Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Stereotip Buruk Anak OSIS yang Jujur, Emang Ada Benernya

Aly Reza oleh Aly Reza
14 April 2020
A A
stereotip anak osis menyebalkan memang benar mojok

stereotip anak osis menyebalkan memang benar mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Pagi ini sambil memilah-milah baju-baju yang nggak kepakai lagi, iseng-iseng saya membongkar album foto lama yang terselip di antara tumpukan dalam lemari. Ada sekitar 4 album besar, terdiri dari album pernikahan orang tua dan potret mereka semasa masih lajang, album foto saya pribadi dari lahir sampai TK, terus ada juga foto keluarga dan penampakan rumah kami tempo dulu.

Namun saya lebih tertarik dengan satu album yang sebenarnya isinya cukup acak, Setelah saya balik dari satu ke lain halaman, beberapa adalah dokumentasi bertema pendidikan saya. Ada foto saat saya mengikuti lomba pidato SD tingkat kecamatan dan kabupaten, foto lomba hadroh, foto bareng kawan-kawan madrasah tsanawiyah, dan yang paling mencuri perhatian adalah foto ketika masih menjadi pengurus OSIS di SMA.

Saya cengar-cengir sendiri mengawasi muka saya yang sok serius, sok cool, sok keren, ah dan mungkin sekian banyak sok-sok yang lain. Saya akhirnya menyadari bahwa apa yang dulu pernah dilontarkan beberapa kawan tentang saya adalah benar adanya.

“Mentang-mentang jadi OSIS, sok-sokan!” begitu satu di antara sekian ungkapan yang sering saya terima selama dua tahun nimbrung di kepengurusan OSIS. Nggak jarang juga ada yang bilang kalau sedang mengenakan jas almamater OSIS, lagak saya udah mulai songong dan ngeselin. Ampun dah.

Beda dengan dulu, kali ini saya nggak akan bikin pernyataan macem-macem buat ngebelain idealisme saya. Sebab ternyata kalau saya perhatiin dari foto saya ini, omongan kawan-kawan betul juga, kok. Seandainya bukan saya, sudah saya tampol tuh orang dalam foto heuheuheu.

Sekarang mungkin saatnya mengakui beberapa stereotip negatif terhadap anak OSIS sebenarnya nggak meleset-meleset amat. Atau bisa dibilang semuanya tepat sasaran. Cuma emang dulu kami saja yang naif dan nggak mau mengakui. Gengsi lah, Buooosss. Kalimat andalan kalau sudah kena serangan, paling mentok ya bilang, “Kalau nggak ada OSIS, siapa yang mau meng-handle acara? Kami itu berkorban demi sekolahan!” Hilih kintil, ngiming ipi sih.

Nah, berikut adalah stereotip tentang anak OSIS yang harus diakui.

Stereotip anak OSIS #1 Jadi OSIS buat gaya-gayaan

Masa SMA yang masa pencarian jati diri bikin nggak sedikit anak berlomba-lomba nunjukin siapa sebenernya dia. Ada banyak medium yang bisa ditempuh untuk urusan yang satu ini. Jadilah nakal misalnya, Anda pun akan dikenal di seantero sekolahan,

Baca Juga:

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Tapi menjadi anak OSIS tentu beda lagi sensasinya. Dengan berdiri di jajaran pengurus OSIS, Anda akan kelihatan lebih disegani. Karena seolah OSIS adalah tangan kanan pejabat sekolah. Ya iya dong, wong namanya saja Organisasi Intra Sekolah. Eh apa hubungannya anjiiirrr.

Cermati saja polah tingkah anak OSIS di sekitar Anda. Pasti ada beberapa yang kalau jalan petentang-petenteng, lagaknya udah kayak orang paling penting se-Galaksi Bimasakti. Lebih-lebih kalau udah pakai jas kebanggaan, wuuuhhh songongnya amit-amit dah.

Saya jadi keinget dulu pernah sama beberapa anak OSIS mendamprat salah satu siswa yang bikin ujaran, “Masuk OSIS buat majuin program sekolah? Dobolll. Jadi anak OSIS itu cuma buat gaya aja, biar ke mana-mana bisa pakai jas kesayangan.”

Waktu itu saya menjadi orang paling tersinggung karena ngerasa segala pengorbanan OSIS selama bikin event-event buat sekolah kayak-kayak nggak dihargai sama sekali. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, ternyata iya juga sih. Pokoknya dulu itu biar kelihatan keren aja di depan orang-orang, lebih-lebih adik kelas. Ini penting buat peningkatan jumlah follower. Adapun urusan event, sepertinya nggak pantes juga dijadiin dalih buat mengklaim kalau anak OSIS udah berkorban banyak. Itu mah bukan pengorbanan, emang konsekuensinya kayak gitu, kok.

Stereotip anak OSIS #2 Jadi OSIS biar ada alasan bolos pelajaran

Saya inget banget dulu saya atau kawan saya sesama OSIS pasti kalap kalau tahu ada yang gibahin kami yang jarang di kelas karena alasan rapat atau prepare acara. Ada juga yang nyindir secara terang-terangan sih.

Tiap kali kami bikin surat izin meninggalkan kelas dengan stempel OSIS, satu atau dua pasti ada yang berseloroh, “Halah, alasan aja tuh biar nggak pelajaran.” Kami jelas tersinggung dan pastinya bakal murka, “Dasar nggak tahu diuntung. Kami ini rela ninggalin pelajaran demi apa? Demi kesukseskan acara sekolah kita tahu!”

