Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Karang Taruna, Satu-satunya Organisasi di Bangkalan yang Bikin Ketuanya Merasa Gagal Jadi Pemimpin

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
13 Februari 2024
A A
Karang Taruna Bangkalan, Bikin Ketuanya Merasa Gagal (Unsplash)

Karang Taruna Bangkalan, Bikin Ketuanya Merasa Gagal (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya mantan ketua Karang Taruna di Bangkalan dan saya trauma memimpin organisasi yang sulitnya minta ampun ini.

Setiap organisasi selalu punya tantangannya masing-masing. Semua orang tahu itu. Dulu ketika SMA, saya ikut OSIS. Sulitnya ya menghadapi sesama anggota yang emosinya masih labil, pengetahuan yang masih sempit, serta persoalan teknis menjalankan acara.

Saat kuliah, saya pernah ikut Organisasi Mahasiswa Daerah (Ormada). Bukan hanya ikut, tapi saya sempat jadi ketua. Kesulitan di organisasi ini tak seremeh seperti di OSIS. Di Ormada, sebagai ketua, saya harus menyatukan banyak mahasiswa dengan jurusan berbeda. 

Selain itu, saya juga harus menyatukan mahasiswa yang kuliah di lokasi kampus yang berbeda, yaitu kampus Ketintang dan Lidah Wetan. Fyi, organisasi yang saya pimpin waktu itu adalah Forum Mahasiswa Unesa Bangkalan (Formasaba). Yaa, Unesa punya 2 kampus waktu itu, yaitu di Ketintang dan Lidah Wetan, Surabaya. 

Ini cukup menyulitkan untuk saya dalam melakukan koordinasi. Tapi saya tetap bisa menuntaskan estafet kepemimpinan selama satu periode. Selama itu pula cukup sukses memberikan gebrakan proker-proker baru. Jadi, nggak berlebihan kalau saya sangat bangga dengan jiwa kepemimpinan diri saya waktu itu. Cieelah.

Tapi semua rasa bangga itu runtuh ketika saya mulai memimpin organisasi kepemudaan bernama Karang Taruna di desa saya di Bangkalan.

Anggota Karang Taruna itu lintas usia

Kalau di OSIS dan Ormada, rata-rata usia anggota yang dipimpin hampir sama. Tapi kalau di Karang Taruna, kita harus berkoordinasi dengan anggota yang muda banget sampai ke yang usianya jauh di atas kita. 

Di Karang Taruna saya di Bangkalan, ada yang masih anak sekolah usia 16-18 tahun. Ada juga yang sudah berkeluarga dengan usia 27-35 tahun. Hal ini menjadikan proses diskusi dan penarikan kesimpulan dalam setiap rapat cukup sulit dipadukan. Ujung-ujung nya ya ikut yang paling senior.

Baca Juga:

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

Karena lintas usia, kesibukannya pun beragam. Ada yang sudah bekerja dan masih sekolah. Yang sudah bekerja pun jadwal kerjanya berbeda-beda. Sehingga, mencari waktu agar bisa berkumpul lengkap rasanya sangat sulit. Selama menjabat sebagai ketua, saya sering memimpin rapat yang hanya berisi 4-5 anggota saja. Ironis.

Selain harus berkoordinasi sesama anggota Karang Taruna, saya juga harus berkoordinasi dengan pihak desa dan sesepuh desa yang usianya jelas masuk golongan tua. Jujur, ini bagian tersulit, karena cara bicara serta ide program yang dijalankan harus sesuai tata krama mereka. Nggak sedikit juga sering berbenturan pendapat, karena berbeda visi dan tujuan dalam mengadakan kegiatan di desa saya di Bangkalan.

Pemahaman tentang organisasi di desa di Bangkalan yang masih rendah

Mengingat kalau Karang Taruna merupakan organisasi pemuda yang ada di desa, maka kualitas sumber daya manusianya pun masih tergolong rendah. Alhasil, wawasan dan pemahamannya tentang suatu organisasi masih sempit. Misalnya, masih banyak anggota atau masyarakat desa secara umum yang masih menganggap kalau Karang Taruna itu tugasnya ya hanya menyelenggarakan acara perayaan agustusan saja. Sisanya, vakum.

Pemahaman ini berdampak pada intensitas rapat dan diskusi program yang lain. Berdasarkan pengalaman saya, rapat Karang Taruna hanya akan ramai atau anggotanya lengkap kalau mulai masuk bulan Juli dan Agustus saja. Sebab, para anggota sadar akan ada pembahasan acara agustusan. Selain bulan Juli dan Agustus, jangan harap rapat dengan anggota lengkap. Ada yang datang rapat saja sudah syukur.

Padahal, peran Karang Taruna sebagai organisasi pemuda desa jauh lebih besar daripada sekadar mengadakan acara agustusan. Iyaa, perayaan agustusan itu penting, tapi programnya kan nggak hanya itu. Karang Taruna juga seharusnya berperan dalam meningkatkan SDM anak muda dengan cara melakukan aktivitas edukasi pengembangan diri. Dulu saya sempat mengadakan pelatihan public speaking untuk kawula muda di desa saya di Bangkalan, tapi hanya bertahan satu bulan. Sisanya sudah nggak ada yang mau datang.

