Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Derita Petugas KPPS: Boro-boro Mikir Pajero, Bisa Sehat Saja Sudah Mukjizat

Naimatul Chariro oleh Naimatul Chariro
7 Februari 2024
A A
Derita Petugas KPPS: Boro-boro Mikir Pajero, Bisa Sehat Saja Sudah Mukjizat

Derita Petugas KPPS: Boro-boro Mikir Pajero, Bisa Sehat Saja Sudah Mukjizat (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya yakin saat ini semua orang selalu tertawa ketika mendengar istilah KPPS. Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi karena petugas pemilu ini telah menjadi bahan konten candaan seluruh netizen Indonesia. Mulai dari restu mertua, abdi negara, bekal makan, kaya raya, hingga Pajero baru.

Sebagai petugas KPPS, saya sebenarnya seneng-seneng aja lelucon ini terjadi. Bahkan, saya juga berharap kenyataannya demikian. Tapi, hidup memang nggak seindah bacotan netizen. Jangankan Pajero baru, masih sehat aja udah syukur, Lur.

Rapat petugas KPPS itu banyak, persis kayak pejabat

Pemilu ini adalah kali pertama saya menjadi petugas. Sama seperti orang-orang, awalnya saya juga menyepelekan jobdesknya. Tapi, ternyata menjadi petugas KPPS sudah sama seperti pejabat yang harus rapat terus menerus. Bedanya, pejabat ada tunjangannya, sedangkan anggota KPPS dapat seikhlasnya. Remuk, Lur.

Saya sudah mengikuti empat kali pertemuan dalam kurun waktu 10 hari. Mulai dari pelantikan, rapat tim, dan berbagai bimbingan teknis (bimtek) yang ada. Sebenarnya saya nggak masalah dengan pertemuan yang berulang kali. Sebab, letak menyebalkannya bukan di situ, tapi waktu pelaksanaannya yang sering kali semena-mena.

Jadwal pertemuan untuk urusan petugas KPPS selalu diumumkan mendadak. Seperti, informasi acara pelantikan yang dibagikan sehari sebelumnya. Kemudian, pengumuman bimtek pada pukul 10.00 malam dan ternyata acaranya berlangsung besok jam 7 pagi. Untuk yang satu ini, saya geleng-geleng kepala sampai sekarang. Lha gimana, saya harus mengosongkan waktu untuk informasi yang kurang dari 12 jam itu.

Sedangkan, petugas KPPS itu mayoritas pekerja. Bayangkan nasibnya, bisa dipecat karena minta izin atau cuti secara tiba-tiba. Jelas, Ra Mashok!

Bahkan, selain mendadak, durasi pertemuan bimtek itu juga nggak masuk akal. Kemarin Minggu, saya ada bimtek untuk kedua kalinya, mulai dari jam 7 malam hingga pukul 11 malam. Iya, saya tahu itu dilakukan agar nggak mengganggu jam kerja. Tapi, nggak sampai jam 11 malam juga dong.

Banyak yang harus dipahami

Saya sepakat kalo petugas KPPS dijuluki sebagai abdi negara. Karena meskipun dapat 1,1 juta, itu nominal yang nggak sebanding dengan tanggung jawab besar yang diembannya.

Baca Juga:

Status Alumni UI Tak Membebani Saya, Nama Besar Kampus Adalah Kenikmatan, Bukan Tekanan!

“Satu Desa Satu Gym” Bukan Sekadar Lelucon, Itu Ide Bagus untuk Kesehatan Warga Jawa Tengah!

Pertama, harus memahami materi pemilu yang kategorinya banyak, seperti surat sah dan tidak sah, lokasi penyelenggaraan, tata cara, warga yang boleh dan tidak boleh memilih, dokumen-dokumen yang harus diisi, tata cara pengambilan kotak suara, pembukaan segel, dan masih banyak lainnya. Kedua, harus memahami warga, mulai dari mengurus data mereka, pembagian undangan. Belum lagi kalo ada warga yang ngeyel, minta memilih di TPS itu padahal harusnya di TPS lain. Terakhir, yang makin susah yaitu sistem penilaian yang berlipat-lipat ganda dan nggak boleh ada kesalahan. Mumet kan bacanya? Apalagi saya yang menjalani.

Setelah mengikuti beberapa bimtek, saya jadi paham, mengapa banyak orang yang nggak mau jadi KPPS. Itu sebabnya, saya sepakat kalo petugas KPPS dipanggil sebagai abdi negara. Kerjanya nggak cuman satu hari, tapi berminggu-minggu dan tanggung jawabnya besar. Tenan Ruwet, Gaes.

Sekarang saya juga ngerti, penyebab banyaknya petugas KPPS yang meninggal di Pemilu 2019 lalu. Karena satu kesalahan saja akibatnya bisa fatal. Kalo salah, harus melakukan pemungutan ulang di keesokan harinya. Bayangkan, jika satu pemungutan saja memerlukan waktu 20 jam, apalagi harus diulangi 2 kali, tipes Lur.

Dengan berbagai beban yang harus diemban petugas KPPS, saya jadi yakin kalo seluruh parodi netizen hanya akan tetap menjadi mimpi. Nggak dapat Pajero, Sengsaranya pasti. Nasib-nasib.

Penulis: Naimatul Chariro
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Apakah Benar Ada Sunat Anggaran Konsumsi dan Uang Transport? Saya dan Kawan KPPS Temanggung Menjadi Korban Busuknya Pemilu 2024 yang Belum Digelar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2024 oleh

Tags: bebanPemilupetugas KPPSpetugas KPPS meninggal
Naimatul Chariro

Naimatul Chariro

Mahasiswa yang sedang belajar menulis.

ArtikelTerkait

Menguak Tugas-tugas Preman Menjelang Pemilu: Intimidasi Berkedok Diplomasi

Menguak Tugas-tugas Preman Menjelang Pemilu: Intimidasi Berkedok Diplomasi

21 November 2023
Tukang Parkir Liar Nggak Hanya Bikin Pengendara Sebel, tapi Juga Bikin Pengusaha Kecil Bangkrut tempat parkir ilegal tukang parkir atm, capres surabaya bogor, kota malang polisi cepek qris parkir indomaret

Kalau Ada Capres yang Berani Berjanji untuk Memberantas Tukang Parkir ATM, Pasti Akan Saya Pilih, Aku Bocahmu, Pak!

21 Januari 2024
pilkada monarki incumbent keluarga dinasti politik mojok

Ikut Pilkada kok Nebeng Nama Besar Keluarga, Ora Mashok

28 Oktober 2020
Mempertanyakan Alasan Presiden Selalu Berasal dari Suku Jawa

Mempertanyakan Alasan Presiden Selalu Berasal dari Suku Jawa

23 September 2022
5 Karakter dalam All of Us Are Dead yang Lebih Jadi Beban Ketimbang Onjo Terminal Mojok

5 Karakter dalam All of Us Are Dead yang Lebih Jadi Beban Ketimbang Onjo

7 Februari 2022
Perbandingan (biaya) Pemilu 2019 dan Pemilu “Stik Es Krim” Ketua RW di Kampung Saya Terminal Mojok_

Murahnya Biaya Pemilu ‘Stik Es Krim’ di Kampung Saya

28 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

30 Januari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.