Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kuliah Susah, Bayarnya Mahal, Pas Lulus Jadi Tukang Pijat

Kamarul Arifin oleh Kamarul Arifin
23 Maret 2020
A A
Kuliah Susah, Bayarnya Mahal, Pas Lulus Jadi Tukang Pijat

Kuliah Susah, Bayarnya Mahal, Pas Lulus Jadi Tukang Pijat

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih asing dengan kata Fisioterapi. Mungkin juga sebagian besar pembaca Mojok ketika mendengar kata Fisioterapi masih menebak-nebak apa itu? Oke, saya jelaskan dulu. Fisioterapi adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan/atau kelompok, untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan gerak-fungsi tubuh manusia sepanjang daur kehidupan (Peraturan Menteri Kesehatan, No. 80, 2013).

Objek forma Fisioterapi adalah aktivitas manusia yang berkaitan dengan gerak dan fungsi. Jadi tidak hanya asal bisa bergerak tetapi juga harus bisa berfungsi dengan baik. Ribet banget yah, definisinya? Masih bingung? Oke, gampangnya kalo kamu ada permasalahan dengan otot, tulang, sendi, itulah tugas fisioterapis untuk memperbaiki. Tapi, tugas fisioterapi gak cuma itu yah.

Salah satu bidang Fisioterapi yang sedang hits adalah Fisioterapi olahraga. Kalau kalian nonton sepak bola dan ada pemain cedera, kemudian ada orang yang berlari dan masuk lapangan, nah itu salah satunya adalah fisioterapis. Loh yang satu lagi siapa? Biasanya adalah dokter spesialis olahraga. Ingat yah, ini hanya salah satu bidang Fisioterapi, masih ada Fisioterapi Pediatri, Fisioterapi Geriatri, Fisioterapi Neuromuskular, dll.

Fisioterapi olahraga mulai dikenal di Indonesia saat AFF 2010. Karena saat itu Fisioterapis Timnas (Mathias Ibo) yang memiliki wajah bule, menerapkan teknik pemulihan fisik berupa ice bath, lumayan disorot media. Komentator di televisi juga mulai menyebut Fisioterapis bukan Tim Medis lagi sejak Liga 1 2019. Hal ini karena mulai kompetisi 2019 PSSI mewajibkan setiap Tim untuk memiliki seorang Fisioterapis.

Nah, sudah punya gambaran dong tentang Fisioterapi. Kalo dilihat sejarahnya Fisoterapi ini merupakan salah satu profesi yang heroik. Karena lahirnya Fisioterapi di Indonesia bermula saat zaman perang, yaitu ketika agresi militer Belanda. Melihat banyaknya korban perang yang mengalami penurunan gerak-fungsi tubuhnya bahkan sampai kehilangan anggota tubuhnya, maka Prof. Dr. Soeharso yang merupakan dokter orthopedi mendirikan pusat rehabilitasi.

Kemudian pada tahun 1957 berdirilah sekolah Asisten Fisioterapi pertama yang terletak di Surakarta. Setelah itu pada tahun 1970 baru berdiri Akedemi Fisioterapi di Solo. Hal ini yang menyebabkan masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta lebih familiar dan paham tentang profesi Fisioterapi. Berbeda dengan masyarakat Jawa Timur atau daerah yang lebih pelosok lagi. Di Kota Malang, hanya ada satu institusi yang memiliki Program Studi Fisoterapi.

Pada perkembangannya Program Studi Fisoterapi memiliki beberapa tingkatan. Dimulai dari D3 Fsioterapi, D4 Fisioterapi (namun sudah banyak dihapus), dan S1 Fisioterapi, serta yang terbaru adalah Profesi Fisioterapi (semacam Ners, Apoteker, dll). Namun, perkembangan pendidikan Fisoterapi tidak seindah statistiknya. Terutama saat diterbitkannya PMK No.80, 2013.

Inti dari PMK No.80, 2013 adalah Fisioterapis yang bisa melakukan praktik baik di Rumah sakit maupun praktik mandiri harus mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi). Masalahnya dimana? Bagi lulusan S1 Fisioterapi tidak bisa langsung mengikuti ujian untuk mendapat STR mereka harus melanjutkan Pendidikan Profesi Fisioterapi. Lah, terus kenapa? Masalahnya pada saat itu hanya ada 2 institusi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan Profesi Fisioterapi.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Tahun 2013, saya masih mahasiswa baru saat itu. PMK No.80, 2013 merupakan isu yang sedang panas dibicarakan oleh Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia, dimana saya tergabung di dalamnya. Benar saja, ketika saya lulus tahun 2017 kampus tempat saya kuliah belum menyelengarakan Pendidikan Profesi Fisioterapi. Kampus saya baru berhasil menyelengarakan Pendidikan Profesi Fisioterapi tahun 2019.

