Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Balon Udara Ponorogo: Apakah Tradisi Perlu Dipertahankan Jika Penuh Bahaya?

Arif Fadil oleh Arif Fadil
31 Mei 2021
A A
balon udara tanpa awak ponorogo mojok

balon udara tanpa awak ponorogo mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Jika orang daerah lain berlebaran dengan ketupat dan baju baru, sebagian warga Ponorogo masih perlu balon udara sebagai pelengkap. Balon udara di sini merujuk pada objek udara yang biasanya terbuat dari plastik dan diterbangkan dengan sumbu. Sumbu tersebut menghasilkan uap panas sehingga membuat balon udara dapat terbang. Tradisi ini sebenarnya tak hanya ada di Ponorogo. Namun, sepanjang berita setiap lebaran, Ponorogo seakan tak pernah luput dengan pemberitaan warganya yang sembunyi-sembunyi menerbangkan balon udara.

Pemerintah daerah sebenarnya sudah melarang penerbangan balon udara tanpa awak ini. Bahkan, polisi selalu berpatroli untuk menggagalkan penerbangannya. Namun, bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan, penerbangan balon udara tanpa awak tetap saja banyak. Tercatat sampai tanggal 17 Mei 2021, polisi sudah mengamankan 130 balon. Itupun masih belum ditambah dengan balon yang berhasil mengudara sampai saat ini.

ADVERTISEMENT

Pertanyaannya jika dilarang, mengapa tetap saja ada yang menerbangkannya? Lalu kenapa tradisi ini dilarang? Bukankah ini perayaan yang dilakukan hanya setahun sekali?

Jika Anda adalah warga Ponorogo dan pengamat media sosial khususnya Facebook, tentunya sudah sangat paham dengan alasan penerbang balon udara.  Dalih tradisi yang mesti dijaga seakan menjadi dinding Maria yang tak bisa ditembus dengan argumen macam apa pun. Baliho sebesar gaban yang dipasang di sudut kota, maupun bende yang diinisialisasi pihak desa-desa di Ponorogo agaknya masih perlu ditingkatkan efektivitasnya.

Soal sejak kapan tradisi menerbangkan balon udara di Ponorogo masih menjadi misteri. Saling klaim pun menjadi pemantik api di hari raya. Ada yang menyebut tradisi ini dimulai dari abad ke-7 ketika masyarakat mulai mengenal kertas hingga era Bathara Katong. Namun, sumber macam ini kurang akurat karena tidak ada catatan sejarah yang dapat diuji secara metodologis.

Saya sendiri punya pandangan lain selain tradisi tentang mengapa “tradisi” ini masih subur di masyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwa momen hari raya adalah salah satu puncak suka cita masyarakat. Momen ini kemudian ditandai dengan peluncuran balon udara. Ada semacam penyimbolan terkait ini. Mengingat masyarakat kita sangat menyukai berbagai macam simbol-simbol.

Selain itu banyak masyarakat Ponorogo yang merantau keluar daerah untuk bekerja. Pada momen lebaran inilah mereka pulang ke kampung dan bertemu dengan teman-teman sepermainan yang sudah terpisah. Dengan adanya tradisi ini, akan menarik orang-orang untuk berkumpul di satu titik. Entah ikut menerbangkan atau hanya sekedar menyaksikan dan mengabadikan lewat cerita berjalan.

Lalu kenapa menerbangkan balon udara ini dilarang jika memang demikian? Jika alasan selama ini adalah membahayakan penerbangan udara, bukankah saat ini sedang pandemi dan maskapai udara tidak begitu banyak? Tunggu dulu jangan cepat mengambil kesimpulan.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo

Memang maskapai udara sedang dihantui oleh pandemi, namun apakah balon udara dapat memilih tempat yang tepat untuk mendarat? Bagaimana jika balon tersebut bersandar di tempat yang salah seperti kabel listrik? Bagaimana jika menimbulkan kebakaran seperti di salah satu sekolah SMK yang pernah terbakar karena balon tersebut? Belum lagi risiko mercon yang menjadi bagian tak terelakkan di balon ini.

Perlindungan di bawah naungan “tradisi” pun seharusnya juga tidak serta merta menutup mata kita akan bahaya yang ditanggung.

