Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Punya Berewok Ternyata Sering Bikin Orang Lain Salah Sangka

Atanasius Rony Fernandez oleh Atanasius Rony Fernandez
4 April 2020
A A
Memiliki Berewok Ternyata Sering Bikin Orang Lain Salah Sangka
Share on FacebookShare on Twitter

Berewok yang tumbuh di dagu dan pipi para lelaki sering diartikan sebagai simbol kegagahan. Tingkat kelelakian seseorang terasa meningkat jika memiliki berewok, apalagi jika memiliki wajah rupawan semacam Chris Hemsworth—pemeran tokoh Thor di film Avenger. Namun, apa daya jika wajahmu pas-pasan dan bulat karena kelebihan lemak di badan. Apalagi jika ditambah kamu sosok pemalas yang tak gemar merapikan berewok, bukannya dicap gagah, malah orang lain sering salah sangka melihatmu.

Saya seperti itu: gemuk, berwajah bulat, dan malas merapikan berewok. Pernah suatu hari saya berkunjung ke ruang kerja seorang dekan fakultas Kedokteran di kampus negeri. Saya datang ke sana untuk mewawancarainya. Saat itu bulan puasa. Pertanyaan basa-basi yang muncul di setiap bulan puasa adalah menanyakan apakah lawan bicara kita sedang berpuasa saat itu.

Si dekan menanyakan hal itu kepada saya, padahal saya beragama Katolik.

“Bagaimana, puasa?” tanyanya sembari tersenyum seusai kami berjabat tangan.

Saya kebingungan menjawabnya. Saya diam sejenak. Bukan karena keimanan saya goyah, saya hanya tidak ingin jawaban saya membuat percakapan kami menjadi kurang nyaman di menit-menit berikutnya.

“Hmm… tidak, Pak,” jawab saya.

Si dekan itu diam terpaku. Sebentar, saya tidak pandai mendeskripsikan suasana. Namun, saat itu dekan itu benar-benar terdiam dan sedikit melongo dalam waktu sekitar tiga detik. Ia menatap saya lekat-lekat, seakan ia tidak percaya saya adalah sosok manusia yang berdiri di hadapannya.

“Oh iya maaf, soalnya itu berewokan, saya kira Islam,” katanya sambil menunjuk dagu saya.

Baca Juga:

Masyarakat Hanya Fokus pada Stereotip Madura karena Kasus di Bangkalan, tapi Mereka Lupa Madura Juga Punya Sumenep yang Elegan nan Menawan

Betapa Menyedihkannya Anggapan Orang Tua tentang Jurusan Sosiologi: Diprediksi Jadi Pengangguran dan Dianggap Rendah

Ternyata si dekan itu menganggap saya beragama Islam karena memelihara berewok. Saya sebenarnya tidak ada masalah dengan hal itu. Hanya saja, memiliki berewok ternyata bikin orang salah sangka dan saya sering menghadapi kesalahpahaman semacam itu.

Banyak orang memang kerap tertipu dengan penampilan luar seseorang. Saya pernah membaca berita ada seorang pria berjanggut yang disangka sebagai teroris kemudian diamankan. Saya membaca sekilas berita itu, lantas ketika menuliskan tulisan ini mencoba mencari di mesin pencarian Google dengan kalimat kunci pria berjenggot dikira teroris, dan hasilnya banyak berita serupa dari berbagai daerah selama beberapa tahun terakhir. Hal itu semacam pembuktian bahwa orang sering kali salah sangka dengan orang yang memiliki berewok.

Tidak hanya itu, seseorang seperti saya dengan wajah pas-pasan, berbadan tambun, dan berewok yang tidak terpotong dengan rapi kerap membuat orang lain mencap sebagai sosok mengerikan yang bisa kapan saja melakukan tindak kejahatan. Beberapa kali saya berjumpa dengan situasi yang rada kikuk. Pernah suatu kali saya mengantre membeli ayam KFC, saat itu ada mbak-mbak mengantre di depan saya. Pada suatu momen ia menoleh ke belakang dan melihat wajah saya. Dengan seketika mbak itu mendekap tas tangannya. Seakan-akan saya ini seorang pengutil yang membuntutinya.

