Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Tanggapan Keturunan Gusti Ahmad: Kami Tidak Ingin Rebut Takhta Kraton

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
14 November 2021
A A
Tanggapan Keturunan Gusti Ahmad: Kami Tidak Ingin Rebut Takhta Kraton terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Artikel saya tentang kisah hidup Gusti Ahmad ternyata melahirkan polemik. Bahkan setelah setahun lebih artikel ini terbit. Maklum sih, kisah beliau memang sarat dengan konspirasi. Banyak yang menanggapi kisah tragis beliau sebagai bagian dari noktah hitam sejarah Kraton Jogja. Bagaimana tidak? Anak satu-satunya Sri Sultan HB V malah diburu sampai harus wafat di pembuangan di Manado.

Tapi banyak juga yang berkomentar miring tentang kisah ini. Ada yang bilang saya mengarang kisah tentang beliau. Alasannya pun beragam: dari tuduhan ingin menjelek-jelekkan Kraton Jogja, sampai tuduhan saya antek warga Tionghoa yang sakit hati karena tidak punya hak untuk memiliki tanah di Jogja. Ah, betapa cocot warganet bebas berkoar tanpa berpikir.

Namun, yang jadi pertanyaan besar adalah tanggapan langsung dari keturunan Gusti Ahmad sendiri. Bagaimana mereka menanggapi keraguan warganet terhadap sosok leluhur mereka? Apakah mereka seperti “barisan sakit hati” yang susah move on? Apakah mereka meragukan legitimasi Kraton Jogja hari ini sebagai penerus Kasultanan Mataram?

Maka saya ingin menjadi jembatan untuk ini. Sebagai saudara jauh, tapi masih satu garis keturunan, saya ingin mewakili keturunan HB V untuk bersuara. Ya, semoga setelah ini cocot nyinyir warganet bisa lebih bijak bicara.

Beliau bernama Husein Syarief Suryengalogo. Sosok yang telah sepuh ini sangat bersemangat ketika berkisah tentang leluhurnya. Siapa sangka, beliau berkenan berkisah banyak kepada saya hanya karena nyinyiran warganet yang konon budiman.

Pertemuan kami benar-benar tidak terduga. Semua diawali dari artikel saya yang menimbulkan polemik itu.  Ternyata, semesta bekerja dengan cara yang ajaib. Artikel saya sampai pada keturunan Gusti Ahmad/Gusti Achmad (demikian Pak Husein menyebut nama keturunan HB V ini) sendiri. Banyak keturunan pangeran yang terbuang ini menghubungi saya. Dari memberi dukungan sampai berbagi kisah yang salah satunya Pak Husein ini. Saya merasa seperti bertemu keluarga yang lama berpisah.

Sayang sekali, pandemi menghalangi pertemuan tatap muka saya dengan Pak Husein. Padahal, kami sangat ingin berbagi kisah perihal ontran-ontran yang mengubah garis keturunan Kraton Jogja ini. Tapi tak apa, melalui aplikasi WhatsApp kami tetap berdiskusi. Diskusi ini sudah terjadi setahun lalu, seminggu setelah artikel saya terbit. Tapi isi diskusi kami memang tidak lekang oleh waktu.

Pak Husein merasa kisah yang saya tulis telah hampir sesuai dengan catatan beliau. Beliau juga menambahkan kisah yang saya lewatkan, terutama perkara penyebutan nama Gusti Ahmad. Tentu, ini berdasar catatan turun temurun keluarga trah HB V.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Saya pribadi menggunakan tesis dari Pak Roger Kembuan, alumnus S-2 Sejarah UGM. Ternyata, Pak Roger telah berdiskusi dengan Pak Husein demi materi tesisnya. Jadi kalau masih merasa kisah Gusti Ahmad hanyalah dongeng, tolong kecerdasannya dipakai. Pasalnya, tesis Pak Roger sendiri sudah dipertahankan di depan penguji dari kampus yang menduduki Sultan Ground itu.

Lebih jauh, saya ingin meminta tanggapan Pak Husein tentang komentar warganet yang nyelekitnya semena-mena ini. Jika dirangkum, mayoritas komentar ini lebih kepada keraguan serta penolakan terhadap fakta dalam artikel yang saya tulis.

Tuduhan tersebut juga menyasar keturunan Gusti Ahmad yang masih hidup. Apalagi dibilang keturunan Tionghoa yang sakit hati. Saya bertanya pada Pak Husein perihal tanggapan beliau. Dan tidak diduga, tanggapan beliau sangat menyejukkan hati. Hampir tidak menunjukkan rasa sakit hati. Malah saya yang terkesan uring-uringan.

Pak Husein menanggapi komentar yang mempertanyakan eksistensi Gusti Ahmad. Pak Husein memaklumi jika kisah beliau tidak banyak diketahui. Saat Pak Husein berkesempatan menemui beberapa penghageng Kraton Jogja, beliau juga terkejut karena kisah beliau ini tidak banyak diketahui internal Kraton.

