Jangan Salah, Jadi Orang Humoris Nggak Seenak yang Terlihat di Internet – Terminal Mojok

Jangan Salah, Jadi Orang Humoris Nggak Seenak yang Terlihat di Internet

Artikel

Stereotip orang humoris yang selama ini beredar di internet adalah orang yang seru dan dikelilingi oleh banyak teman. Selain itu, orang humoris juga sering kali dibandingkan dengan orang yang memiliki wajah ganteng atau cantik sampai-sampai muncul kalimat: orang ganteng/cantik bakal kalah sama orang yang humoris. Reaksi saya setelah mendengar kalimat tersebut kurang lebih begini, “Alah jancuk, aku lucu tapi jelek tetep aja kalah ngelawan orang yang ganteng tapi nggak lucu kalau masalah pergebetan duniawi!”

Bisa saja sih saya ngaku humoris, tapi kesimpulannya memang begitu setelah banyak teman yang berpendapat bahwa saya orang yang humoris. Lagi pula berdasarkan sudut pandang yang saya miliki, saya memang sering membuat orang tertawa. Bagi saya, membuat orang tertawa adalah kepuasan sendiri lantaran membuat orang lain senang dan mengekspresikannya dalam bentuk tawa. Apalagi kalau tawa darimu, Dek~

Jangan salah, walaupun orang humoris punya stereotip yang sangat positif di internet dan kehadirannya sering kali membawa energi, jadi orang humoris nggak se-menyenangkan itu, Bro! Karena ada beberapa hal tertentu yang susah dilakukan kalau kalian menjadi orang humoris.

Pertama, kalian bakalan sulit untuk bicara serius. Orang humoris memang senang ngelawak dan kesannya selalu ceria, tapi pasti ada dong saat di mana orang butuh bicara serius. Pengalaman yang saya alami sendiri adalah ketika saya mencoba ngomong serius akan suatu hal, pasti ada saja yang mancing-mancing buat ngelawak. Sebagai contoh, baru ngomong beberapa kalimat serius, pasti ada yang menimpali pembicaraan dengan plesetan-plesetan yang memancing saya bikin lawakan dadakan.

Baca Juga:  Keresahan Radiografer yang Suka Dikatain Mandul dan Profesinya Nggak Ada di KBBI

Mungkin untuk beberapa momen sih nggak masalah, karena hal semacam itu bisa digunakan buat mencairkan suasana. Tapi mbok ya lihat-lihat dulu topik bahasan yang sedang dibicarakan. Kalau memang pas lagi serius-seriusnya kayak bahas proker organisasi atau evaluasi event, masak disuruh ngelawak juga? Kalau sudah selesai bahas topik serius, boleh dah ngelawak samping kupingmu sampai bosen.

Kedua, terbeban buat selalu lucu. Walaupun teman-teman nggak pernah nuntut buat selalu lucu, pasti ada saja rasa pengin bikin suasana selalu ramai. Ketika nggak lucu, pasti ada rasa nggak puas dan kecewa sama diri sendiri. Mungkin kesannya lebay, tapi serius deh bisa menghibur orang di sekitar kita tuh seperti ada kesenangan tersendiri.

Alhasil, saya pribadi sering kali merasa terbeban dan berpikir gimana caranya bikin suasana jadi pecah dan itu biasanya saya lakukan sebelum kumpul, nongkrong, atau main bareng. Sebelum datang, biasanya saya mikir dulu kayak apa topik dan lawakan yang bisa diceritakan ke teman-teman. Padahal, teman-teman nggak ada yang minta saya melakukan itu semua.

Ketiga, nggak bisa marah. Orang humoris sebenarnya juga bukan orang yang nggak bisa kesal. Tapi, orang-orang memang berekspektasi kita bukanlah orang yang gampang baperan. Saya pun sebenarnya nggak segampang itu kesal sama orang, tapi sebagai manusia biasa pasti ada juga hari di mana memang lagi capek dan semua nggak berjalan mulus. Mungkin hari-hari sebelumnya nggak masalah misalnya saat diisengin, tapi kalau diisengin pas hari lagi buruk bakal susah juga buat nahan kesal.

Baca Juga:  Jika Pennywise, Si Badut Film It, Nyasar ke Bandung

Mau marah, nanti dikira marah bohongan. Apalagi wajah yang saya miliki memang benar-benar nggak cocok kalau marah. Tipe wajah yang sudah lucu dari sananya ditambah mimik marah bukan jadi seram, malah nggateli. Jadi, niat awal yang sebelumnya marah akhirnya nggak kesampaian. Akhirnya cuma bisa pasrah akan takdir bahwa diri ini memang nggak cocok marah-marah.

Keempat, lebih menyimpan masalah pribadi yang dimiliki. Semua orang pasti punya masalahnya sendiri dan semua orang juga punya caranya masing-masing untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saya sendiri merasa bahwa saya nggak perlu berbagi kesedihan ke orang lain lantaran sebelumnya saya selalu berbagi kebahagiaan. Rasanya sungkan untuk menceritakan hal yang nggak biasanya orang humoris lakukan, yaitu cerita sedih.

Berdasarkan pengalaman, saya memang selalu punya banyak teman sejak SMP, SMA, dan kuliah. Tapi, saya nggak pernah menceritakan satu pun masalah yang saya miliki ke teman saya dan lebih memilih untuk menceritakan hal-hal lucu saja kepada mereka. Bukan salah mereka juga sih karena saya sendiri juga sungkan buat cerita ke orang lain, dan merasa saya bisa menyelesaikan permasalahan tersebut tanpa mengganggu orang lain.

Mungkin beberapa hal tersebut sudah bisa membuktikan bahwa orang humoris yang dipuja-puja di internet sebenarnya manusia biasa juga. Jadi, buat kalian yang merasa ganteng, nggak usah ngambil lapak kami dengan menjadi orang lucu segala. Kalau kalian jadi orang ganteng dan lucu kan menghalangi jodoh orang-orang lucu yang nggak ganteng seperti saya. Plis ya, jangan maruk~

Baca Juga:  Pilih Menikah atau Melajang?

BACA JUGA Kelakuan Norak Alumnus Sekolah Saat Datang ke Mantan Sekolahannya dan tulisan Muhammad Iqbal Habiburrohim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.