Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

PPDB Online kok Masih Harus Setor Berkas Fotokopi ke Sekolah, Situ Tau Digitalisasi Nggak sih?

Mohammad Maulana Iqbal oleh Mohammad Maulana Iqbal
29 Desember 2023
A A
PPDB Online kok Masih Harus Setor Berkas Fotokopi ke Sekolah, Situ Tau Digitalisasi Nggak sih?

PPDB Online kok Masih Harus Setor Berkas Fotokopi ke Sekolah, Situ Tau Digitalisasi Nggak sih? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kira guyonan e-KTP difotokopi itu tak akan terdengar lagi di tahun ini. Ternyata, saya malah mengalami guyonan tersebut, meski tidak dalam bentuk yang persis sama. Yang saya rasakan adalah, saya masih harus membawa fotokopi rapor dan kartu tanda siswa adik saya, meski PPDB online.

Jadi gini, adik saya yang berada di pesantren itu sekarang sudah mau masuk ke jenjang SMA. Saya selaku masnya bertanggung jawab untuk melakukan segala mekanisme pendaftarannya di SMA. Bulan-bulan ini hingga lima bulan kedepan adalah periode berlangsungnya PPDB di berbagai sekolah.

Sebenarnya, adik saya sudah memberikan brosur SMA yang pengen ia tuju, masih satu yayasan dengan pesantrennya. Namun, saya belum bergegas untuk mendaftarkan adik saya. Selain karena ini masih awal banget, udah kayak anak ambisius, saya juga menunggu informasi terbaru terkait pendaftaran.

Di brosur SMA yang diberikan adik saya itu tertulis bisa melayani PPDB online melalui website yang sudah disediakan sekolah. Saya tentu agak lega, karena itu memudahkan saya mengurus pendaftaran. Pasalnya, kalau saya melakukan pendaftaran secara offline itu belibet. Saya harus capek-capek menempuh perjalanan satu hingga satu jam setengah untuk ke pesantren adik saya, hanya untuk mengisi formulir saja.

PPDB online hanyalah ilusi

Namun, kelegaan saya perkara PPDB Online tak berlangsung lama. Jadi, ada seorang teman adik saya tiba-tiba datang ke toko saya untuk nge-fotokopi rapor dan kartu tanda siswanya. Saya pun tanya, buat apa? Ternyata itu buat pendaftaran sekolah di SMK yang masih satu yayasan dengan adik saya.

Saya sedikit heran dong, soalnya kemarin katanya teman adik saya itu sudah daftar SMK, udah clear semuanya, lah kok dilalah masih disuruh setor berkas fotokopi. Ternyata regulasi yang katanya online itu hanyalah pengisian biodata belaka, sedangkan berkas-berkas tetap harus disetorkan ke sekolah. Terus pikir saya, buat apa pendaftaran onlinenya? Toh, tetep ke sekolah yang sama aja kayak daftar offline dengan mengisi lembaran kertas formulir.

Setelah saya cek lebih detail di brosur SMA adik saya, ternyata tidak jauh berbeda. Memang benar pendaftaran bisa dilakukan secara online. Bahkan biaya pendaftarannya bisa dilakukan dengan cara transfer, digital memang. Tapi, di ujung paling akhir tertulis, “Calon siswa baru datang ke SMA x untuk heregistrasi dan melengkapi persyaratan.”

Lah, terus pendaftaran onlinenya buat apa?

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Katanya sekolah digital, lah kok masih ngandalin berkas fisik fotokopi? Ibarat digitalisasi KTP yang nggak berguna karena apa-apa masih minta fotokopi KTP. Maksud saya, yang dimaksud digital itu apanya? Ngapain bikin PPDB online?

Apa iya slogan digitalisasi itu hanyalah gaya-gayaan? Kalau buat sekolah agar sekolah ini makin dipandang keren, makin dipandang melek teknologi, biar makin dipandang mengikuti zaman, begitu?

Scan adalah solusi untuk berkas fotokopi

Kalau memang benar-benar menerapkan digitalisasi macam PPDB online, seharusnya pendaftaran itu seratus persen secara online. Persoalan persyaratan berkas-berkas pendaftaran itu bisa di-scan kemudian di-upload di form pendaftaran. Sedangkan pihak sekolah tinggal mengunduh, dan di-print barangkali membutuhkan.