Namun, bukan berarti Gusti Ahmad hanyalah dongeng. Makam di Manado adalah salah satu bukti konkret eksistensi putra semata wayang HB V ini. Pak Husein juga punya bukti yang tervalidasi: Serat Kekancingan Tepas Darah Dalem. Sertifikat yang menjadi bukti garis keturunan Kraton Jogja ini telah dikantongi beliau. Tentu surat ini adalah bukti bahwa Gusti Ahmad benar-benar ada. Kraton saja mengakui, kok warganet yang embuh dari mana malah berkonspirasi? Kan, ndlogok!

Pak Husein juga menanggapi tuduhan perihal antek aseng serta pengganggu. Beliau menyatakan dengan tegas bahwa keturunan Gusti Ahmad tidak pernah berniat mengganggu Kraton, apalagi sampai melakukan framing dengan menjelek-jelekkan Kraton dengan mengarang kisah.

Bagi Pak Husein, apa yang dilakukan keturunan Gusti Ahmad adalah sekadar menulis dan melestarikan sejarah leluhur mereka. Tidak ada agenda besar dan konspiratif, selain mengenang leluhur. Pak Husein juga menyatakan bahwa beliau siap berdiskusi dengan warganet perihal Gusti Ahmad.

Pak Husein juga menyatakan ketidaksetujuan tentang versi lain dari kisah Gusti Ahmad. Salah satunya teori konspiratif yang mengatakan Gusti Ahmad ini bukanlah keturunan asli HB V. Detail teorinya sangat njelimet dan tidak masuk akal, jadi saya juga enggan menuliskan disini.

Namun, bukan berarti Pak Husein menolak catatan sejarah lain. Hanya saja Pak Husein tidak setuju jika Gusti Ahmad dianggap bukan keturunan HB V. Toh, Kraton Jogja telah menyatakan keabsahan garis keturunan ini melalui Serat Kekancingan Darah Dalem tadi. Apa lagi yang mau diperdebatkan?

Pak Husein juga menjawab pertanyaan tentang kondisi makam Gusti Ahmad dan sang ibu, Sekar Kedathon. Beliau telah bertemu dengan dinas terkait di Manado pada 2012 untuk pelestarian makam Gusti Ahmad. Tapi, tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Memang, Dinas PDK Balai Pelestarian Sejarah mengucurkan dana untuk biaya perawatan lokasi makam. Namun, pada saat pandemi, sudah berbulan-bulan makam Gusti Ahmad terbengkalai.

Demikian tanggapan Pak Husein selaku perwakilan Paguyuban Trah Sri Sultan HB V, dan juga keturunan Gusti Ahmad. Saya angkat topi pada kesediaan beliau dalam menanggapi nyinyiran kalian para warganet nggatheli. Dan saya juga salut pada usaha beliau beserta keturunan Gusti Ahmad untuk melestarikan sejarah keturunan mereka. Rahayu sagung dumadi.

Jika Pak Husein memberikan tanggapan yang adem seperti di atas, izinkan saya memberikan tanggapan pula. Jadi begini, Anda para warganet yang meragukan kisah Gusti Ahmad memang patut untuk malu dan hidup di goa. Pasalnya, keraguan dan hujatan Anda sudah dibantah tidak hanya dengan argumen, tapi tesis ilmiah.

Sumber Gambar: Unsplash.com

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2023 oleh

Tags: Gusti Ahmadkraton jogjapilihan redaksi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

4 Hal Salah Kaprah tentang UNNES yang Bikin Geleng-geleng

UNNES Layak Mendapat Gelar Kampus dengan Nama Terbaik di Indonesia  

16 September 2023
Menjadi Manusia yang Lebih Baik dengan Melatih Komunikasi Asertif ala Chae Song Hwa Hospital Playlist 2 terminal mojok

Jadi Manusia yang Lebih Baik dengan Komunikasi Asertif ala Chae Song Hwa Hospital Playlist 2

28 Agustus 2021
Super Air Jet, Maskapai Baru yang Pas untuk Kaum Milenial di Indonesia Terminal Mojok

6 Hal yang Saya Rasakan Saat Naik Super Air Jet untuk Pertama Kali

21 Juni 2022
8 Kendaraan yang Paling Cucok untuk Dijadikan Food Truck terminal mojok.co

8 Kendaraan yang Paling Cucok untuk Dijadikan Food Truck

4 November 2021
Sama-sama Punya Banyak Cabang, Kenapa Mixue Makin Sepi sementara Mie Gacoan Selalu Ramai?

Sama-sama Punya Banyak Cabang, Kenapa Mixue Makin Sepi sementara Mie Gacoan Selalu Ramai?

2 Februari 2025
Mie Gaga versus Indomie? Pemenangnya Tetap Mie Sedaap

Mie Gaga versus Indomie? Pemenangnya Tetap Mie Sedaap

1 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.