Kecamatan Trowulan Mojokerto ibarat kamu yang memberi banyak hal dan kenyamanan kepada gebetan, tapi tidak pernah dianggap. Sama dengan Kecamatan Trowulan, ia menawarkan banyak hal yang bermanfaat, tapi sering kali dilupakan karena kalah tenar sama Kecamatan Pacet dan Trawas.
Saya saja baru tahu nama Trowulan saat semester 5 dari kekasih saya. Kebetulan, dia lahir dan besar di sana. Saya juga ingat ketika kuliah, teman-teman saya pas lagi sumpek, jalan-jalannya kalau ke Mojokerto selalu ke Pacet dan Trawas. Tidak pernah sekalipun ada yang menyebut nama Trowulan sebagai tempat buat menghibur diri.
Padahal fun fact-nya, Kecamatan Trowulan punya desa yang mendapat anugerah Desa Wisata, yakni Desa Bejijong. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyematkan Desa Wisata kepada Bejijong di tahun 2021.
Kecamatan Trowulan redup dibanding kecamatan lain di Mojokerto
Saya tidak tahu pasti alasan kenapa Kecamatan Trowulan kalah redup menjadi tempat wisata di Mojokerto. Tetapi sejauh pengamatan saya melalui media sosial, pemerintah daerah kurang masif memasarkan wisata di kecamatan ini. Padahal di zaman sekarang, anak-anak muda pergi ke suatu tempat karena melihat informasi dulu di media sosial.
Tambah lagi dengan banyaknya content creator yang lebih banyak ngonten tentang keindahan wisata di Trawas dan Pacet. Para content creator seperti meromantisisasi tentang ketenangan hidup saat berada di Pacet dan Trawas.
Padahal selama saya pergi ke dua daerah itu, nggak yang tenang banget. Mau ke kafe, kafenya mahal dan ramai. Mau ke tempat wisata, tempatnya ramai dan kadang kotor. Apalagi perjalanan ke sana susah diakses karena tidak terjangkau oleh transportasi umum.
Namun, beda cerita dengan Trowulan Mojokerto. Berlibur ke Trowulan bukan permasalahan yang sulit bagi kalian yang tidak punya kendaraan pribadi. Sebab, bisa diakses oleh kereta api. Dengan menaiki kereta api, kalian bisa turun di stasiun Kota Mojokerto atau Stasiun Peterongan. Nantinya, dari stasiun bisa ke Trowulan dengan menggunakan ojek online. Perjalanan dari stasiun kurang lebih memakan waktu 15 menit.
Atau kalau mau lebih ekonomis, bisa menggunakan bus dengan tarif 15 ribu. Bagi saya, bus merupakan transportasi umum yang tidak ribet karena nantinya langsung turun perempatan Trowulan.
Lebih nyaman untuk berlibur
Kenyamanan lain berlibur di Trowulan Mojokerto adalah daerah ini punya banyak tempat menginap yang nyaman dan murah. Soalnya hampir setiap rumah di Trowulan memiliki rumah Majapahit. Kata kekasih saya, biaya menginap di rumah Majapahit berkisar 100 ribu per malam. Tamu sudah mendapatkan kasur yang empuk dan kamar mandi dalam.
Beda cerita kalau berlibur di Trawas dan Pacet. Di sana, kebanyakan penyewaan villa yang harus disewa satu rumah. Biaya penyewaannya yang saya tahu, berkisar 700 ribu per malam. Itu pun villa yang biasa saja. Jadi tidak recomended kalau solo traveling atau liburan sedikit orang karena bikin dompet ketar-ketir.
Sedangkan kalau berlibur ke Trowulan, budget 100 ribu sudah bisa tidur dengan nyaman. Menariknya lagi, menginap di rumah Majapahit bukan sekadar rebahan. Lebih dari itu, tamu seperti dibawa “terlempar” ke masa kehidupan kerajaan. Seperti namanya, rumah Majapahit punya arsitektur dan interior kerajaan Majapahit.
Kenapa kok identik dengan kerajaan Majapahit? Sebab, dulunya kawasan Trowulan Mojokerto merupakan pusat kerajaan Majapahit. Jadi kalau kalian berlibur ke Trowulan akan ditawarkan dengan berbagai tempat bersejarah kerajaan Majapahit.