Bagaimana dengan kampus lain? Kurang lebih sama, walaupun beberapa telah menyelengarakan 1-2 tahun lebih cepat. Bagaimana nasib Mahasiswanya? Kalian bisa menalar sendiri. Kami yang kuliahnya susah harus menghafal anatomi (otot, saraf, tulang, vaskularisasi, dll) lulus dengan nasib tidak jelas. Seolah-olah membenarkan ejekan Mahasiswa jurusan lain bahwa kami adalah Tukang Pijat berijazah atau Tukang Pijat berdasi.

Selain bercandaan dari Mahasiswa jurusan lain. Banyak juga masyarakat termasuk Mahasiswa yang memang benar-benar tidak tahu tentang Fisioterapi. Fisioterapi menggunakan modalitas fisik, mekanis, dan terapi manual. Nah, ketika seorang Fisioterapis menggunakan terapi manual banyak orang menganggap atau menyamakan hal itu dengan Tukang Pijat Tradisonal.

Padahal terapi manual yang dilakukan oleh Fisioterapis prinsipnya bebeda dengan Tukang Pijat Tradisional ataupun Pijat Refleksi. Meskipun, pijat merupakan salah satu teknik didalam terapi manual. Akan tetapi, stigma yang terbentuk dimasyarakat seolah-olah mahasiswa fisioterapi adalah Tukan Pijat yang sekolah. Padahal biaya kuliah kami lumayan mahal walau tidak semahal Kedokteran.

Apa saja sih yang bisa ditangani Fisioterapi? Semua yang berkaitan dengan gerak dan fungsi. Mulai yang paling sederhana, misal salah tidur (tengeng), keseleo (sprain), kaku leher yang bisanya menyebabkan pusing, nyeri punggung, dan masih banyak lagi. Untuk yang lumayan parah misal rehabilitasi pasca operasi (patah tulang, caesar, dll), pasca stroke (membantu pasien untuk bisa beraktifitas mandiri).

Bahkan, Fisioterapi juga bisa menangani permasalahan pada bayi dan anak-anak atau yang dikenal dengan Fisioterapi Pediatri. Semisal, baby massage, down syndrome, cerebral palsy, dll. Jadi kalo ketemu Mahasiswa Fisioterapi atau lulusan Fisioterapi, jangan bilang,”aku pegel-pegel nih, pijitin dong.” Karena kami bukan Tukang Pijat. Kami kuliahnya susah, bayarnya mahal, masak lulus jadi Tukang Pijat.

Oh, iya Fisoterapi kerjanya di mana yah? Fisioterapi bisa kerja di Rumah Sakit atau Klinik. Bahkan, bagi lulusan S1 + Profesi bisa membuka praktek mandiri. Bagi yang minat Fisioterapi Olahraga bisa gabung di klub, misal klub sepak bola, basket, futsal, ataupun olahraga lainnya. Nah, untuk yang ingin jadi akademisi peluang sangat besar, namun masih ada beberapa masalah berkaitan dengan peraturan. Karena sampai saat artikel ini ditulis S2 Fisioterapi belum ada di Indonesia.

BACA JUGA Dokter Spesialis dan Garis Besar Kasus yang Mereka Tangani Bagian 1 atau tulisan Kamarul Arifin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2020 oleh

Tags: fisioterapijurusan kuliahMahasiswastereotip jurusan kuliah
Kamarul Arifin

Kamarul Arifin

Home Brewer yang pernah menempuh pendidikan fisioterapi dan psikologi.

ArtikelTerkait

#PolisiSesuaiProsedur smackdown

Ironi #PolisiSesuaiProsedur: Kemarin (Berusaha) Romantis, Sekarang? Nilai Sendiri

14 Oktober 2021
ikut seminar

Ikut Seminar Bukan buat Dapat Ilmu tapi buat Dapat Snack, Makan, dan Sertifikat

23 Juni 2020
mahasiswa indonesia di mesir universitas al azhar kairo mojok.co

5 Fakta ‘Nggak-nggak’ tentang Mahasiswa Indonesia di Mesir

12 Juli 2020
Divisi Acara Pantas Dinobatkan sebagai Kasta Tertinggi dalam Kepanitiaan organisasi kampus terminal mojok.co

Mahasiswa Mengamen buat Danus Itu Bunuh Rezeki Orang Lain

28 September 2021
sastra inggris mojok

3 Pandangan Umum yang Keliru tentang Jurusan Sastra Inggris

9 Juli 2020
sastra cina jurusan kuliah mojok

Mematahkan Stereotip Mahasiswa Jurusan Sastra Cina

14 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.