Sungguh pernyataan apologis yang rasa-rasanya kok sangat memalukan. Meski memang ada beberapa izin yang bener-bener untuk kebutuhan acara, tapi akui saja, persentese izin yang murni buat prepare acara pasti jaul lebih sedikit dibanding izin yang dibuat-buat. Padahal rapat atau prepare-nya bisa dicukupkan di luar jam pelajaran. Tapi nggak tahu enak aja gitu kalau motong jam kelas. Apalagi kalau di jam yang gurunya nggak asik, ah merdeka rasanya~

Dan ini yang paling parah nih. Kadang malah nggak ada acara apa pun, cuma karena bosen dan males di kelas akhirnya bikin surat sendiri biar bisa ke kantor OSIS. Kalau nggak tidur-tiduran sambil main hape ya main PES di laptop yang tersedia di kantor.

Stereotip anak OSIS #3 Jadi OSIS biar punya pacar sesama pengurus

Meski sudah disepakati kalau dalam satu tubuh organisasi haram hukumnya saling cinta, tampaknya itu komitmen semu aja. Larangan ini lahir sebagai upaya untuk menjaga profesionalitas selama menjalankan organisasi. Tapi yang namanya perasaan, ditahan sakit, diloske kok nyalahin aturan.

Akhirnya bikinlah dalih baru, sesama pengurus OSIS boleh kok pacaran, asalkan hubungan mereka nggak kebawa sampai organisasi aja. Alhasil, ada lah beberapa yang kemudian menjalin tali kasih dengan sesama pengurus. Dan usut punya usut—terutama yang dari para cowok—pikiran tersebut sudah terpatri jauh-jauh hari sebelum dirinya resmi diterima. “Kayaknya pacaran sama sesama pengurus asik juga.”

Stereotip anak OSIS #4 Suka bikin razia padahal anak OSIS sendiri sering ngelanggar aturan

Kalau seandainya ada satu kata yang pas buat menggambarkan sosok anak OSIS, mungkin “nggatheli” adalah pilihan tepat.

Pasalnya begini. Anak OSIS itu kan sering bikin sidak. Dari mulai razia hape, kosmetik, rokok, sama hal-hal yang menurut aturan nggak boleh dibawa ke sekolahan. Kalau dicecar dengan pertanyaan, “Kalian kok tega sih sama temen sendiri?” Jawaban apologisnya pasti, “Tega nggak tega, ini kan upaya menegakkan aturan sekolah.”

Hassshhh sekarang mengaku saja wahai anak-anak OSIS di seluruh pelosok tanah air. Kalian sendiri sebenernya juga bawa hape, kosmetik, rokok, palu, arit, eh yang dua terakhir ini nggak ding. Cuma karena kebetulan kalian yang bikin acara, ya seolah-olah aja kalian nggak bawa barang-barang tersebut. Saya bocorin nih, hape atau rokoknya anak OSIS pas musim sidak begitu kalau nggak ditaruh di lemari kantor paling-paling ya sengaja nggak dibawa. Main aman, Bro, urusannya sama nama baik je.

Mungkin, itu empat dari sekian stereotip minor terhadap anak OSIS yang sebenarnya fakta dan harus diakui. Suka atau tidak. Untuk kawan-kawan OSIS lainnya yang ingin bikin pengakuan serupa, bisa lanjutkan tulisan ini di kolom komentar~

BACA JUGA Pemerintah Nerima Sumbangan Dana dari TikTok Padahal Dulu Sudah Ngeblok, Eh dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2020 oleh

Tags: osissmastereotip
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Hilangnya 9 Besi Penutup Got di Bangkalan Menegaskan kalau Orang Madura Memang Tak Layak Dibela

Hilangnya 9 Besi Penutup Got di Bangkalan Menegaskan kalau Orang Madura Memang Tak Layak Dibela

2 Agustus 2024
orang timur

Berbicara dengan Logat Timur yang Langsung Disangka Papua

27 Juni 2019
Suka Duka Menjadi Orang Jampang Sukabumi, Daerah Paling Berbahaya di Tanah Sunda karena Jadi Pusat Praktik Ilmu Hitam

Suka Duka Menjadi Orang Jampang Sukabumi, Daerah Paling Berbahaya di Tanah Sunda karena Jadi Pusat Praktik Ilmu Hitam

26 Januari 2024
Kalau Istilah 'Kampungan' Artinya Udik, Kenapa Nggak Ada Istilah 'Kotaan' yang Artinya Tamak? terminal mojok.co

Kalau Istilah ‘Kampungan’ Artinya Udik, Kenapa Nggak Ada Istilah ‘Kotaan’ yang Artinya Tamak?

16 Februari 2021
Karang Taruna Bangkalan, Bikin Ketuanya Merasa Gagal (Unsplash)

Karang Taruna, Satu-satunya Organisasi di Bangkalan yang Bikin Ketuanya Merasa Gagal Jadi Pemimpin

13 Februari 2024
Jangan Salah, Jadi Orang Humoris Nggak Seenak yang Terlihat di Internet Terminal Mojok

Jangan Salah, Jadi Orang Humoris Nggak Seenak yang Terlihat di Internet

6 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Tapi Tumbal Orang Tua (Pexels)

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi “Bakti Anak” yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung

27 Januari 2026
4 Tips Berburu Diskon Pakai ShopeeFood Deals biar Tetap Kenyang Tanpa Merasa Ditipu

4 Tips Berburu Diskon Pakai ShopeeFood Deals biar Tetap Kenyang Tanpa Merasa Ditipu

27 Januari 2026
4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain Mojok.co

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain

27 Januari 2026
4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Mahasiswa Kupu-Kupu Jangan Minder, Kalian Justru Lebih Realistis daripada Aktivis Kampus yang Sibuk Rapat Sampai Lupa Skripsi dan Lulus Jadi Pengangguran Terselubung

27 Januari 2026
Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026
Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat Mojok.co

Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat

27 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.