Pengalaman absurd hampir jadi pegawai kantor love scamming Sleman ~
Suatu hari, saat tengah membuka Instagram, secara tidak sengaja ada akun yang direkomendasikan Instagram untuk saya ikuti. Akun tersebut adalah perusahaan outsourcing yang hampir jadi tempat saya bekerja pertengahan tahun lalu. Saya tertarik klik akunnya, sekadar kepo kabar terbaru perusahaan itu.
Postingan teratas akun tersebut adalah iklan lowongan pekerjaan pada akhir 2024. Postingan itu menuai banyak komentar. Saya telusuri satu per satu, sebagian besar komentarnya membahas penggerebekan Polda DIY terhadap aksi penipuan berkedok love scamming.
Setelah menelusuri di mesin pencari, betapa kagetnya saya mengetahui kantor ini digrebek pada awal Januari lalu. Beberapa orang juga telah ditetapkan sebagai tersangka. Dalam hati, saya langsung bersyukur karena tidak jadi bekerja di sana. Walau jujur saja, saya sempat tergiur dengan nominal gajinya.
Kerja di Sleman dengan gaji Rp8 juta
Di daerah dengan UMR Rp2 jutaan, dapat gaji Rp8 juta terasa nyaris mustahil. Itulah yang dijanjikan HR saat proses wawancara sekitar bulan Juni 2025. Paling minimal, katanya, pegawai di sana bisa membawa pulang Rp5 juta per bulan. Saya yang masih dalam keadaan menganggur setelah kehilangan pekerjaan pada akhir 2024, langsung ngiler mendengarnya.
Posisi yang saya lamar adalah admin chat untuk aplikasi kencan. Jobdesc posisi ini membantu pengguna aplikasi ketika mereka mengalami masalah saat mengoperasikannya. Kliennya berasal dari luar negeri. Jadi, kami yang melamar wajib memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang mumpuni.
Kantornya sendiri terletak di bangunan dua lantai di Sleman. Tidak terlalu besar, tapi memuat banyak karyawan di dalamnya. Ada 2 shift kerja, pagi dan malam. Saat itu, saya meminta pada HR untuk mendapat shift pagi saja jika diterima.
Baca juga Kebodohan-Kebodohan Ketika Kali Pertama Main Aplikasi Kencan Online
Saya diterima di Kantor Love Scamming di Sleman
Sekitar dua minggu kemudian, saya mendapat pesan WhatsApp. Saya diterima dan mendapat shift pagi seperti permintaan saat interview. Proses training akan dimulai sebentar lagi. Dengan perasaan bahagia, tapi sedikit waswas, saya berangkat ke Jogja dan menempati kosan yang tidak jauh dari lokasi kantor.
Hari pertama training, saya berangkat sekitar pukul 07.00 WIB pagi. Di sana sudah ada banyak sepeda motor berjejer di parkiran kantor yang tidak terlalu luas. Saya langsung naik ke lantai dua dan bertemu dengan HR yang kemarin mewawancarai saya.
Di depannya terdapat sebuah laptop yang sedang dibuka. Training hari pertama berisi penjelasan rinci mengenai pekerjaan yang akan saya lakukan. Di saat itulah, saya baru benar-benar sadar tanggung jawab saya ternyata sangat berbeda dengan apa yang telah dijelaskan.
Ternyata, saya tidak akan menjadi agen customer service (CS) yang bertugas membantu pengguna. Jobdesc saya bermain peran sebagai wanita seksi yang bertugas memancing para pria pengguna aplikasi kencan tersebut. Pokoknya para pria harus terus mengeluarkan uang lebih demi bisa melanjutkan obrolan atau bahkan mendapat konten pornografi.
Aplikasi kencan ini, yang bahkan selama proses training tidak disebutkan apa namanya, dijelaskan berasal dari China. Sasaran pasarnya Amerika, Inggris dan Kanada. Sementara untuk berperan sebagai wanita seksi saat bekerja nantinya, pihak kantor telah menyediakan nama dan foto untuk kami gunakan.
Jobdesc yang melenceng
Intinya begini, saya akan menggunakan identitas palsu saat bekerja. Menyamar sebagai wanita seksi di aplikasi kencan, mengobrol dengan pengguna pria dan memancing mereka untuk mau mengeluarkan uang lebih. Caranya bisa melalui sexting atau mengirim foto-foto separuh telanjang. Jika terpancing, pengguna akan top-up ke level selanjutnya agar bisa melanjutkan obrolan dan mendapat konten pornografi lain yang lebih intens.
