Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Pendidikan Politik Itu Hanya Omong Kosong!

Faiz Al Ghiffary oleh Faiz Al Ghiffary
5 April 2023
A A
Pendidikan Politik Itu Hanya Omong Kosong

Pendidikan Politik Itu Hanya Omong Kosong (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“Yang panas biar para elit saja, kita wong cilik jangan ikut-ikutan politik. Awas, nanti bisa putus lagi silaturahminya. Jan, ra mutu!”

Begitu kira-kira ucapan teman saya di warung kopi jika kita bicara politik.

Sikap jengkel semacam itu tidak bisa saya salahkan sepenuhnya. Mengapa? Di tengah memanasnya situasi politik sekarang ini, seperti misalnya perpindahan relawan Jokowi Mania (JoMan) dari mendukung Ganjar lalu berpaling mendukung Anies, atau hijrahnya kader partai di Riau, serta mulai terbentuknya embrio-embrio koalisi partai.

Coba, sekarang kita merefleksikan kembali momentum-momentum politik sebelumnya.

Perhelatan pilpres dari mulai 2014 sampai 2019, masih ingat jelas. Satu momen yang tidak akan pernah lupa adalah munculnya sebutan cebong dan kampret. Kedua kelompok ini saling klaim satu sama lain, meyakini seolah kelompok mereka dengan pilihannya adalah yang terbaik. Timbullah kemudian fanatisme buta.

Puncak dari buntut panjang cebong dan kampret, ada yang sampai memutuskan tali silaturahmi hanya karena perbedaan pandangan politik. Ngeri to?

Menyoal perbedaan pandangan politik itu, Pak Jokowi pernah mengingatkan dalam pidatonya saat pembagian sertifikat tanah di Tegal, Jawa Tengah. Kurang lebih seperti ini beliau menyampaikan:

“Kita memiliki 714 suku, banyak sekali suku di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangsa sampai Pulau Rote. Oleh sebab itu, jangan sampai karena pilihan bupati, gubernur, presiden, ada yang tidak saling sapa dengan tetangga. Ada yang tidak saling sapa antar kampung, antar desa, tidak rukun antar kampung. Jangan sampai terjadi seperti itu.”

Saya sepakat oleh apa yang disampaikan oleh Pak Presiden. Persoalan bagaimana masyarakat kita memandang perpolitikan, ini perlu untuk diberikan sebuah edukasi. Edukasi itu atau pendidikan politik bagi masyarakat atau yang lebih kerennya lagi disebut political forming, kini menjadi hal mendesak yang harus dilakukan.

Baca Juga:

Pemeran Dirty Vote Bicara: Zainal Arifin Mochtar Buka-bukaan tentang Film Panas Pemilu 2024

4 Nasihat dalam “Upin dan Ipin” yang Cocok buat Caleg Pemilu 2024

Pendidikan politik adalah keharusan

Kalau Anda masih bertanya kenapa, saya rasa, Anda juga salah satu orang yang perlu mendapatkan pendidikan politik itu. Bayangkan saja, jika seandainya kejadian pemutusan tali silaturahmi hanya karena perbedaan pandangan politik itu terus terjadi secara berulang, menjelang pemilihan wakil rakyat. Opo nggak nangis Pak Jokowi melihat masyarakatnya terus terpecah-belah?

Misalnya lagi, Bayangno tetanggamu sebelah rumah tidak mau tegur sapa denganmu. Hanya karena dia memilih Anies dan Anda memilihi Ganjar di 2024 nanti. Pie perasaanmu?

Dengan adanya political forming, setidaknya meskipun relawan Ganjar berbalik mendukung Anies, atau nanti muncul calon-calon lain. Masyarakat kita bisa lebih dewasa lagi menyikapi itu. Tidak sampai tumbuh jiwa-jiwa fanatisme buta terhadap pilihan politik mereka.

Jadi kembali lagi pada ucapan teman saya tadi, mungkin yang dimaksud “ra mutu” adalah kasus cebong dan kampret, tapi tidak sepenuhnya penganut madzhab cebong dan kampret yang salah dalam kasus tersebut.

Begini, ini prasangka buruk saya. Kondisi seperti itu sengaja dirawat oleh sutradara, agar mereka mudah melakukan atau menjalankan permainannya. Kalau masyarakat itu tambah pinter, mereka akan susah melakukan propaganda dan jualan isu. Akhirnya dagangannya nggak laku. Siapa sutradara tersebut ? Yo ndak tau kok tanya saya.

