Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
21 Januari 2026
A A
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam dunia pendidikan Indonesia, guru honorer hidup di bawah bayang-bayang dua istilah yang menentukan arah masa depan mereka, PPG dan Dapodik. Keduanya kerap disebut sebagai instrumen peningkatan mutu dan penataan data.

Tetapi bagi guru honorer, yang terjadi tidak (sesederhana) seperti itu. PPG dan Dapodik lebih terasa sebagai gerbang sempit yang menentukan hidup dan mati status profesional mereka. Masuk berarti ada harapan. Sedangkan tertutup, berarti masa depan kembali kabur atau malah tidak ada sama sekali.

PPG diposisikan sebagai jalan resmi menuju pengakuan profesional guru. Sementara Dapodik menjadi basis data yang memvalidasi eksistensi seorang pendidik di mata negara. Ketika dua sistem ini disatukan, lahirlah satu kombinasi yang sangat menentukan, sekaligus menimbulkan keresahan berkepanjangan.

Dapodik yang tidak ramah realitas lapangan

Secara konsep, Dapodik berfungsi sebagai pusat data pendidikan nasional. Namun dalam praktiknya, sistem ini sering kali jauh dari realitas yang dihadapi guru honorer. Dapodik hanya mengenal angka, jam mengajar, dan status administrasi. Ia tidak membaca cerita pengabdian, tidak menghitung lamanya guru bertahan di sekolah terpencil, dan tidak mencatat kondisi darurat kekurangan tenaga pendidik.

Banyak guru honorer yang sudah lama mengajar justru terhambat hanya karena jam mengajarnya dianggap tidak linier atau status sekolahnya bermasalah. Kesalahan kecil dalam penginputan data bisa berdampak besar dan sulit diperbaiki. Di titik ini, Dapodik bukan lagi alat bantu, melainkan penentu yang kaku dan dingin.

PPG yang menjadi simbol harapan sekaligus tekanan

PPG selalu dibicarakan sebagai tiket emas menuju kesejahteraan dan pengakuan. Lulus PPG berarti satu langkah lebih dekat pada sertifikasi dan status yang lebih layak. Namun di balik itu, PPG juga menjadi sumber tekanan psikologis bagi guru honorer.

Seleksi yang ketat, kuota terbatas, dan persaingan nasional membuat banyak honorer merasa peluangnya sangat kecil. Bagi sebagian guru, PPG bukan lagi soal peningkatan kompetensi, tetapi soal bertahan dalam sistem yang penuh persyaratan administratif. Ketika tidak lolos, kekecewaan terasa berlapis karena kegagalan sering kali bukan disebabkan kemampuan mengajar.

Ketika PPG terkunci oleh Dapodik

Masalah terbesar muncul saat PPG sepenuhnya bergantung pada Dapodik. Tanpa data yang sempurna dan sesuai aturan, guru honorer otomatis tersingkir dari proses PPG. Nama boleh ada, tetapi jika jam tidak cukup atau tidak linier, sistem menolak tanpa kompromi.

Baca Juga:

Hanya karena Sudah Ada PPG, Tidak Berarti Jurusan Pendidikan Lantas Dihapus, Logika Macam Apa Itu?

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

Kondisi ini membuat nasib honorer terasa ditentukan oleh mesin, bukan oleh manusia. Pengabdian bertahun-tahun bisa runtuh hanya karena satu kolom data tidak memenuhi syarat. PPG yang seharusnya menjadi ruang pembinaan berubah menjadi arena seleksi yang keras.

BACA JUGA: Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah

Beban psikologis guru honorer

Kombinasi PPG dan Dapodik menciptakan tekanan mental yang serius. Guru honorer tidak hanya mengajar, tetapi juga terus-menerus waspada terhadap perubahan sistem. Setiap pembaruan data memicu kecemasan baru. Takut nama hilang, takut status berubah, dan takut peluang PPG lenyap begitu saja.

Tekanan ini perlahan menggerus semangat mengajar. Fokus guru terpecah antara tanggung jawab di kelas dan urusan administratif yang tak ada habisnya. Pendidikan yang seharusnya berpusat pada murid justru dikalahkan oleh ketakutan terhadap sistem.