Hati kecil ini langsung berteriak, “Ini tidak benar!” Tapi, saat itu saya masih ingin berkompromi dengan melakukan pekerjaan ini beberapa saat. Sebulan atau dua bulan mungkin. Setidaknya cukup untuk menukar uang yang sudah dikeluarkan untuk pindahan ke Sleman dan sewa kos.
Training pertama di hari itu berlangsung hingga pukul 14.00 WIB saja. Setelah dijelaskan jobdesc secara rinci, saya kemudian tandem kerja dengan pegawai lain yang lebih pengalaman. Saya diminta melihat langsung bagaimana proses kerjanya.
Tentu ada target yang harus dicapai. Dalam sehari, minimal harus ada sekian pengguna yang top-up ke level berikutnya. Semakin banyak yang top-up, maka makin besar juga bonus yang didapat. Info dari HR, rekor gaji tertinggi yang pernah diraih pegawai di sini ada di angka Rp19 juta.
Baca juga Tak Semua Orang di Aplikasi Kencan Online, Cari Teman Tidur Semalam.
Love scamming yang mengerikan
Angka itu menggiurkan, tapi terasa berat setelah melihat langsung bagaimana sistem kerjanya. Tiap pegawai dipersenjatai sebuah laptop yang digunakan untuk mengakses room chat di aplikasi kencan tersebut. Mereka juga sudah dibekali dengan sejumlah identitas palsu wanita seksi yang digunakan untuk memancing para pengguna.
Dalam waktu bersamaan, seorang pegawai bisa menghubungi hingga belasan pengguna sekaligus. Masing-masing menggunakan identitas palsu yang berlainan. Saya tidak habis pikir siapa wanita-wanita ini sebenarnya yang foto dan videonya digunakan. Dan, apakah pihak perusahaan mendapat data-data ini secara etis atau tidak.
Kegiatan memancing pengguna pria di aplikasi kencan juga tampak menjijikkan. Pesan teks yang berisi rayuan sudah jadi hal biasa. Bahkan ada satu pegawai yang dilabeli “jagonya sexting” karena sanggup memancing banyak pengguna berbekal pesan teks berbau seksual.
Ngerinya, aplikasi love scamming tersebut juga menunjukkan lokasi penggunanya. Hal ini dimanfaatkan oleh para pegawai untuk berpura-pura bahwa wanita seksi yang mengajak ngobrol berada di dekat si pengguna. Ajakan untuk bertemu sudah umum dijadikan salah satu pancingan agar pengguna mau top-up. Di titik ini, saya tidak hanya merasa kasihan pada wanita-wanita yang foto dan videonya digunakan tanpa izin, tapi juga pada para pengguna pria yang ditipu habis-habisan.
Ketika sesi training hari itu berakhir, saya pulang ke kosan dengan linglung. Di satu sisi saya butuh pekerjaan, tapi di sisi lain saya tahu ini pekerjaan ini yang bertentangan dengan nurani. Akhirnya, setelah percakapan panjang dengan seorang teman yang saya percaya, saya putuskan untuk tidak melanjutkan training pada keesokan harinya.
Beberapa orang tidak punya pilihan lain
Ada satu komentar di akun kantor love scamming Sleman yang membekas. Tulisannya, “Bisa-bisanya pakai hijab, tapi kerja di kantor scam!” Saya jadi teringat dengan diri saya sendiri yang saat mendaftar ke sana juga berhijab. Walau tidak bisa dibenarkan, saya bisa sedikit memahami pekerja di kantor love scamming Sleman yang mungkin tidak punya pilihan lain, apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini.
Di negara ini, lowongan kerja sangat terbatas untuk usia di atas 30 tahun seperti saya. Saat ada perusahaan yang masih mau membuka lowongan dan mempekerjakan orang-orang di rentang usia tersebut, tentu saya tidak pikir panjang untuk memasukkan lamaran dan menerima tawarannya.
Bukan hanya batasan usia, besaran gaji juga mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Salah satu alasan saya sempat berpikir untuk melanjutkan training dan bertahan adalah nominal pendapatan yang dijanjikan. Itu mengapa saya bisa memahami kalau ada beberapa orang yang sulit mundur dan tetap terlibat penipuan berkedok love scamming. Walau sekali lagi, keputusan ini tak bisa dibenarkan juga.
Penuntasan kasus sindikat love scamming internasional di Sleman ini saya harap tidak berhenti hanya di tahap 6 orang petinggi kantor ditetapkan sebagai tersangka, tapi juga penyediaan lapangan kerja yang layak sehingga tidak ada lagi yang berpikir untuk menjadikan love scamming sebagai ladang cuan.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Pertama Kali Mencoba Dating App Bumble: Dapat Pasangan sih, tapi Zonk.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















