Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Kepak Sci-Hub Kebhinekaan dan Ilmu Pengetahuan Tanpa Sekat untuk Semua

Bachtiar Mutaqin oleh Bachtiar Mutaqin
14 September 2021
A A
sci-hub
Share on FacebookShare on Twitter

Sci-Hub yang mengganggu, Sci-Hub yang menjadi malaikat bagi yang tak mampu

Tempo hari salah satu mahasiswa saya, sebut saja Dobleh, yang sedang menyusun tugas akhir, sambat tentang kesulitannya dalam mencari referensi untuk topik risetnya.

“Artikelnya kebanyakan berbayar je, Pak. Baca abstraknya doang sih gratis, tapi kalau mau baca versi lengkapnya harus bayar 36 dolar dulu. Ya kali, Pak, 500 ribu buat 1 artikel doang. Aku yo wegah, aku yo klenger, Pak,” gitu katanya saat kami ngobrol via daring.

Situasi tersebut tentu saja nggak asing dan pernah dialami oleh kebanyakan mahasiswa, wabil khusus mereka yang sedang menyusun tugas akhir. Nyari referensi yang cocok aja susah, giliran udah ketemu, eh artikelnya berbayar (paywall). Mirip, lah, sama kisah cinta kalian yang bertepuk sebelah tangan itu. Kraaayyy….

Jadi gini, buat yang belum tahu, artikel ilmiah secara umum dibagi menjadi 2 tipe: berbayar dan tidak berbayar alias open access.

Mereka yang ingin memublikasikan artikel hasil penelitiannya pada sebuah jurnal ilmiah bereputasi (top-tier) biasanya akan diberikan 2 opsi. Pertama, membayar sejumlah uang untuk Article Processing Charge supaya artikelnya dapat diakses secara bebas ketika sudah terbit. Kedua, tidak perlu membayar. Tentunya dengan beberapa konsekuensi.

Nah, artikel berbayar yang sering kalian temui itu adalah salah satu konsekuensi dari opsi kedua yang biasanya diambil oleh kebanyakan peneliti dan akademisi. Iya, artikel hasil penelitian yang kebanyakan didanai oleh dana riset pemerintah itu akhirnya tersimpan rapat di balik dinding komersialisasi pengetahuan dan ketidakadilan akses. Kandyani, og!

Masalah berikutnya adalah, ketika kita sebagai pembaca memutuskan untuk membayar sebuah artikel agar bisa membaca karya tersebut, apakah uangnya akan ditransfer ke rekening pemerintah/organisasi yang membiayai riset tersebut, si penulis, atau peneliti lain yang mereview artikel tersebut?

Baca Juga:

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh

Oh tentu saja tidak semudah itu, Sayangku. Dunia industri publikasi ilmiah tidak bekerja seperti itu. Penulis maupun reviewer tidak dibayar sama sekali. Kalau iya, mungkin sekarang saya (sebagai oknum peneliti) sudah kaya raya dan hidup makmur. Tiap pagi tinggal baca koran sarungan merek Balenciaga dan istri belanja dasteran merek Louis Vuitton di tukang sayur keliling.

Ada pihak lain yang menerima keuntungan dan bayaran dari keseluruhan proses ini, baik itu yang berasal dari produsen maupun konsumen ilmu pengetahuan tersebut. Siapakah ia? Yups, penerbit komersial. Lalu, siapa yang yang paling dirugikan? Tentu saja para peneliti, akademisi, dan mahasiswa yang berasal dari negara-negara berkembang dengan sumber daya dan akses yang terbatas.

Sebagai awalan, mungkin kalian dapat memulai dengan menonton film dokumenter dari Pak Jason Schmitt yang berjudul Paywall: The Business of Scholarship. Film tersebut seharusnya akan membuka mata kita semua tentang bagaimana bisnis penerbitan komersial bekerja.

Nah, kembali ke artikel berbayar. Dobleh mungkin “punya privilese” karena universitasnya terpaksa melanggani beberapa penerbit komersial. Dia tinggal ke perpustakaan untuk mendapatkan akses penuh ke artikel yang dia sasar.

Kasus Dobleh tentu sangat berbeda dengan yang dialami oleh Mbak Alexandra Elbakyan dari Universitas Kazakhstan. Mbak Elbakyan ini nggak punya akses penuh ke artikel-artikel yang dia butuhkan untuk penelitiannya. Dan tentu saja dia tidak mau dengan serta merta merogoh kocek senilai 36 dolar untuk tiap artikel yang ingin dia baca. Lha, duite sopo?

