Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
24 Maret 2026
A A
Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Jadi Fans Manchester City Itu Berat, Nonton Bola dengan Tenang tapi Dicap Karbitan Seumur Hidup

Share on FacebookShare on Twitter

Baru-baru ini, klub terbaik di dunia, Manchester City, kembali melakukan hal yang sudah mulai terasa membosankan—menang lagi. Final Carabao Cup ditutup tanpa banyak gimik, tanpa perlu tampil terlalu wah sejak awal, tapi tetap berujung trofi. Arsenal yang datang dengan kepercayaan diri tinggi, bahkan sempat terlihat lebih rapi di awal, pelan-pelan kehilangan arah begitu City menemukan momentumnya. Dua gol, cukup, selesai.

Yang menarik, City seperti tidak pernah panik. Ditekan? Biasa. Terlihat kalah dominan? Nggak masalah. City—sebagai klub dengan mental juara—main bukan buat kelihatan hebat dari menit pertama, tapi buat memastikan siapa yang berdiri paling akhir. Sementara yang lain sibuk membangun narasi indah, City cukup datang, menunggu, lalu menutup pertandingan dengan cara yang—jujur saja—agak menyebalkan kalau bukan timmu yang melakukannya.

Nah, pada kondisi demikian menjadi fans Manchester City mulai terasa “berat”. Bukan karena timnya jelek, justru sebaliknya—karena terlalu sering menang, lalu bonusnya: dicap “karbitan”. Seolah-olah menikmati kemenangan itu harus punya sertifikat lama menderita dulu. Kalau nggak, ya dianggap cuma numpang lewat pada era enak.

Padahal lucunya, yang paling ribut soal “fans kemarin sore” itu sering lupa kalau semua orang juga pernah baru. Bedanya cuma timing. Ada yang datang saat timnya lagi susah, ada juga yang datang saat timnya lagi jadi monster. Tapi, anehnya, yang kedua ini selalu dianggap kurang sah, seolah-olah kebahagiaan harus lewat penderitaan dulu biar valid.

Saya rasa menjadi fans Manchester City itu bukan cuma soal nonton bola, tapi juga soal tahan mental. Menang disindir, kalah diketawain, netral pun tetap salah. Tapi, ya mungkin memang itu konsekuensinya: ketika timmu terlalu sering jadi pemenang, orang lain akan selalu cari cara supaya kamu tetap terlihat “kurang pantas” menikmatinya.

Karbitan, label lama untuk kekesalan yang sama

Kalau dipikir-pikir, label “karbitan” ini sejatinya bukan tuduhan serius, tapi semacam mekanisme pertahanan paling praktis. Soalnya capek juga kalau harus mengakui kalau City dengan mental juaranya, menang lagi. Jadi yang diserang bukan timnya, tapi fansnya. Lebih mudah, lebih aman, dan tidak perlu repot-repot mengubah sudut pandang.

Yang lebih menarik, standar “fans asli” itu fleksibel sekali. Ketika klub sendiri lagi berjaya, fans baru disebut “bertambah”. Tapi, kalau Manchester City yang lagi di atas, langsung berubah jadi “karbitan”. Jadi masalahnya bukan pada fans baru, tapi pada siapa yang lagi terlalu sering bikin orang lain kesal.

Padahal realitasnya ya sederhana. Orang datang karena melihat sesuatu yang menarik—permainan yang rapi, tim yang konsisten, dan tentu saja kemenangan. Tapi, anehnya, menikmati tim yang sedang bagus justru dianggap mencurigakan. Seolah-olah sepak bola harus selalu soal penderitaan dulu baru boleh bahagia.

Baca Juga:

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

Persamaan Kontroversi Feodalisme Pondok Pesantren dan Liverpool yang Dibantu Wasit ketika Menjadi Juara Liga Inggris

Rasa-rasanya, kata “karbitan” itu lebih mirip pelampiasan daripada argumen. Tidak benar-benar menjelaskan apa-apa, cuma jadi cara cepat untuk merespons dominasi yang sulit diterima.

BACA JUGA: Fans Sepak Bola Itu Banyak Jenisnya, Nggak Usah Merasa Paling Sejati

Dukung klub itu hak setiap orang

Dukung klub bola itu bukan soal siapa yang paling duluan atau siapa yang paling lama menderita. Ini bukan lomba siapa yang paling “teruji”. Kalau harus begitu, mungkin kita sekalian bikin sertifikat resmi: lulus masa susah, baru boleh bahagia. Ribet amat untuk sesuatu yang awalnya cuma soal nonton bola.

Orang bisa jatuh suka kapan saja, termasuk pada klub sepak bola. Bisa dari permainan, dari pemain, atau cuma karena merasa “klik”. Dan ya, itu sah-sah saja. Nggak ada klausul yang melarang orang datang pada saat klubnya lagi bagus.

