Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

RUU Ketahanan Keluarga Bikin Mimpi Buruh Upah UMK untuk Nikah Ambyar

Aliurridha oleh Aliurridha
25 Februari 2020
A A
konflik keluarga Apa yang Harus Kita Lakukan jika Orang Tua Nikah Lagi Setelah Bercerai? terminal mojok.co

Apa yang Harus Kita Lakukan jika Orang Tua Nikah Lagi Setelah Bercerai? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Beredarnya draf RUU Ketahanan Keluarga yang mewajibkan keluarga memiliki ruang tidur yang tetap dan terpisah antara orang tua dan anak, serta terpisah antara anak laki-laki dan anak perempuan membuat para buruh upah UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten) mikir ribuan kali untuk nikah.

RUU ini selain membuat ranjang rakyat jadi mainan elite, juga bikin mimpi buruh upah UMK untuk nikah ambyar. Bagaimana tidak? Dalam RUU Ketahanan Keluaga ada syarat khusus untuk tempat tinggal yang dikategorikan layak huni. Semua itu diatur dalam rincian Pasal 33 Ayat (2) yang berbunyi: Tempat tinggal yang layak huni sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a memiliki karakteristik antara lain:

ADVERTISEMENT
  1. memiliki sirkulasi udara, pencahayaan, dan sanitasi air yang baik;
  2. memiliki ruang tidur yang tetap dan terpisah antara Orang Tua dan Anak serta terpisah antara Anak laki-laki dan Anak perempuan;
  3. ketersediaan kamar mandi dan jamban yang sehat, tertutup, dapat dikunci, serta aman dari kejahatan seksual.

Atau kamu juga bisa selengkapnya di sini.

Jika kita melihat dari perspektif masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah kelas pekerja dengan gaji UMK atau sedikit di atas UMK maka memiliki tempat tinggal yang layak huni sesuai RUU Ketahanan Keluarga adalah sebuah mimpi di siang bolong. Belum lagi masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dengan upah di bawah UMK.

Sebagai contoh buruh di Kota Mataram memiliki UMK Rp2.184.385 yang tentu saja tidak semua mendapatkan upah seperti itu. Dosen tetap non PNS di kampus negeri di Mataram yang merupakan ibu kota NTB saja hanya mendapat gaji pokok Rp1,8 Juta. Memang sih ini di luar tunjangan tapi tentu saja ini masih di bawah UMK Kota Mataram.

Jika dosen yang dikategorikan sebagai profesi elite saja masih memiliki gaji pokok di bawah UMK, bagaimana dengan jenis pekerjaan lain? Bagaimana dengan dosen kontrak di kampus swasta, guru-guru honor, buruh pabrik, penjaga toko, yang sudah barang tentu memiliki gaji pokok di bawah itu. Belum lagi yang di luar kota Mataram seperti di kabupaten pasti memiliki upah yang lebih rendah. Jika seperti itu bahkan untuk bermimpi memiliki rumah bertipe 45 mereka tidak akan berani. Kenapa harus rumah tipe 45?

Rumah dengan tipe 45 adalah rumah yang paling kecil yang bisa dibangun tiga kamar agar sesuai dengan kriteria RUU Ketahanan Keluarga jika pasangan berencana memiliki dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Harga untuk rumah tipe 45 dengan tiga kamar berkisar 400-600 juta untuk kota Mataram dan sekitar. Itu pun sudah dipaksakan seminimalis mungkin.

Bagi sepasang kekasih dengan upah UMK memiliki rumah tipe 45 dengan tiga kamar sudah seperti ngayal. Bisa saja dipaksakan untuk kredit yang mungkin butuh waktu di atas 20 tahun, itu pun jika kedua orang tua bekerja ditambah kerja sampingan ini itu. Namun jika kedua orang tua bekerja anak mau dititipkan di mana? Full day school yang biayanya bikin buruh upah UMK gigit jari. Apalagi jika ditambah dengan kebutuhan sehari-hari, belum bayar kreditan motor, perlengkapan rumah, sembako, pendidikan anak yang terus naik dari tahun ke tahun, rasanya semua mimpi untuk nikah itu ambyar seketika.