Hal inilah yang membuat dirinya pada 2011 kemudian mengembangkan situs web bernama Sci-Hub. Sesuai dengan semboyannya, “The first pirate website in the world to provide mass and public access to tens of millions of research papers.” Hingga artikel ini ditulis, Sci-Hub sudah “membajak” lebih dari 87.977.763 artikel ilmiah. Bahkan ulang tahunnya yang ke-10 pada 5 September 2021 yang lalu pun dirayakan dengan membuka akses terhadap 2 juta artikel berbayar.

Dengan jumlah artikel sebanyak itu, seharusnya Sci-Hub dapat masuk Guinness World Records, sih. Sayangnya, hal tersebut sepertinya tidak mungkin karena keberadaan Sci-Hub saja sudah dianggap ilegal dan membuat gerah para penerbit komersial. Bahkan beberapa tuntutan hukum sudah dilayangkan kepada Mbak Elbakyan oleh penerbit-penerbit komersial terkait dengan hak cipta.

Bayangkan saja, 36 dolar dikali 87 juta artikel. Penerbit-penerbit tersebut sudah mengalami “kerugian” setidaknya 3 miliar dolar alias 44 triliun rupiah, dengan catatan masing-masing artikel hanya diunduh satu kali. Padahal kenyataannya ada jutaan artikel yang diunduh lebih dari satu kali. Tentu saja ini jumlah yang sungguh tidak kaleng-kaleng dari sebuah komersialisasi ilmu pengetahuan.

Meskipun demikian, dukungan publik untuk Sci-Hub nyatanya masih kuat. Seperti yang disampaikan oleh John Bohannon pada 2016, salah satunya karena semua orang mengunduh artikel melalui situs Sci-Hub dan mendapatkan manfaatnya. Selain itu, komunitas akademisi juga sudah gerah dengan kelakuan penerbit yang semakin semena-mena. Petisi The Cost of Knowledge dan Universitas California contohnya, menyusul ratusan institusi di Jerman dan Swedia.

Banyak yang menyebut Mbak Elbakyan sebagai Robin Hood ilmu pengetahuan dengan Sci-Hub nya. Tanpa perlu baliho kepak Sci-Hub di tiap perempatan pun, dia sudah sangat populer. Padahal Sci-Hub sebenarnya tidak perlu ada, apabila ilmu pengetahuan tidak diprivatisasi dan dimonopoli oleh salah satu pihak. Ia akan hilang dengan sendirinya dan hanya tersisa 404: Not found.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2021 oleh

Tags: ilmu pengetahuanjurnalSci-Hub
Bachtiar Mutaqin

Bachtiar Mutaqin

Bapak-bapak yang malas mandi.

ArtikelTerkait

Dari Mbak Nora Kita Belajar, Kebebasan Ekspresi Bukan Tanggung Jawab Pasangan 5 Hal Yang Bisa Diteladani Kaum Muda dari Sosok Jerinx ilmu pengetahuan dan teori konspirasi

Kesamaan Ilmu Pengetahuan dan Teori Konspirasi yang Tidak Pernah Kamu Pikirkan Sebelumnya

1 Mei 2020
Bercinta Dengan Langit

Bangsa Kita Pernah Bercinta Dengan Langit, Lalu Sekarang Bagaimana?

24 Juli 2019
sains kesurupan fenomena riset jurnal mojok

Di Mata Sains, Kesurupan Bukan Perkara Menyeramkan

30 September 2020
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

9 Desember 2023
Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh Terminal Mojok jurusan ilmu perpustakaan

Ironi Perpustakaan Sekolah, (Katanya) Gudang Ilmu tapi Nyaris Tak Tersentuh

15 September 2022
hypatia

Malangnya Nasib Hypatia Gadis yang Dibunuh karena Penelitian Ilmiah

2 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Purwokerto dan Purwakarta, Bikin Kurir Ekspedisi Kena Mental (Unsplash)

Purwokerto dan Purwakarta: Nama Mirip Beda Provinsi yang Bikin Paket Nyasar, Ongkir Membengkak, dan Kurir Ekspedisi Kena Mental

19 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026
Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

19 Januari 2026
5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok  Mojok.co

5 Hal yang Baru Terasa Mahal Setelah Menikah, Bikin Syok 

18 Januari 2026
4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang Mojok.co

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.