Untuk melakukan scan juga hari ini nggak seribet dulu ketika aku SMA yang masih menggunakan nol Facebook tanpa gambar. Sekarang, untuk scan nggak butuh capek-capek datang ke tukang fotokopi, kemudian berkas di-scan menggunakan alat scanner. Sekarang, pake HP aja udah bisa nge-scan, entah itu pake aplikasi CamScanner, Microsoft Lens, Adobe Scan dan masih banyak yang lainnya.

Berkas digital menguntungkan semua pihak

Beneran, metode seratus persen digital ini sangat membantu bagi wali murid yang jarak sekolah dan rumahnya itu jauh. Seperti di pesantren adik saya ini yang jaraknya satu jam setengah dari rumah saya. Jadi, nggak bolak balik setor berkas ke sekolah, melainkan tinggal klik-klik sudah bisa beres calon siswa bisa sekolah dengan mudah. PPDB online tuh biar mudah, bukan malah bikin susah.

Selain itu, melalui tidak mengumpulkan berkas fisik fotokopi, sekurang-kurangnya dapat menghemat ruangan di sekolahan yang bejibun kertas. Toh, ujung-ujungnya berkas-berkas sekolah itu dibuang, dibakar atau bahkan dikilokan. Jadi sayang kan? Mending dengan berkas digital alias di-scan itu sangat memudahkan pihak sekolah, tinggal menyiapkan memori, atau menggunakan memori online seperti Google Drive, sudah beres.

Dan, melalui pendaftaran seratus persen online ini juga sangat ramah lingkungan. Dengan tidak menggunakan kertas fisik untuk pendaftaran ribuan calon siswa, seenggaknya sudah menolong mengurangi penebangan beberapa pohon. Logika ini sederhana banget lho, dan memang seharusnya PPDB online itu begitu.

Namun, anehnya admin sekolahan, sudah disuruh daftar online, tapi tetap suruh setor berkas lagi. Sudah menghancurkan bumi, eh masih menghabiskan kuota dan biaya transfer uang untuk daftar juga. Ini mau menguntungkan perusahaan kertas dan perusahaan digital atau gimana sih?

Selama sekolah nggak memahami esensi PPDB online, ya selamat tinggal digitalisasi. Yang harusnya paham, malah masih nggak paham. Heran, hobi kok mempersulit diri sendiri. 

Penulis: Mohammad Maulana Iqbal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Masih Ada Sekolah Favorit dan Orang Tua Pindah KK Anak, Sistem Zonasi Gagal Total!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2023 oleh

Tags: berkas fisikfotokopi berkasPPDBPPDB OnlineSekolahtahun ajaran baru
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Lulusan Magister Sosiologi yang doyan ngulik isu konflik, identitas dan dinamika sosial. Selain menjadi kapitalis toko fotocopy, sehari-hari juga disibukkan dengan kegiatan membaca, menulis dan riset. Sedang berkeringat melahirkan komunitas riset.

ArtikelTerkait

Alasan di Balik Ada Kepentingan Keluarga dalam Surat Izin Siswa

19 September 2021
Jangan Jadi Dosen dan Guru: Gajinya Irit, Tanggung Jawab Selangit Mojok.co

Jangan Jadi Dosen dan Guru: Gajinya Irit, Tanggung Jawab Selangit

23 Februari 2024
Masih Ada Sekolah Favorit dan Orang Tua Pindah KK Anak, Sistem Zonasi Gagal Total!

Karut Marut Sistem PPDB: Regulasi Zonasi yang Malah Menyayat Hati

17 Juli 2023
sonny boy anime musim panas 2021 mojok

Sonny Boy, Anime Buatan Sutradara One Punch Man yang Layak Ditonton Musim Ini

28 Juli 2021
Orang Tua Lebih Memilih Sekolah Swasta meskipun Biayanya Mahal karena Memang Sebagus Itu, Sekolah Negeri Perlu Ngaca sekolah swasta gratis

Orang Tua Lebih Memilih Sekolah Swasta meskipun Biayanya Mahal karena Memang Sebagus Itu, Sekolah Negeri Perlu Ngaca

25 Juli 2024
Negara Panem The Hunger Games Adalah Contoh Baik bagi Sistem Pendidikan Indonesia terminal mojok

Sistem Pendidikan Negara Panem ‘The Hunger Games’ Adalah Contoh Baik bagi Indonesia

5 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit
  • Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.