Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Sudah Bekerja Keras dan Punya Jabatan Tinggi, Pekerja Ini Tetap Sulit Merasa Aman dari Brutalnya Layoff, Akhirnya Stres dan Nothing to Lose

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
12 April 2024
A A
Layoff yang Brutal Bikin Stres Pekerja meski Jabatan Tinggi (Unsplash)

Layoff yang Brutal Bikin Stres Pekerja meski Jabatan Tinggi (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Fenomena layoff yang terjadi belakangan di banyak perusahaan membikin banyak pekerja ketar-ketir. Beberapa rekan saya merasakan sensasi nggak nyaman tersebut dan memutuskan curhat kepada saya. Katanya, sih, untuk menemukan ketenangan sekaligus solusi.

Sulit memungkiri bahwa sampai saat ini, layoff terjadi di mana-mana secara serampangan. Terlalu brutal. Nggak kenal skala perusahaan, lini bisnis bergerak di bidang apa, posisi dan jabatanmu apa, sebaik apapun kinerjamu, jika sudah apes, bisa terkena layoff.

Overthinking karena ancaman layoff yang brutal

Rekan saya, sebut saja Tono, saat ini sudah bekerja di perusahaan fintech ternama sekira 3 tahun. Awal mula dia pikir bekerja di perusahaan berbasis keuangan akan stabil dan aman dari desas-desus layoff. Realitasnya, tidak sama sekali. Satu per satu, rekan kerjanya mulai terkena layoff secara bertahap sejak 2 tahun lalu hingga sekarang.

Kenyataan yang nggak menyenangkan tersebut membikin dia overthinking, nggak merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Malah, seringnya jadi hilang fokus.

“Saya jadi nggak fokus, Mas. Bawaannya jadi nothing to lose. Karena setelah dipikir-pikir, mau capai atau nggak capai target, sama aja. Bakal kena cut juga, kan?” Curhat Tono kepada saya.

“Saya sambil cari kerja lagi juga, Mas. Kalau memang dapat penawaran lebih baik, nggak ada salahnya dicoba,” lanjut Tono.

Tono yang punya beberapa rekan di perusahaan kompetitor, sering dicurhati hal serupa. Sehingga, Tono memutuskan untuk mencoba peruntungan selain di perusahaan berbasis keuangan. Karena khawatir jatuh ke lubang yang sama.

Gonta-ganti profesi, tapi tetap nggak aman

Lain Tono, lain cerita Tini (nama samaran). Di waktu yang berbeda, Tini yang saat ini bekerja di perusahaan F&B merasakan kekhawatiran yang sama, tentang nasibnya yang rentan terkena layoff.

Baca Juga:

Batas Usia Kerja Nyata Menyiksa Pencari Kerja dengan Usia di Atas 30 Tahun Seperti yang Saya Rasakan

Proses Layoff Memang Nggak Pernah Mudah, Termasuk bagi para HRD dan Perusahaan

Tini mengeluh, perusahaan F&B yang konon dibutuhkan oleh banyak orang sehari-hari karena menyangkut soal kebutuhan paling utama (pangan, makan), nggak luput dari layoff.

“Bingung aku harus kerja di perusahaan apa lagi, Mas. Mas, kan, tahu sebelumnya aku sempat di perbankan, properti, terus sekarang F&B, isunya sama terus. Entah harus gimana ngadepinnya,” keluh Tini.

Inti dari keluhan Tono dan Tini, saya pikir, menjadi gambaran sedikit banyaknya suasana hati pekerja hari ini. Betapa isu layoff nyaris membikin para pekerja merasa ada di situasi yang nggak menentu.

Di sisi lain dan masih beririsan, melalui berbagai tulisan, cukup banyak yang mengulas bahwa hal tersebut berawal dari wabah Covid-19, kemudian berlanjut kepada fenomena tech winter. Bahkan, pengamat memperkirakan tech winter masih berlanjut hingga 2024 ini, meski tidak semasif tahun sebelumnya.

