Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini!

Wahyu Tri Utami oleh Wahyu Tri Utami
15 Agustus 2025
A A
Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini!

Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini! (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, linimasa Instagram saya seperti jadi brosur wisata. Muncul foto sawah Banyumas berkabut, kopi tubruk di gelas enamel, ibu-ibu nyapu teras sambil senyum, plus caption “Slow living di kampung bikin mental sehat.” Masalahnya, yang upload ini bukan orang Banyumas.

Kebanyakan mereka orang kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya yang merasa hidupnya tercekik KPI kantor dan harga apartemen, lalu memutuskan “menemukan diri” di Banyumas. Mereka datang dengan rencana hidup damai. Bangun jam 6, bersepeda di jalan desa, ngopi, lalu belanja di pasar sambil menyapa ibu-ibu. Semuanya terdengar manis.

Sayangnya, realitas Banyumas hari ini sudah jauh dari kartu pos nostalgia itu.

Banyumas makin sesak dan mahal

Pertama-tama, mari saya kabarkan satu rahasia yang jarang dibocorkan di vlog-vlog slow living itu. Banyumas, utamanya di Purwokerto dan sekitarnya, sekarang sering macet. Iya, macet. Jalan Jenderal Sudirman di jam-jam tertentu bisa bikin kamu mikir kalau kamu lagi ada di Ring Road Jogja.

Pasar Wage di hari legi? Sukses bikin motor dan mobil antre kayak mau bagi-bagi sembako. Jadi, kalau cita-cita slow living kalian itu mengendarai motor dengan angin pagi menyapa rambut, siap-siaplah anginnya ganti jadi asap knalpot Avanza dan suara klakson.

Kedua, harga-harga sudah mulai ngotot naik. Kos-kosan di sekitar kampus dulu Rp300 ribu sudah dapat kamar plus jendela. Sekarang? Harganya naik dua kali lipat untuk kamar seukuran kardus Indomie!

Rumah tapak? Harga tanah di Banyumas sudah kayak mau bikin kavling di pinggiran Bekasi. Semua karena pasar melihat “Banyumas potensial” buat orang kota yang mau pindah. Nahasnya, warga lokal yang penghasilannya UMR Banyumas (sekitar Rp2 jutaan) mau beli rumah di tanah leluhur sendiri malah ngos-ngosan.

Tren pensiun di Banyumas sudah seharusnya berhenti

Yang bikin miris, tren slow living ini menginspirasi banyak orang kota buat pensiun di Banyumas. Oke, dari kacamata mereka, ini masuk akal. Setelah puluhan tahun kerja keras di Jakarta, punya rumah dengan halaman dan pohon mangga di Banyumas terdengar menyenangkan. Tetapi dari sudut pandang orang Banyumas asli, mereka kayak lagi mudik Lebaran. Mau makan tempe mendoan di rumah nenek, eh sampai sana rumahnya sudah dibeli orang lain, diubah jadi guest house yang Instagrammable.

Baca Juga:

Sidoarjo Mengajarkan Saya untuk Melambat dan Lebih Menikmati Hidup

6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto agar Makin Nikmat

Banyak warga lokal yang merantau karena UMR Banyumas rendah. Kerja di Jakarta, Batam, bahkan luar negeri, dengan satu mimpi: pensiun di kampung halaman, dekat keluarga, sambil nyruput teh panas di pagi hari. Tapi begitu mereka pulang, kampungnya sudah padat pendatang yang termakan konten “hidup pelan-pelan di Banyumas”.

Mau nyari rumah? Mahal. Mau nyari tanah? Harus kalah tawar sama orang kota yang bawa duit hasil jual apartemen di Jakarta. Akhirnya, orang Banyumas asli terpaksa pensiun di pinggiran yang lebih jauh lagi alias slow living versi upgrade: slow ke dompet juga.

