Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Banteng Loreng Binoncengan, Falsafah Lokal yang Harus Dipahami Jika Ingin Menjadi Pemimpin di Tegal

Malik Ibnu Zaman oleh Malik Ibnu Zaman
4 Oktober 2023
A A
Banteng Loreng Binoncengan, Falsafah Lokal yang Harus Dipahami Jika Ingin Menjadi Pemimpin di Tegal

Banteng Loreng Binoncengan, Falsafah Lokal yang Harus Dipahami Jika Ingin Menjadi Pemimpin di Tegal (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banteng Loreng Binoncengan merupakan salah satu falsafah lokal Tegal yang sudah ada sejak dulu, yang menggambarkan watak orang Tegal yang kritis dan berani melawan

Jika ingin menjadi pemimpin di sebuah daerah, baik itu menjadi gubernur, bupati, anggota dewan, penting untuk memahami karakteristik daerah tersebut. Jika tidak memahami, siap-siap saja kalah dalam kontestasi politik. Kalaupun menang akan ada gejolak di dalamnya. Tak terkecuali Tegal.

Tegal, merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah, secara administratif dibagi menjadi dua yaitu Kabupaten dan Kota Tegal. Jika kita mengamati dinamika politik yang ada di Tegal, dari dulu hingga sekarang. Maka saya kira pembaca akan sepakat dengan pendapat saya, bahwa dinamika politik di Tegal itu sangat menarik.

Banteng loreng binoncengan, watak orang Tegal

Sebelum itu, saya akan membahas terlebih dahulu tentang watak orang Tegal. Bagi kalian penikmat sepak bola Indonesia, tentu tidak asing dengan istilah Banteng Loreng Binoncengan, julukan dari Persekat, klus sepak bola asal Kabupaten Tegal yang sekarang mentas di Liga 2.

Banteng Loreng Binoncengan merupakan salah satu falsafah lokal Tegal yang sudah ada sejak dulu, yang menggambarkan watak orang Tegal yang kritis dan berani melawan. Digambarkan watak orang Tegal itu seperti banteng (kerbau liar). Banteng sendiri memiliki arti gagah berani dan sukar untuk dikendalikan.

Akan tetapi, pada hakikatnya watak orang Tegal yang seperti banteng (kerbau liar) sebenarnya dapat dikendalikan, dituntun, ditunggangi, dan dikuasai oleh orang yang lemah lembut dan ramah-tamah serta tidak mempunyai maksud buruk. Hal tersebut digambarkan dengan seorang anak laki-laki penggembala atau bocah angon yang mengerti betul perwatakannya, yang sedang menunggangi banteng.

Diceritakan anak laki-laki penggembala atau bocah angon tersebut menjaga dan merawat bantengnya dengan penuh kasih sayang. Pada suatu waktu harimau hendak menerkam si bocah angon, nah banteng tersebut melindungi dan menyelamatkan si bocah angon. Meski akhirnya banteng menderita luka parah di sekujur tubuhnya.

Dari cerita tersebut, sebenarnya jika ditelisik banyak tafsir (makna) yang terkandung di dalamnya. Tafsir yang umum menjelaskan bahwa orang yang bisa memimpin Tegal itu pemimpin yang bermental seperti bocah angon. Dengan kata lain pemimpin Tegal itu harus sabar, pengertian, penuh kasih sayang, dan punya sifat mengayomi.

Baca Juga:

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

Peristiwa Tiga Daerah, perwujudan Banteng Loreng Binoncengan

Peristiwa Tiga Daerah merupakan suatu peristiwa dalam sejarah revolusi Indonesia yang terjadi antara Oktober sampai Desember 1945, dan terjadi di Brebes, Tegal, dan Pemalang.

Saat itu, seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana, dan camat) dan sebagian besar kepala desa diganti oleh aparat pemerintahan yang baru. Terdiri dari aliran Islam, Sosialis, dan Komunis. Nah, Tegal menjadi daerah awal mula meletusnya Peristiwa Tiga Daerah, yang kemudian merembet ke daerah lain. Kemudian Tegal menjadi daerah yang dikenal saat Peristiwa Tiga Daerah.

Sebenarnya peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh rasa muak atas kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh elite birokrat dan pangreh praja sejak zaman Penjajah Belanda hingga zaman Penjajahan Jepang.

Peristiwa Tiga Daerah membuktikan bahwa memang benar watak orang Tegal itu Banteng Loreng Binoncengan. Peristiwa Tiga Daerah membuktikan bahwa orang Tegal itu berani melawan siapapun tanpa rasa takut. Hasilnya ya dapat menggulingkan para elite birokrat dan pangrah praja, lalu menggantinya dengan yang baru.