Selain itu, saya beberapa kali menghadapi situasi dibuntuti satpam ketika berbelanja di supermarket. Pada suatu hari, saya masuk di salah satu supermarket di kota saya. Saya berjalan dari satu rak ke rak lain mencari barang yang saya cari. Lalu saya melihat satpam supermarket ini membuntuti saya. Kemudian saya berhenti, satpam itu terlihat kaget. Langsung saja saya seolah-olah mendatangi satpam itu, dan dia salah tingkah dengan berpura-pura memegang barang yang dipajang di rak.

Orang memandang saya ini sosok menyeramkan dengan berewok berantakan yang menghiasi wajah. Citra seram dan serius itu dipertebal dengan sikap saya yang tidak terlalu pandai bergaul alias introvert, sehingga jadi lebih sering diam dan kesannya dingin. Padahal aslinya saya ini ya biasa saja, malah rada mudah baper, baca komik Naruto pada bagian Jiraiya tewas di tangan Pain bisa membuat saya menitikkan air mata.

Teman saya seorang penyair perempuan, Ilda Karwayu juga pernah mengira seorang penyair Mario F. Lawi yang memiliki berewok sebagai sosok serius. Nyatanya, menurut Ilda Karwayu justru Mario F. Lawi hadir sebagai laki-laki berewok bersuara biasa saja—cenderung ceria, cukup ramah, dan lucu. Saya tautkan saja tulisan teman saya itu di sini.

Saya jadi rada iri sama para lelaki dengan komposisi wajah ideal tetap terlihat tampan dan tidak menimbulkan pandangan negatif dengan berewoknya. Salah satu pemain sepak bola Lionel Messi memelihara berewok dan itu membuatnya terlihat lebih dewasa dan bersahaja. Aktor Ryan Reynols juga demikian, pemeran Deadpool ini malah terlihat makin tampan dengan berewoknya.

Begitulah, orang lain memang kerap memandang seseorang hanya dari penampilan. Stigma yang melekat di tengah masyarakat bahwa seorang yang memiliki berewok dan bertampang sangar memiliki niat kejahatan, juga tidak bisa disalahkan. Berewok memang membuat seorang lelaki jadi terlihat lebih dewasa—untuk tidak menyebut tua—dan serius. Cuma memang stigma itu kerap kali membuat risih, setidaknya bagi saya pribadi.

Kita memang sepertinya harus lebih jernih melihat penampilang orang lain. Wajah sangar dengan berewok tebal akibat tidak gemar merawat diri tidak melulu mencirikan seorang penjahat atau orang yang dingin dan tidak bersahabat. Toh para koruptor dengan julukan penjahat kelas kakap di negeri ini juga kerap kali tampil necis dengan dagu klimis dan kumis tercukur rapi dibalut jas harga selangit.

Intinya, menurut saya, orang akan melihat positif jika berewok menempel pada wajah yang tepat. Sedangkan orang akan salah sangka kalau berewok kita berantakan, apalagi kalau wajah kita kurang tampan alias jelek.

BACA JUGA Kalian yang Berwajah Boros, Mohon Bersabar atau tulisan Atanasius Rony Fernandez lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 April 2020 oleh

Tags: berewokKriminalstigmateroris
Atanasius Rony Fernandez

Atanasius Rony Fernandez

Jurnalis yang tinggal di Mataram, Lombok. Sesekali menulis karya sastra. Tertarik pada isu kesenian, sosial, dan kuliner. Penggemar AS Roma dan musik metal.

ArtikelTerkait

Santri pondok pesantren Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

Santri Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

23 Oktober 2023
Busur, Senjata Perang yang Jadi Sisi Gelap Kota Makassar

Busur, Senjata Perang yang Jadi Sisi Gelap Kota Makassar

18 Oktober 2022
Pati Bukan Sarang Penjahat dan Plat K Bukan Berarti Kriminal, Ada Sisi Baik yang Bisa Diapresiasi di Sini

Pati Bukan Sarang Penjahat dan Plat K Bukan Berarti Kriminal, Ada Hal Baik yang Bisa Diapresiasi di Sini

31 Agustus 2024
figur publik konferensi pers permintaan maaf kasus mojok

Publik Figur Minta Maaf karena Terjerat Kasus Itu Nggak Perlu Dilakukan

11 Juli 2021
Yamaha RX King: Awalnya Benci, Lama-lama Cinta Mati

Yamaha RX King: Awalnya Benci, Lama-lama Cinta Mati

13 Oktober 2022
Kenapa Kalian Begitu Benci dengan si Ranking Satu? Kalian Masih Cemburu?

Kenapa Kalian Begitu Benci dengan si Ranking Satu? Kalian Masih Cemburu?

5 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.