Konsep slow living yang salah kaprah

Yang saya heran, konsep slow living ini kok kayak eksklusif, ya? Di vlog, yang slow living itu selalu orang berduit, ngopi di kafe berdesain rustic, kerja remote dengan laptop 20 jutaan. Sementara warga lokal slow living karena memang cuma ada dua bus per jam, gaji pas-pasan, dan mau makan di luar mikir tiga kali. Slow-nya beda kelas.

Banyumas, apalagi Purwokerto, sekarang juga bukan lagi kota yang “terlalu sepi” seperti cerita-cerita yang digaungkan 10 tahun lalu. Mall sudah ada, coffee shop menjamur di mana-mana, ojek online lalu-lalang. Pendatang dari kota besar makin banyak, membawa selera dan harga dari kota asal.

Dan, jujur saja, daya dukung kota ini untuk menampung penduduk baru terbatas. Air bersih, transportasi publik, bahkan lahan parkir sudah ngos-ngosan.

Pikir-pikir sebelum slow living di sini

Jadi, buat para content creator yang masih rajin upload “slow living di Banyumas” dengan musik lo-fi dan suara ayam jago di latar, saya mohon, rem sedikit. Apalagi kalau tiap caption diakhiri dengan “Harus coba deh pindah ke sini.”

Banyumas bukan Bali yang dari dulu memang orientasi ekonominya ke wisatawan dan pendatang. Di sini, ruang hidup warga lokal bisa tergeser kalau arus pendatang terlalu deras.

Kalau kalian memang mau pindah ke Banyumas, silakan, tapi pahami konsekuensinya. Harga tanah naik, jalan makin ramai, dan warga asli bisa terdesak. Jangan datang dengan ekspektasi kampung ini museum hidup yang disiapkan untuk healing kalian.

Dan untuk kalian yang masih di kota besar, kalau mau slow living, cobalah dulu di kota sendiri. Bangun pagi, matikan push notification, belanja di pasar dekat rumah, nongkrong di warung kopi pinggir jalan.

Slow living itu bukan pindah alamat, tapi pindah mindset. Karena kalau mindset-nya tetap FOMO, di Banyumas pun nanti kalian bakal nyari mall, co-working space, dan event tiap minggu. Slow living apa mall living?

Jadi, berhentilah menyuruh slow living di Banyumas. Kami sudah cukup pelan. Yang perlu kalian pelankan adalah keinginan memindahkan gaya hidup kalian ke kampung orang lain, lalu menyebutnya healing.

Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Banyumas, Sebaik-baiknya Tempat Pensiun untuk Mereka yang Bercita-cita Memiliki Rumah Impian dan Slow Living.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2025 oleh

Tags: banyumaskabupaten banyumaspensiunpurwokertoslow livingtempat pensiuntempat pensiun ideal
Wahyu Tri Utami

Wahyu Tri Utami

Pembaca buku, penonton film, penulis konten. Sesekali jadi penyelam andal (di internet, bukan di air).

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing (Unsplash)

Sisi Gelap dari Kemiripan Nama Purwokerto dan Purwakarta yang Bikin Pusing

19 Januari 2026
6 Mendoan Paling Enak di Barlingmascakeb

6 Mendoan Paling Enak di Barlingmascakeb

7 Januari 2022
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua

13 Oktober 2024
Menyebut Tempe Goreng Tepung sebagai Tempe Mendoan, Seburuk-buruknya Penghinaan! terminal mojok.co

Mendoan Itu Harus Lemes, Bukan Garing!

15 Agustus 2021
Purwokerto yang Dipuja Itu Ternyata Bukan Kota Sempurna (Pexels)

Purwokerto yang Dipuja Itu Ternyata Bukan Kota Sempurna. Masih ada 3 Masalah yang Mulai Jadi Gunung

5 Februari 2025
Dusun Nampu Grobogan, Tempat Slow Living Terbaik. Hidup Dijamin Lebih Tenang dan Hemat di Sana  Mojok.co

Dusun Nampu Grobogan, Tempat Slow Living Terbaik. Hidup Dijamin Lebih Tenang dan Hemat di Sana 

27 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

29 Januari 2026
Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan Mojok.co

5 Kebohongan Malang yang Perlu Sedikit Diluruskan

25 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.