Efek tech winter

FYI, salah satu efek domino dari tech winter adalah, pekerja yang terkena layoff di perusahaan sebelumnya (umumnya start up/rintisan) dengan gaji besar, rela menurunkan nominal gaji saat melamar di perusahaan berikutnya. Alhasil, persaingan dalam menemukan pekerjaan akan semakin ketat.

Sebab, di satu sisi, perusahaan tidak ingin melewatkan peluang untuk merekrut pekerja yang sudah punya pengalaman. Sehingga, pelamar kerja dengan pengalaman nanggung, apalagi lulusan baru, suka atau tidak, menjadi kalah saing.

Ini yang menjadi benang merah situasi dilema yang dihadapi oleh Tono dan Tini. Mau tetap maju, tapi, ragu. Mau mundur teratur, tapi, di perusahaan baru, belum tentu bernasib mujur. Lantaran, benang layoff dan aman-nyaman dalam bekerja masih kusut.

Usaha Tono, Tini, mungkin juga pekerja lainnya, tidak ada yang salah. Mereka masih tetap bekerja, meski merasa nggak nyaman, sambil mencoba peruntungan lain.

Kebijakan perusahaan menjadi kunci

Jika tidak ingin kehilangan karyawan kepercayaan begitu saja, saya pikir, perusahaan juga mesti ambil langkah serta menurunkan ego. Saat ini, pemikiran, “Halah, yang mau kerja di perusahaan gue masih banyak,” bukan itu poin utamanya.

Sebab, merekrut orang baru, bisa jadi akan mengeluarkan cost yang lebih banyak. Belum lagi soal training, probation, adaptasi, pemahaman ruang lingkup kerja, dan lain sebagainya.

Paling mudah, sampaikan secara terbuka mengenai kondisi perusahaan. Apa misi yang akan dilakukan oleh perusahaan dalam periode tertentu. Lain dari itu, adanya sosialisasi mengenai benefit atau reward yang jelas, agar bisa menjadi motivasi tambahan bagi para pekerja. Setidaknya, bisa dijadikan pertimbangan untuk bertahan.

Terakhir, melalui verbatim curhatan ini, saya nggak bermaksud pesimis, bahwa siapa pun dari kita, pekerja di mana saja, pasti akan terkena layoff. Nggak, nggak seperti itu. 

Saya hanya ingin mengingatkan, potensi layoff, di mana saja Anda bekerja, akan selalu ada. Tapi, bagaimana kita sebagai pekerja merespons, mawas diri, serta menyiapkan rencana selanjutnya dalam menghadapi kenyataan tersebut, jauh lebih penting.

Penulis: Seto Wicaksono

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Proses Layoff Memang Nggak Pernah Mudah, Termasuk bagi para HRD dan Perusahaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 April 2024 oleh

Tags: cut offLayoffpemecatanprobation
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Proses Layoff Memang Nggak Pernah Mudah, Termasuk bagi para HRD dan Perusahaan Terminal Mojok.co

Proses Layoff Memang Nggak Pernah Mudah, Termasuk bagi para HRD dan Perusahaan

25 Mei 2022
Batas Usia Kerja Bunuh Masa Depan Pencari Kerja Usia 30 Tahun! (Unsplash)

Batas Usia Kerja Nyata Menyiksa Pencari Kerja dengan Usia di Atas 30 Tahun Seperti yang Saya Rasakan

19 Agustus 2024
pengangguran

Selamat Datang Iptu Triadi di Dunia Pengangguran yang Keras!

13 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026
Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan Mojok.co

Motor Keyless Memang Terlihat Canggih dan Keren, tapi Punya Sisi Merepotkan yang Bikin Pengendara Hilang Kepercayaan

19 Februari 2026
Lumpia Semarang Cerita Cinta yang Dibungkus Kulit Tipis (Wikimedia Commons)

Lumpia Semarang: Cerita Cinta Lelaki Tionghoa dan Perempuan Jawa yang Dibungkus Kulit Tipis

14 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Honda Brio, Korban Pabrikan Honda yang Agak Pelit (Unsplash)

Ketika Honda Pelit, Tidak Ada Pilihan Lain Selain Upgrade Sendiri karena Honda Brio Memang Layak Diperjuangkan Jadi Lebih Nyaman

16 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri
  • Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia
  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
  • Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.