Baca Juga:

Kalau kamu pekerja dengan gaji UMK dua juta rupiah, masa depan cerah itu hanyalah bualan sampah

4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur

Biaya pendidikan anak adalah ketakutan yang paling nyata bagi setiap calon orang tua dengan upah UMK. Apalagi dengan hadirnya berbagai sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan ala nabi tapi biayanya Abu Jahal. Kesemuanya itu membuat buruh upah UMK seolah-olah tidak pantas hidup di negara yang secara konstitusional menjanjikan kesejahteraan untuk rakyat tapi Undang-Undang yang dirancang lebih memanjakan korporasi ketimbang kelas pekerja.

Mungkin solusi yang bisa ditempuh buruh upah UMK yang masih menggebu-gebu menunaikan ibadah paling nikmat tanpa takut digrebek Satpol PP atau politisi cari panggung adalah memilih untuk menunda punya anak dan mengkredit rumah bersubsidi. Rumah bersubsidi bisa jadi solusi karena hanya rumah bersubsidi yang sesuai dengan kantong para buruh upah UMK.

Semua itu menjadi masalah karena rumah-rumah bersubsidi ini adalah rumah tipe 21 yang hanya memiliki satu kamar tidur yang mana kalau ada tamu saja mereka sudah tak enak hati mau ditempatkan di mana. Bagaimana mau punya tempat tinggal layak huni di mana anak tidur terpisah dari orang tua serta anak laki-laki yang tidur terpisah sesuai dengan ketentuan RUU Ketahanan Keluarga.

Jadi tidak salah jika ada yang mengatakan RUU Ketahanan Keluarga bikin mimpi buruh upah UMK untuk menikah ambyar seketika.

BACA JUGA Katanya Mau Mengentaskan Kemiskinan, kok Malah Ngurusin Soal Nikah? atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2020 oleh

Tags: gaji UMKNikahRUU Ketahanan KeluargaTempat Tinggal
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Karawang, Sebaik-baiknya Tempat Tinggal dan Investasi TKI

Karawang, Dulu Lumbung Padi Kini Kota Industri: Kota yang Semakin Ideal untuk Menetap dan Berinvestasi

23 September 2023
Bukan Purwodadi, Tempat Tinggal Terbaik di Grobogan Adalah Kecamatan Wirosari

Bukan Purwodadi, Tempat Tinggal Terbaik di Grobogan Adalah Kecamatan Wirosari

13 Februari 2024
Rekomendasi Tempat Tinggal bagi Mahasiswa Prasejahtera terminal mojok

Rekomendasi Tempat Tinggal bagi Mahasiswa Prasejahtera

17 Juni 2021
Tanda Kalian Nggak Cocok Tinggal di Wonosobo, Pikir Dua Kali Sebelum Tinggal di Sini Mojok.co

Tanda Kalian Nggak Cocok Tinggal di Wonosobo, Pikir Dua Kali Sebelum Tinggal di Sini

22 Juli 2024
Upah Minimum Jogja Memang Naik, tapi Bukan Berarti Buruh Nggak Boleh Protes, Ini Bukan Perkara Upah Semata, Bolo! UMP Jogja, gaji Jogja, frugal living ump jogja yogyakarta, bandung

Jogja Tak Seburuk Itu, dan Kota Ini Memang Pantas untuk Dicintai secara Brutal

9 Februari 2024
3 Tempat Wisata Kabupaten Semarang yang Jarang Dikunjungi Warga Lokal: Mahalnya Harga Tiket Tak Terjangkau UMK Kabupaten

3 Tempat Wisata Kabupaten Semarang yang Jarang Dikunjungi Warga Lokal: Mahalnya Harga Tiket Tak Terjangkau UMK

7 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Nasional Purworejo vs Kulon Progo Ketimpangannya Begitu Terasa: Dalam Hitungan Meter, Dunia Begitu Berbeda

Purworejo, kota yang menyambutmu bukan dengan gapura selamat datang, tapi dengan jalan berlubang

5 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?

7 Agustus 2026
Takut ke Puskesmas karena malas hadepin antrean panjang (Unsplash)

Pergi ke Puskesmas itu tidak menakutkan, yang menakutkan menghadapi antrean panjang dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa

10 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.