Tapi, kan tradisi harus tetap dijaga?

Iya benar, tradisi memang tradisi sudah seharusnya dijaga. Namun apakah setiap tradisi harus dijaga, bahkan jika tidak sesuai dengan perkembangan zaman?

Gampangnya begini, tradisi itu tidak jauh dari warisan. Bayangkan ketika kakek nenek kita mewariskan sebuah pesawat telepon yang sudah jadul. Apakah kita akan tetap menggunakannya seperti jaman kakek nenek kita dahulu? Tentunya saat ini sudah ada perkembangan teknologi yang lebih baik.

Mungkin contoh di atas kurang dapat mewakili. Namun, secara garis besar kita mesti dapat memilah tradisi mana yang dapat lestari. Terlebih jika hal itu berkaitan dengan keselamatan orang banyak. Dahulu belum ada sutet dan kabel-kabel listrik, rumah belum sepadat era kiwari. Orang bisa dengan lega dan bahagia menerbangkan balon udara tanpa awak. Saat ini??

Jika balon udara terpaksa tidak dapat mengudara pada suatu masa, bagaimana dengan simbol hari raya? Apakah nantinya hari raya jadi berbeda karena simbolnya hilang? Tentunya tidak. Masih banyak tradisi lain yang bisa mewakili hari raya, tentunya tanpa menghilangkan kekhasan daerah tersebut. Misalnya gajah-gajahan atau bahkan reyog sekalipun.

Pemerintah daerah mulai beberapa tahun yang lalu pernah mengadakan festival balon udara tanpa awak yang diterbangkan tanpa sumbu dan petasan. Meskipun, suasana yang dirasakan berbeda dengan penerbangan pada umumnya. Namun, tetap saja jika diadakan dengan kemasan yang bagus dapat menarik masyarakat pada umumnya. Atau mungkin ada yang berinisiatif membuat balon udara dengan remote control ?

Akhirnya saya harus mengakui bahwa yang kita anggap tradisi sekalipun harus melihat faktor perubahan zaman. Saya sendiri sangat suka melihat balon udara. Namun, saya lebih menyukai tidak ada korban harta benda yang hangus karena balon tersebut.

BACA JUGA 4 Tempat Wisata Unik di Ponorogo dan tulisan Arif Fadil lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Desember 2021 oleh

Tags: balon udaraNusantara Terminalponorogotradisi
Arif Fadil

Arif Fadil

Pengajar bahasa Indonesia yang berasal dari Ponorogo. Menyukai isu-isu humaniora.

ArtikelTerkait

Rekomendasi Tempat untuk Menikmati Kesedihan di Jogja bagi Kaum Ndlosor terminal mojok

Rekomendasi Tempat untuk Menikmati Kesedihan di Jogja bagi Kaum Ndlosor

17 Juni 2021
tukang masak

Pesta, Peran Penting Tukang Masak dan Kebaikan yang Kalian Peroleh

13 Juli 2019
Jalanan di Kecamatan Jenangan Ponorogo Rusak Karena Truk ODOL, Membahayakan tapi (Seakan) Diabaikan

Jalanan di Kecamatan Jenangan Ponorogo Rusak Karena Truk ODOL, Membahayakan tapi (Seakan) Diabaikan

11 Juni 2025
Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal Mojok.co

Repotnya Mahasiswa Asal Ponorogo yang Kuliah di Malang, Mudik jadi Barang Mahal

10 November 2023
Membandingkan Kabupaten Ponorogo dan Trenggalek. Mana yang Lebih Maju?

Ponorogo, Kota dengan Sejuta Julukan

26 Juli 2023
7 Hal Positif yang Hanya Akan Kamu Temukan di Bus Ponorogo-Trenggalek telolet bus

7 Hal Positif yang Hanya Akan Kamu Temukan di Bus Ponorogo-Trenggalek

18 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tegalrejo, kecamatan uderrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita Mojok.co

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

20 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Ngeri! Rekening Bank Mandiri bisa diblokir atas permintaan aparat (Unsplash)

Rekening Bank Mandiri hilang sekali klik sukses melahirkan rasa takut karena pemblokiran tanpa proses hukum bisa menimpa siapa saja

24 Agustus 2026
Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang Mojok.co

Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang

24 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.