahana dan kafe estetik, hingga wisata alam seperti Kawah Putih yang terkenal dengan pemandangannya yang unik. Belum lagi tempat-tempat populer seperti Orchid Forest Cikole yang hampir selalu dipadati pengunjung saat musim liburan.

Akan tetapi, di balik semua itu, ada cerita lain yang jarang dibicarakan. Bagi sebagian warga lokal, terutama para pengguna jalan, Bandung setelah Lebaran justru bisa berubah menjadi mimpi buruk.

Bandung mendadak terasa berbeda

Hal lain yang sering dirasakan warga Bandung adalah bagaimana kota ini tiba-tiba terasa sangat berbeda ketika musim liburan datang. Beberapa jalan yang biasanya menjadi jalur alternatif pun ikut dipenuhi kendaraan. Restoran dan warung makan pinggir jalan mendadak penuh, tempat parkir hampir tidak pernah kosong, dan perjalanan singkat yang biasanya hanya memakan waktu beberapa menit bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang menguras kesabaran.

Tidak sedikit warga lokal yang akhirnya memilih mengurangi aktivitas di luar rumah saat musim liburan tiba. Bukan karena tidak ingin menikmati kota sendiri, tetapi karena tahu betul bagaimana situasi jalanan yang akan dihadapi.

Macetnya Bandung yang tidak masuk akal

Kemacetan saat musim liburan sebenarnya bukan hal baru bagi warga Bandung. Tetapi entah mengapa, setelah Lebaran rasanya selalu terasa lebih parah dari biasanya.

Saya teringat cerita dari ibu saya yang beberapa waktu lalu pergi ke daerah Ciwidey untuk berkunjung ke saudara. Perjalanan berangkat memang cukup lancar. Namun, ketika pulang menuju kawasan Dago, perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam berubah menjadi hampir lima jam di jalan. Mobil hanya bergerak beberapa meter, lalu berhenti lagi. Begitu terus berulang.

Baca Juga:

Seolah Tidak Mau Saya Pergi, Selalu Ada Alasan untuk Tetap Tinggal di Bandung

Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!

Jalanan dipenuhi kendaraan dari berbagai arah dan rasanya hampir tidak ada celah untuk bergerak lebih cepat. Bagi wisatawan mungkin ini masih dianggap bagian dari “perjuangan liburan”. Tetapi, bagi warga yang harus benar-benar pulang ke rumah, pengalaman seperti itu jelas sangat melelahkan.

Risiko kecelakaan yang meningkat

Kemacetan bukan satu-satunya persoalan. Ketika jumlah kendaraan meningkat drastis, risiko kecelakaan juga ikut bertambah. Beberapa jalur wisata di Bandung memiliki karakter jalan yang cukup menantang. Jalan menurun, tikungan tajam, serta kondisi lalu lintas yang padat sering kali menjadi kombinasi yang berbahaya, terutama bagi pengendara yang tidak terbiasa dengan kondisi jalan di daerah pegunungan.

Ibu saya cerita, di beberapa titik pinggir jalan sekitar Lembang, terdapat beberapa motor yang tumbang, bahkan ada pengendara yang terkapar di bahu jalan. Sampai tampak mobil-mobil yang dipinggirkan karena sudah tidak kuat melanjutkan perjalanan. Entah karena rem yang panas saat menuruni jalan, pengendara yang kurang memahami kondisi medan, atau sekadar karena kepadatan lalu lintas yang membuat situasi menjadi lebih tidak terprediksi.

Ironi tinggal di kota wisata

Tinggal di kota wisata memang punya dua sisi. Di satu sisi, kita bangga karena banyak orang datang menikmati keindahan kota tempat kita tinggal. Tetapi di sisi lain, ada saat-saat tertentu ketika warga lokal sebagai pengguna jalan utama justru harus menyingkir dari kota sendiri.

Musim liburan setelah Lebaran sering menjadi salah satu momen itu. Ketika wisatawan datang menikmati Bandung, warga yang harus tetap beraktivitas di jalanan malah harus bersiap menghadapi kemacetan yang tidak ada habisnya. Bagi para wisatawan, Bandung setelah Lebaran adalah surga liburan. Tetapi bagi pengguna jalan, rasanya lebih seperti ujian kesabaran yang selalu datang setiap tahun, dan entah mengapa, kita semua tetap harus mengikutinya.

Penulis: Handri Setiadi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Seolah Tidak Mau Saya Pergi, Selalu Ada Alasan untuk Tetap Tinggal di Bandung.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: BandungLebaranpariwisata bandungwarga lokalwarlokwisatawa bandung
Handri Setiadi

Handri Setiadi

Kadang guru, kadang suka baca buku, anggap saja teman baikmu.

ArtikelTerkait

Kota Bandung Dibilang Mirip Gotham City? Lah, Bagusan Gotham Jauh!

Kota Bandung Dibilang Mirip Gotham City? Lah, Bagusan Gotham Jauh!

10 Januari 2023
4 Hal yang Menghancurkan Kenyamanan Pengunjung yang Datang ke Babakan Siliwangi (Baksil) Bandung

4 Hal yang Menghancurkan Kenyamanan Pengunjung yang Datang ke Babakan Siliwangi (Baksil) Bandung

11 Mei 2024
5 Kesalahan Angkot di Bandung yang Bikin Penumpang Mengelus Dada

5 Kesalahan Angkot di Bandung yang Bikin Penumpang Mengelus Dada

25 Mei 2023
Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Penting yang Nggak Dianggap di Bandung

Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Penting yang Nggak Dianggap di Bandung

6 Agustus 2024
Bandung Tidak Jauh Berbeda dengan Depok Jawa Barat, Sama-sama Berbahaya dan Nggak Romantis Mojok.co

Bandung Tidak Jauh Berbeda dengan Depok Jawa Barat, Sama-sama Berbahaya dan Nggak Romantis

27 Mei 2025
5 Kesalahan Saya Sebagai Seorang Perantau Jawa Newbie di Tanah Pasundan terminal mojok

5 Kesalahan Saya Sebagai Seorang Perantau Jawa Newbie di Tanah Pasundan

10 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

25 Maret 2026
Suzuki Escudo: Mobil yang Nggak Jelek, tapi Juga Nggak Bikin Kangen Mojok.co

Suzuki Escudo: Mobil yang Nggak Jelek, tapi Juga Nggak Bikin Kangen

23 Maret 2026
Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

24 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Dear Tetangga, Tolong Kendalikan Hewan Peliharaan Anda! (Unsplash)

Tetangga yang Nggak Niat Mengurus Hewan Peliharaan Wujud Kehidupan Tanpa Adab: Kalau Nggak Niat Pelihara, Mending Nggak Usah

24 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda
  • Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani
  • Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari
  • Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah
  • Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega
  • Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.