Di suatu masa, ketika demam mobil berpenampilan gagah mulai merayap pelan di Indonesia, hadir sebuah mobil yang terlihat seperti SUV, tapi nyatanya kebingungan sama identitasnya sendiri. Namanya, yak betul, Daihatsu Taruna.
Mobil ini pernah memenuhi jalanan kota kecil, parkiran kantor pemerintahan, hingga halaman rumah keluarga kelas menengah yang ingin terlihat sedikit lebih berani. Singkatnya, Taruna, pernah jadi idola orang Indonesia yang baru punya duit agak banyak.
Namun di balik tubuhnya yang tinggi dan kesan petualang yang coba dipaksakan, Daihatsu Taruna menyimpan paradoks. Mobil ini dibranding gagah, tapi, banyak hal-hal yang bikin kamu bertanya-tanya.
Daihatsu Taruna: SUV yang tidak pernah benar-benar jadi SUV
Ketika pertama kali hadir pada akhir 1990-an, Daihatsu Taruna diposisikan sebagai SUV kompak yang bisa menjadi pilihan keluarga Indonesia. Desainnya dibuat tinggi dengan overfender tebal dan ban besar. Posisi duduknya terasa lebih menjulang dibanding mobil keluarga biasa.
Gagah, jelas. Tidak ada yang menyangkal dengan ini. Tapi, lambat laun, banyak orang menyadari sesuatu yang janggal.
Taruna, dilihat makin dekat, sebenarnya hanya mobil keluarga yang sok menjadi SUV. Karakter offroad jelas nggak ada. Sistem penggerak roda belakang biasa saja. Mau mengaku mobil petualang makin gngak bisa.
Singkatnya: penampilannya (bisa dibilang cukup) gagah. Tapi, kemampuannya biasa saja. Menang baju doang, performa yah, ya begitulah.
Masalah berikutnya datang dari dapur pacu. Beberapa varian Daihatsu Taruna menggunakan mesin 1.5 liter. Hal tersebut sebenarnya tidak terlalu buruk untuk mobil ringan. Masalahnya, Taruna bukan mobil ringan. Tubuhnya tinggi, dimensinya cukup besar, dan bobotnya tidak kecil.
Akibatnya, mesin yang dipakai terasa seperti dipaksa bekerja lebih keras dari seharusnya. Akselerasinya terasa berat. Ketika menanjak atau membawa penumpang penuh, karakter mesinnya sering terasa ngos-ngosan. Ini bukan sekadar soal tenaga.
BACA JUGA: Mobil SUV Bermodal Make-Up Memang Sedang Ngetren
Desain yang cepat menua, dan kenyamanan yang memudar
Pada awal kemunculannya, Daihatsu Taruna memang terlihat menarik. Fender besar, grill tebal, dan garis bodi yang agak kotak. Ketiga hal tersebut membuatnya tampak maskulin di mata banyak orang. Tapi, waktu tidak pernah ramah terhadap desain yang setengah matang. Beberapa tahun setelah kemunculannya, desain Taruna mulai terasa cepat tua.
Bentuknya bisa dilihat tampak kaku. Proporsinya tidak benar-benar elegan. Bahkan jika dibandingkan dengan SUV lain pada era yang sama, Taruna terlihat seperti mobil yang terlalu sederhana untuk disebut modern. Ia seperti mobil yang tidak memiliki identitas desain yang kuat. Tidak cukup klasik untuk menjadi abadi, tetapi juga tidak cukup futuristik untuk bertahan lama.
Itu perkara desain, dan kini kita bicara kenyamanan, poin yang sama krusialnya.
Salah satu masalah yang sering muncul dalam pembicaraan tentang Daihatsu Taruna adalah kenyamanan. Suspensinya terasa cukup keras bagi sebagian orang. Ketika melewati jalan bergelombang, mobil ini sering memantul dengan karakter yang tidak terlalu halus. Di sisi lain, body roll juga terasa cukup jelas ketika mobil diajak berbelok dengan sedikit lebih cepat.
Hal itu bikin mobil ini makin tidak jelas berdiri di mana. SUV tangguh jelas bukan, tapi kalau disebut mobil keluarga, pengalaman berkendaranya jauh dari kata menyenangkan. Lalu, bagaimana aku harus menyebutmu, Taruna?
Citra gagah yang dibangun oleh kebutuhan sosial
Salah satu alasan mengapa Daihatsu Taruna pernah begitu populer sebenarnya bukan karena kualitasnya semata. Ada faktor psikologis yang sangat kuat. Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, masyarakat Indonesia mulai terobsesi dengan mobil yang terlihat gagah. Mobil yang tinggi, besar, dan tampak tangguh di jalan raya memberi pemiliknya semacam status sosial baru.
Taruna hadir tepat pada momentum itu. Ia menawarkan ilusi SUV dengan harga yang masih relatif terjangkau. Banyak keluarga yang membeli mobil ini bukan karena benar-benar membutuhkan kendaraan petualang. Tapi karena ingin merasakan sensasi memiliki mobil yang terlihat lebih berani dari sekadar MPV biasa.
Dalam konteks ini, Taruna sebenarnya adalah produk dari psikologi pasar. Ia tidak dijual sebagai mobil terbaik. Akan tetapi, sebagai mobil yang bisa membuat pemiliknya merasa sedikit lebih tangguh.
Jika mau melihatnya dengan lebih jujur, Daihatsu Taruna sebenarnya adalah simbol dari masa transisi industri otomotif Indonesia. Pada era itu, pabrikan mencoba menghadirkan mobil dengan citra SUV tetapi dengan biaya produksi yang tetap rendah. Hasilnya adalah kendaraan yang tampak tangguh di luar tetapi memiliki banyak kompromi di dalam. Sebenarnya ya, Taruna bukan kegagalan total, terlebih melihat fakta mobil ini cukup laku di zamannya.
Mobil ini tetap laku dan sempat memiliki pasar yang cukup besar. Namun jika dilihat dari sudut pandang desain produk, mobil ini memperlihatkan bagaimana strategi “setengah jalan” bisa menghasilkan kendaraan yang membingungkan. Ia tidak benar-benar buruk, tetapi juga tidak pernah benar-benar hebat.
Daihatsu Taruna: warisan yang tidak terlalu dirindukan
Hari ini, SUV modern semakin canggih. Mulai dari mesin bertenaga, fitur keselamatan lengkap, hingga desain yang jauh lebih matang. Hal tersebut membuat keberadaan Daihatsu Taruna terasa seperti potongan sejarah yang agak suram. Mobil ini pernah menjadi simbol aspirasi. Namun seiring waktu, ia lebih sering diingat sebagai mobil yang gagal gagah.
Warisan Taruna bukanlah legenda otomotif yang dirayakan. Ia lebih mirip catatan kaki dalam sejarah mobil Indonesia. Mobil ini perlahan tenggelam karena standar konsumen mulai naik. Di situlah pelajaran paling jujur dari kisah Daihatsu Taruna. Kadang sebuah mobil tidak gagal karena ia buruk. Ia gagal karena terlalu lama hidup dalam ilusi yang tidak pernah benar-benar bisa ia penuhi.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Mobil Terios Kok Polosan, Terios Itu Berkonde!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