Selain itu, Karang Taruna juga seharusnya berperan dalam membantu agenda-agenda desa. Sesekali juga perlu memberi saran dan ikut andil memajukan desa. Tapi keterbatasan anggota, membuat agenda-agenda tersebut tidak berjalan dengan baik. Saya sebagai ketua, tentu merasa gagal jadi pemimpin.

Anggaran tak menentu dan ancaman teguran yang nyata

Kalau di OSIS atau di organisasi kampus, anggaran biasanya tertata dan terjadwal dengan baik. Ada kejelasan anggaran yang dikucurkan untuk organisasi-organisasi sekolah atau kampus setiap tahunnya. 

Nah, hal ini tidak ada di Karang Taruna. Mungkin, beberapa orang mengatakan bahwa Karang Taruna itu harusnya dapat anggaran dari dana desa. Tapi pada kenyataannya, mewujudkan pencairan anggarannya itu cukup sulit. Kalau pernah cair, jumlahnya tidak pernah pasti. Alhasil, merancang program pun tak pernah sistematis, karena anggaran yang tak pasti.

Namun, dalam kasus anggaran ini saya rasa tak sepenuhnya kesalahan perangkat desa saya di Bangkalan. Sebab, kadang Karang Taruna sendiri juga tak bisa memaksimalkan anggaran yang ada. Misalnya, ketika saya menjadi ketua, punya sedikit anggaran, tapi anggotanya nggak ada. Hasilnya, banyak program yang nggak berjalan juga, karena minimnya anggota.

Ketika program nggak berjalan, teguran-teguran dari para sesepuh desa berdatangan. Siapa yang ditegur? Ya jelas ketuanya, lah. Ketuanya mau menegur siapa? Yaa nggak ada. Orang anggota saja nggak punya. Hahahahhaa. 

Susah lah intinya jadi ketua ini. Benar-benar menggambarkan definisi seorang pemimpin yang menderita dan ditimpa rasa bersalah karena kegagalannya.

Karang Taruna yang Nggak punya pengakuan administratif

Jarang sekali ada Karang Taruna yang terbentuk secara resmi. Salah satunya ya di desa saya di Bangkalan. Nggak ada pelantikan pengurus dan ketua, nggak ada dalam struktur mitra desa, dan nggak ada syarat-syarat yang khusus untuk jadi bagian di dalamnya. Semuanya dilakukan secara mengalir dan otodidak. 

Pihak desa juga kadang tak terlalu peduli. Sehingga, siapa saja bisa sewaktu-waktu bergabung jadi anggota, sewaktu-waktu pula bisa keluar seenak jidat. Miris. Karena itu, Karang Taruna jadi kurang dihargai dan nggak punya kebanggaan apa-apa.

Jadi menurut saya, organisasi yang paling sulit untuk dipimpin adalah Karang Taruna. Kalau ada orang yang jadi ketua dan berhasil eksis serta berjaya, fix orang itu punya peluang besar untuk menaklukkan dunia. 

Plus, saya juga ingin belajar. Sebab, jadi pemimpin Karang Taruna memang sesulit itu dan bikin orang merasa gagal sebagai pemimpin. Kalau kalian nggak percaya, cobain deh. Minimal, coba jadi anggotanya dulu aja. Kalau kuat, baru lanjut jadi ketua. Lalu, rasakan sensasinya, kawan.

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Piknik Jadi Program Unggulan Karang Taruna: Jadi Beban Sekampung kok Bangga?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2024 oleh

Tags: Bangkalankarang tarunaLidah Wetanorganisasi desaormawaosisSurabaya
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

Surabaya Lebih Jago Memanfaatkan Jembatan Suramadu daripada Bangkalan Madura Mojok.co

Surabaya Lebih Jago Memanfaatkan Jembatan Suramadu daripada Bangkalan Madura

14 April 2024
Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut

Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut

24 Januari 2024
OSIS SMA Berani Undang Noah dan Dewa 19 buat Pensi Kalian Keren Terminal Mojok

OSIS SMA Berani Undang Noah dan Dewa 19 buat Pensi: Kalian Keren!

30 September 2022
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
5 Lampu APILL di Surabaya yang Durasinya Ora Umum Terminal Mojok

5 Lampu APILL di Surabaya yang Durasinya Ora Umum

24 Januari 2022
Surabaya Punya Tradisi yang Jarang Diketahui Warganya Sendiri

Surabaya Punya Tradisi Unik yang Jarang Diketahui Warganya Sendiri, Salah Satunya Tradisi Menangkal Petir di Musim Hujan

24 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

Seharusnya Karawang Mau Merendahkan Diri dan Belajar pada Purwakarta, yang Lebih Tertata dan Lebih Terarah

11 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.