Banteng Loreng Binoncengan dan Pemilu

Saya akan mengkorelasikan falsafah Banteng Loreng Binoncengan ini dengan kontestasi politik atau pemilu.

Berdasarkan pengamatan saya di Kabupaten Tegal misalnya, dalam kontestasi Pilbup 2013 salah seorang Pasangan Calon (Paslon) nomor 4 berhasil menjadi Bupati dan Wakil Bupati. Lalu saya menanyakan kepada beberapa pemilih yang waktu itu mencoblos paslon tersebut. Jawaban mereka sama, karena melihat rekam jejak sang Wabup yang aktif di salah satu organisasi keagamaan. Di mana ia mengabdikan diri dengan tulus dan ikhlas di organisasi tersebut.

Pada 2018 Sang Wabup mencalonkan diri, kali ini ia mencalonkan diri menjadi Bupati, dan saat itu ia berhasil menang mutlak. Saya masih ingat betul di tahun 2018 masyarakat desa tempat saya tinggal begitu antusias dalam ajang 5 tahunan tersebut, mereka mengatakan bahwa sang bupati merupakan sosok yang benar-benar mengayomi.

Kemudian terkait dengan Pemilihan Legislatif (DPR/DPRD Provinsi), Tegal itu masuk dalam Dapil IX meliputi Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kota Tegal. Menariknya jika kita teliti detail, beberapa calon tersebut bukan orang yang lahir dan besar di Tegal, bahkan ada yang terpilih.

Sebenarnya boleh-boleh saja, nggak ada masalah. Tetapi sudah sepantasnya putra daerah asli yang menjadi wakil rakyat di daerah tersebut, karena yang benar-benar memahami seluk beluk permasalahan di daerah tersebut.

Agaknya mereka memahami watak masyarakat yang diibaratkan seperti Banteng Loreng Binoncengan guna mendapatkan suara.

Pemilu 2019, pengalaman pertama berpolitik di Tegal

Pada 2019 saya termasuk ke dalam pemilih pemula dan belum memahami politik, bahkan nama-nama wakil rakyat di kertas suara pun terasa asing bagi saya. Saat itu ada beberapa tokoh masyarakat yang mengatakan supaya coblos nomor urut sekian dari partai ini, dan saya saat itu manut-manut saja. Bukan hanya saya yang manut, pemilih yang bukan kategori pemula juga manut-manut saja kepada tokoh masyarakat tersebut.

Alasan saya dan banyak pemilih manut saran dari tokoh masyarakat tersebut, karena ia sosok yang jujur, ikhlas, mengayomi. Jadi rekomendasi atau sarannya tidak akan keliru. Padahal ya belum tentu saran tersebut benar, buktinya anggota dewan yang saya pilih, tidak tahu apa kontribusinya untuk Tegal setelah jadi anggota dewan, Hehehe.

Itulah watak orang Tegal, yang perlu diperhatikan banyak caleg dan peserta pemilu lain. Tapi, pesan saya, ingat, yang manut pun belum tentu tidak akan memberontak. Bisa jadi, jika salah langkah, yang terjadi malah di luar dugaan.

Penulis: Malik Ibnu Zaman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Culture Shock Berkendara di Tegal: Nyala Lampu APILL yang Agak Laen dan Bau Teh di Mana-mana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2023 oleh

Tags: banteng loreng binoncenganfalsafahtegal
Malik Ibnu Zaman

Malik Ibnu Zaman

Penulis partikelir yang lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online.

ArtikelTerkait

orang ngapak

Orang Ngapak: Ketika Sebuah Logat Menyimpan Kenangan

27 Agustus 2019
Warteg Jakarta dan Surabaya Terlihat Serupa, tapi Aslinya Tak Sama Mojok.co

Warteg Jakarta dan Surabaya Terlihat Serupa, tapi Aslinya Tak Sama

23 Juni 2025
5 Kosakata Bahasa Tegal yang Bikin Orang Jogja Syok Berat Mojok.co

5 Kosakata Bahasa Tegal yang Bikin Orang Jogja Syok Berat

28 Juli 2024
12 Kosakata Bahasa Tegal yang Biasa Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari

4 Industri Warisan Nenek Moyang yang Masih Eksis di Tegal

19 Maret 2022
3 Mitos Terkait Beras di Tegal yang Tidak Ada di Daerah Lain

3 Mitos Terkait Beras di Tegal yang Tidak Ada di Daerah Lain

31 Juli 2024
Culture Shock Orang Jogja Saat Kulineran di Tegal

Culture Shock Orang Jogja Saat Kulineran di Tegal

6 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

28 Maret 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.