Kebijakan yang berubah tanpa transisi manusiawi

Keresahan semakin dalam ketika kebijakan sering berubah secara mendadak. Aturan linieritas diperketat, syarat jam mengajar dinaikkan, dan kriteria peserta PPG diperbarui tanpa mempertimbangkan kesiapan lapangan. Guru honorer dipaksa beradaptasi cepat, sementara kondisi sekolah sering kali tidak mendukung.

Di banyak daerah, keterbatasan guru membuat honorer harus mengajar di luar bidangnya. Namun ketika aturan berubah, kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk menggugurkan mereka. Sistem seolah menuntut kesempurnaan di tengah keterbatasan nyata.

BACA JUGA: Sisi Gelap Jadi Guru Honorer yang Tidak Diketahui Banyak Orang

PPG dan Dapodik sebagai sumber keresahan berkepanjangan guru honorer

PPG dan Dapodik juga memperlebar jurang ketimpangan. Sekolah besar di perkotaan cenderung lebih siap secara administrasi dan infrastruktur. Sekolah di perkotaan bisa dikatakan lebih unggul. Sekolah-sekolah di perkotaan bisa dikatakan penguasa dalam hal ini.

Sementara sekolah kecil di daerah terpencil sering tertinggal dalam urusan data. Akses internet yang terbatas dan minimnya operator terlatih membuat data honorer rawan bermasalah. Akibatnya, guru honorer di daerah menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka bukan hanya berjuang mendidik. Akan tetapi juga melawan sistem yang tidak berpihak pada keterbatasan mereka.

Pada akhirnya, PPG dan Dapodik memang dibutuhkan sebagai alat standarisasi dan pendataan. Namun ketika keduanya menjadi penentu tunggal tanpa ruang empati, keresahan akan terus tumbuh. Bagi guru honorer, combo maut ini bukan sekadar sistem, melainkan simbol ketidakpastian masa depan.

Selama PPG dan Dapodik masih berjalan dengan logika kaku dan minim pemahaman lapangan, guru honorer akan terus berada dalam posisi rapuh. Mereka tetap mengajar, tetap mengabdi, sambil menunggu nasib yang ditentukan oleh layar dan data, bukan oleh dedikasi yang mereka berikan setiap hari di ruang kelas.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Alasan Guru Honorer Muda Masih Bertahan dengan Pekerjaannya meski Gajinya Kelewat Rata dengan Tanah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: cara daftar PPGcara masuk dapodikdapodikgaji guru honorerGuru HonorerPPG
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

jurusan pendidikan

Jangan-Jangan Jurusan Pendidikan Cuma Dijadiin Hiasan Doang di Kampus

30 Juli 2019
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Selamat Hari Guru untuk para Guru Honorer Bergaji 200 Ribu, Tenang, Masa Depan Masih Belum Terlihat Cerah

25 November 2024
sarjana pendidikan guru nasihat kiai mengajar Jangan Jadi Guru Kalau Baperan, kecuali Hatimu Sanggup Legawa PPG

PPG Akan Selalu Dianggap sebagai Formalitas Belaka jika Kesejahteraan Guru Masih Menyedihkan

4 September 2020
Bajingan! Gaji Guru Honorer Jauh di Bawah Tukang Parkir Liar! (Unsplash) finlandia sekolah swasta

Bagaimana Bisa Gaji Guru Honorer Jauh Lebih Rendah dari Tukang Parkir Liar? Mau Mencerdaskan Kehidupan Bangsa kok Harus Sengsara

2 April 2024
Guru SD Cuma Manusia Biasa tapi Dituntut Serba Bisa. Jangan Menaruh Ekspektasi Berlebihan pada Kami

Kalau Mau Cari Uang Jangan Jadi Guru, Terus Mereka Mau Makan Apa? Tenaga Dalam?

7 September 2025
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes Mojok.co

Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes

4 Mei 2026
Klaten Tulang Punggung dan Masa Depan Dapur Indonesia

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

1 Mei 2026
Beli Hyundai Atoz Lebih Masuk Akal daripada Karimun Kotak yang Overpriced Mojok.co

Beli Hyundai Atoz Lebih Masuk Akal daripada Karimun Kotak yang Overpriced

4 Mei 2026
Temanggung yang Terkenal Nyaman Malah Bikin Orang Jombang Nggak Betah Mojok.co

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

30 April 2026
IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja
  • Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani
  • Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik
  • Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa
  • Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental
  • Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.