Pertanyaannya, pendidikan politik ini tugas siapa?

Partai politik sebagai pihak yang paling bertanggung jawab

Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang perubahan UU No 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik, disebutkan pada bab 5 Tujuan dan Fungsi partai politik salah satunya memberikan pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas. Termasuk juga menciptakan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat.

Maka sudah jelas, pendidikan politik ini adalah tanggung jawab partai politik. Selanjutnya, lebih gamblang lagi di bab 13 undang-undang tersebut, salah satu tujuan pendidikan politik adalah meningkatkan kemandirian, kedewasaan, dan membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Masalahnya adalah, banyak terjadi huru hara seperti gontok-gontokan antarwarga dab gesekan karena persoalan politik. Apakah itu merupakan salah satu dosa partai politik?

Atau mungkin jangan-jangan Anda baru tahu soal ini? tidak apa-apa, wajar kok. Toh juga selama ini parpol hanya mikir pie carane menang. Gitu aja terus sampai pemilihan berikutnya terjadi.

Seakan-akan tidak peduli (atau memang tidak peduli?)

Selama ini, setidaknya sejak muncul peraturan perundang-undangan tentang partai politik, para pengurus partai tampaknya tak punya kepentingan dalam peraturan tersebut. Padahal di aturan tersebut jelas-jelas disebutkan pendidikan politik adalah tugas mereka.

Namun melihat realitas yang demikian tadi, sepertinya aturan pendidikan politik hanyalah pemanis bibir. Malah, mungkin nggak mungkin dijalankan, dan masyarakat akan tetap menjadi barang mainan.

Lucunya kalau kemudian banyak tokoh-tokoh politik, mengeluhkan kondisi tersebut, rasanya kok kontradiktif sekali. Niatnya ngeluh biar dapat simpati, eh nanti malah kena ulti netijen yang budiman. Mending saya sarankan dari sekarang untuk para elit partai. Urungkan niat mencari simpati atas kondisi tersebut, lebih baik Anda diam dan minum kopi sambil nonton berita Pak Mahfud vs DPR.

Toh aturan politik hanyalah pemanis bibir, tradisi partai politik kita selama ini hanya pie carane menang. Soal ucapan-ucapan yang senada seperti teman saya di atas mentok hanya berakhir di meja kopi, nggak mungkin masuk berita televisi. Mustahil.

Penulis: Faiz Al Ghiffary
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Celah Politik Uang: Warga yang Menerima Tidak Dapat Sanksi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 April 2023 oleh

Tags: partai politikpemilu 2024pendidikan politik
Faiz Al Ghiffary

Faiz Al Ghiffary

Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

ArtikelTerkait

Rakyat Diminta Makan Ikan, tapi Harga Ikan di Pasaran Mahal. Halo Pemerintah, Sehat?

Rakyat Diminta Makan Ikan, tapi Harga Ikan di Pasaran Mahal. Halo Pemerintah, Sehat?

1 Desember 2022
5 Provinsi di Indonesia dengan Kasus KDRT Tertinggi Terminal Mojok

5 Provinsi di Indonesia dengan Kasus KDRT Tertinggi

11 Januari 2023
Kenali Dulu Filosofi Logo Partai Ummat, Sebelum Kadernya pada Keluar terminal mojok.co

Kenali Dulu Filosofi Logo Partai Ummat, Sebelum Kadernya pada Keluar

8 Oktober 2021
Menguak Tugas-tugas Preman Menjelang Pemilu: Intimidasi Berkedok Diplomasi

Menguak Tugas-tugas Preman Menjelang Pemilu: Intimidasi Berkedok Diplomasi

21 November 2023
Harapan untuk 'Gubernur Baru' Jogja yang Akan Dilantik pemilihan gubernur jogja

Pemilihan Gubernur Jogja Tak Akan Memberi Dampak Signifikan, Justru Bisa Jadi Masalah Baru!

29 Juni 2023
Konten TikTok Perempuan Pakai Baju PKB, Bikin Netizen Pengin Gabung Meski Nggak Jelasin Ideologi Partai terminal mojok.co

Konten TikTok Perempuan Pakai Baju PKB, Bikin Netizen Pengin Gabung Meski Nggak Jelasin Ideologi Partai

27 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok  Mojok.co

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

18 Januari 2026
3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali Mojok.co

3 Alasan Mitsubishi Outlander Sport Tidak Pantas Disuntik Mati dan Harus Diproduksi Kembali

19 Januari 2026
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026
7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

19 Januari 2026
Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.