Kalau soal “karbitan”, ya jujur saja, saya juga agak bingung. Bukannya sombong, tapi saya sudah dukung Manchester City sejak SD. Bahkan pada masa ketika nonton City itu bukan pilihan paling populer buat pamer di tongkrongan. Tapi, ya tetap saja, sekarang masih kena label yang sama. Jadi kadang mikir, ini sebenarnya soal waktu atau memang labelnya saja yang sudah siap ditempel ke siapa saja?

Akhirnya ya balik lagi, dukung klub itu hak, bukan kewajiban yang harus diuji dulu. Mau datang dari awal, tengah, atau baru kemarin sore sekalipun, tidak ada yang lebih “sah” dari yang lain. Karena kalau ukuran fans ditentukan dari masa lalu, mungkin yang paling ideal itu jadi fans sebelum klubnya berdiri sekalian. Biar sekalian tidak ada yang bisa protes.

City menang terus, fansnya salah terus

Jadi fans Manchester City itu memang serba salah. Timnya menang, dibilang duit. Fansnya banyak, dibilang karbitan. Bahkan ketika cuma duduk manis menikmati pertandingan, tetap saja ada yang merasa perlu mengomentari. Seolah-olah ada standar tak tertulis yang harus dipenuhi dulu sebelum boleh merasa senang.

Padahal kalau dipikir lagi, semua ini justru menunjukkan kalau Manchester City sudah sampai di titik di mana kemenangan bukan lagi kejutan, tapi gangguan bagi banyak pihak. Dan ketika gangguan itu terlalu sering terjadi, reaksi paling mudah ya menyederhanakan—lewat label, lewat sindiran, lewat anggapan yang diulang-ulang.

Tapi, ya tidak apa-apa juga. Karena sejatinya, sepak bola tetap berakhir di papan skor dan trofi. Mau disebut apa pun, mau dilabeli bagaimana pun, hasilnya tetap sama. Manchester City tetap menang, dan fansnya—yang katanya karbitan itu—tetap menikmati.

Mungkin di situlah letak “beratnya” jadi fans Manchester City: bukan karena timnya sulit didukung, tapi karena terlalu sering benar pada waktu yang membuat orang lain tidak nyaman. Manchester is Blue. Salam juara.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Lebih Mudah bagi Man City Juara UCL daripada Mewujudkan Oasis Reuni

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Maret 2026 oleh

Tags: fans karbitanFinal Carabao Cup 2026juara carabao cupmanchestermanchester city
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

manchester city mojok

Mau Lukaku Trending, Ronaldo Brace, yang Juara Tetap Manchester City

13 September 2021
manchester united manchester city liga inggris FFP david pannick MOJOK.CO

Halu Bebas, tapi Bilang Manchester City Bakal Juara Premier League kok Nganu ya

15 September 2021
Manchester United, Sudah Jatuh Tertimpa De Gea, Kabar Baik Untuk Arsenal yang Cuma Jago di Piala FA MOJOK.CO

Manchester United, Sudah Jatuh Tertimpa De Gea, Kabar Baik Untuk Arsenal yang Cuma Jago di Piala FA

20 Juli 2020
manchester city mojok

Meski Gagal, Bukan Berarti Manchester City Akan Tamat

12 Juli 2020
Apakah Salah Jika Fans Manchester United Menyukai The Beatles dan Osis MOJOK.CO

Manchester United Mengidolakan Beatles dan Oasis: Ketika Musik Menembus Batas Rivalitas

28 Juli 2020
Menilik Peluang Manchester City Juara Premier League Usai Tumbang Lawan Spurs

Menilik Peluang Manchester City Juara Premier League Usai Tumbang Lawan Spurs

21 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan (Pernah) Percaya Kabar Kylian Mbappe (Akhirnya) Pindah ke Real Madrid, Pokoknya Jangan

Ketika 30 Juta Orang Ingin Kylian Mbappe Angkat Kaki dari Real Madrid

8 Mei 2026
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Sisi Gelap Kuliah di Prodi PBSI: Belajar Bahasa Indonesia, tapi Mahasiswanya Nggak Paham PUEBI dan Nggak Suka Baca Buku

6 Mei 2026
Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

9 Mei 2026
Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal Mojok.co magelang

Tutorial Menyelamatkan Purworejo: Jiplak Saja Wisata Kebumen dan Cara Magelang Menciptakan Lapangan Kerja

6 Mei 2026
Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya Terminal

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

10 Mei 2026
Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, kalau Malam Dikuasai Kontainer

Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, Malam Dikuasai Kontainer

5 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.