Wisata sejarah yang menarik
Salah satu tempat yang ramai dikunjungi orang saat ke Trowulan Mojokerto adalah kolam Segaran, kolam peninggalan kerajaan Majapahit. Kekasih saya bercerita kalau kolam ini dulunya digunakan oleh kerajaan Majapahit sebagai tempat rekreasi dan menyambut para tamu. Uniknya, di kolam Segaran, airnya tidak pernah keruh dan punya banyak ikan. Mitos yang saya dapatkan dari kekasih, konon, di Segaran tersimpan emas kerajaan Majapahit.
Di kolam Segaran, pengunjung tidak hanya mendapatkan wawasan sejarah, tapi juga bisa bersantai menatap hamparan air dan pegunungan Pacet ditemani angin-angin sepoi. Pengunjung juga bisa menikmati makanan khas sana, yakni nasi belut dan wader karena di seberang kolam Segaran banyak warung yang menjualnya.
Tempat wisata lain di Trowulan Mojokerto yang ramai dikunjungi adalah Maha Vihara Majapahit. Di Maha Vihara Majapahit terdapat patung Buddha tidur berwarna emas. FYI, patung Buddha tidur di Maha Vihara Majapahit merupakan salah satu patung Buddha terbesar di Indonesia dengan panjang 22,5 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter.
Saat memasuki Maha Vihara Majapahit pertama kali, saya merasa kagum. Warna emas pada patung Buddha tidur, memberi kesan mewah. Selain kagum, saya merasakan kedamaian. Kedamaian itu terbentuk karena tempatnya yang rapi dan teduh. Ditambah lagi menjadi tempat ibadah sehingga menyimpan energi positif di dalamnya.
Selain itu, di Maha Vihara Majapahit, kita bisa belajar arti toleransi. Soalnya, meski menjadi tempat peribadatan Buddha, banyak warga muslim di sekitar yang mendapatkan sumber rezeki dari keberadaan Maha Vihara Majapahit. Terus, menurut kekasih saya, setiap ada hari besar Buddha, pengurus vihara berbagi dengan masyarakat sekitar, seperti sembako atau cek kesehatan gratis.
Wisata budaya juga ada di sini
Sebenarnya, ada tempat sejarah lain di Desa Bejijong yang bisa didatangi, seperti petilasan Raden Wijaya, Candi Brahu, Candi Tikus, Museum Majapahit, dan banyak yang lainnya. Tempat-tempat itu bisa bikin informasi kalian tentang Majapahit bertambah.
Selain bisa menikmati wisata sejarah, di Trowulan juga bisa menikmati wisata budaya. Soalnya di Trowulan, tepatnya di Desa Bejijong, menjadi pusat kerajinan kuningan. Kerajinan kuningan dari Bejijong sudah melalang buana di daerah Bali dan Lombok. Bisa jadi, kalau kalian liburan ke Bali, beli kuningan patung Buddha adalah hasil tangan orang Bejijong.
Wisatawan bisa belajar tentang seputar kerajinan kuningan di rumah produksi. Bukan hanya belajar tentang membuat patung kuningan, kalian juga bisa belajar membuat batik Majapahit.
Berlibur ke Trowulan Mojokerto tak hanya bikin tenang, tapi juga menambah wawasan
Jadi, dengan berlibur ke Trowulan, bukan hanya bikin kepala tenang, tapi juga menambah isi kepala. Terus dijamin tidak bakalan stres mikirin masalah asupan makan. Soalnya, kawasan desa di Trowulan mudah mencari makanan karena banyak UMKM yang menjajakan makanan. Apalagi kalau malam hari, yang menjual makanan tambah banyak.
Beda halnya kalau berlibur di Pacet dan Trawas. Selama liburan ke sana, saya sulit menemukan kulineran kalau sudah masuk ke dalam desanya, kecuali ke luar desanya. Tapi kalau di luar desanya, ramai dengan suara kendaraan.
Tinggal memilih saja, kalau ingin ikut popularitas “masyarakat kerumunan” media sosial, Pacet dan Trawas pilihannya. Kalau mau nambah isi kepala dan menyepikan diri, Trowulan Mojokerto jawabannya. Tapi, bukankah liburan yang bisa bikin upgrade diri, menjadi liburan berfaedah?
Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Alasan Orang Surabaya Lebih Sering Healing Kilat ke Mojokerto daripada ke Malang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















