Punya rumah dekat gunung dan sungai itu sering dibayangkan romantis. Udaranya sejuk, airnya jernih, pemandangannya hijau. Cocok buat healing, kata orang-orang kota. Padahal kenyataannya, hidupmu tak sedamai itu. Kamu harus paham, bahwa gunung tidak pernah milik manusia sendiri.
Rumah dekat gunung, artinya harus berbagi kehidupan dengan makhluk-makhluk yang memang jauh lebih berhak mendiaminya. Ya pohon jati, ya ulat bulu, ya monyet, dan ya, ular. Saya serius.
Di tempat saya tinggal, bertemu ular bukan kejadian luar biasa. Yang luar biasa justru kalau beberapa minggu tidak ada ular atau hewan liar yang mampir ke sekitar rumah.
Rumah saya dekat gunung, dan bertemu ular adalah hal yang biasa. Kadang melintas, kadang di bawah tumpukan kayu, kadang diam mematung dalam pose waspada. Apakah saya dan warga sekitar takut? Pasti, gila jika kau tak takut ular. Tapi histeris? Tidak. Ini sudah jadi bagian dari keseharian kami. Cukup jaga jarak, panggil tetangga yang paham beginian, kelar.
Monyet, ujian yang sebenarnya
Selain ular, ada monyet. Ini spesies yang paling ribut dan paling bikin emosi naik turun. Mereka datang dari gunung biasanya pagi atau sore. Tiba-tiba langsung naik genteng, nyolong makanan, atau sekadar nongkrong di pagar sambil menatap manusia dengan ekspresi seolah kita yang numpang hidup di wilayah mereka.
Dan ya, sebenarnya sih, mereka benar.
Lucunya, monyet-monyet ini tidak takut manusia. Mereka lebih takut suara keras atau gerakan mendadak. Jadi warga biasanya mengusir dengan teriakan, lemparan sandal, atau bunyi-bunyi seadanya. Tidak selalu berhasil. Kadang monyetnya malah makin santai, seolah sedang menikmati tontonan gratis.
Juga, ada biawak. Nah, yang punya rumah dekat gunung pasti familier dengan hewan ini. Jarang muncul, tapi sekali muncul bikin heboh. Bertubuh besar, gerakan pelan, dan membawa aura yang mengancam. Ia tidak agresif sih, tapi tetap saja bikin kamu waspada.
Hidup berdampingan dengan hewan liar membuat kami terbiasa dengan kewaspadaan. Anak-anak diajari mengenali suara, jejak, dan tanda-tanda alam. Orang tua hafal musim, jam kemunculan, dan jalur-jalur yang sering dilewati hewan. Yah, inilah sesuatu yang kami pelajari secara alami dari punya rumah dekat gunung.
BACA JUGA: Hanya Orang Tangguh yang Sanggup Tinggal di Dekat Sawah
Rumah dekat gunung memberimu pelajaran penting
Narasi slow living hidup di rumah dekat gunung ini sebenarnya punya satu masalah serius: ia kerap tak memberikan pemahaman bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak alam sekitar.
Orang-orang kota sering memposisikan manusia sebagai pusat segalanya, tapi hidup di rumah dekat gunung dan sungai justru mengajarkan sebaliknya: manusia hanyalah salah satu penghuni, dan sebaiknya tahu diri.
Ironisnya, justru manusia modern yang sering merasa paling berhak. Kita membabat, membangun, menguruk, lalu kaget ketika hewan liar “masuk” ke permukiman. Padahal bisa jadi, kita yang datang lebih belakangan.
BACA JUGA: Pengalaman Saya 18 Tahun Tinggal di Depan Sawah
Takut?
Banyak orang bertanya, “Nggak takut tinggal di situ?” Takut, tentu saja. Tapi takutnya bukan jenis panik yang bikin lumpuh. Lebih ke takut yang bikin waspada. Rasa takut yang mengajarkan hormat.
Narasi bahwa hidup di rumah dekat gunung menyenangkan itu tak sepenuhnya salah. Hanya saja, sebagaimana apa-apa yang lain di hidup, selalu punya bayaran yang setimpal dengan apa yang didapat. Dan hidup di dekat gunung, memberimu banyak hal, baik itu kewaspadaan, atau keindahan.
Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Penderitaan Punya Rumah Dekat Sawah yang Nggak Disadari Kebanyakan Orang Kota
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.















