Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

4 Tempat Wisata Unik di Ponorogo

Muhammad Mawin Asif Hakiki oleh Muhammad Mawin Asif Hakiki
9 Desember 2020
A A
4 Hal Yang Perlu Diketahui Wisatawan Ponorogo Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Banyak sekali objek yang bisa dijadikan tujuan wisata dari segi historis di Indonesia. Baik itu berupa cerita yang dikisahkan turun-temurun, prasasti peninggalan yang masih dirawat hingga kini, dan jajanan sekalipun. Dari segi pemberdayaan, objek yang bisa dijadikan tujuan wisata tersebut perlu diberi ruang untuk bisa masuk ke zaman modern seperti sekarang.

Di Ponorogo misalnya, beberapa tempat wisata di Ponorogo memiliki sejarah yang perlu diketahui para wisatawan. Siapa tahu ada yang nggak sengaja lewat Ponorogo, mungkin bisa mampir ke sana berkat tulisan ini.

#1 Pementasan reog tiap bulan di tiap desa

Tulisan “Reog Ponorogo”, yang selalu tertulis di dekat topeng berkepala macan yang ditunggangi merak, adalah salah satu aset andalan dari kota ini. Setiap tahun, pementasan reog dijadikan lomba yang boleh diikuti oleh umum, tepatnya pada saat menjelang suro. Namun, pada pemerintahan yang dipimpin bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, budaya reog seakan diperkuat kembali bagi masyarakat Ponorogo sendiri. Sebab, dari rata-rata kemenangan sayembara pementasan reog yang dilaksanakan selama ini, dominan diraih oleh peserta grup reog yang berasal dari luar kota Ponorogo.

Oleh karena itu, bupati Ipong Muchlissoni mengerahkan setiap kepala desa pada tahun 2019 lalu agar menggunakan dana APBD secara maksimal. Salah satunya dengan mempersiapkan pementasan reog di desa masing-masing setiap bulan, tepatnya setiap tanggal 11. Hal ini tentu merupakan wujud apresiasi budaya dan bertujuan membangkitkan semangat warga desa, khususnya muda-mudi untuk terus mementaskan reog di tiap desa. Dengan demikian, generasi selanjutnya dapat lebih mengenal budaya serta belajar berkontribusi sejak dini.

Di sisi lain, pementasan reog yang dilakukan setiap bulan memudahkan wisatawan yang hendak mencari tujuan wisata ketika liburan ke Ponorogo. Para wisatawan tidak perlu khawatir lagi menunggu setahun sekali untuk melihat pertunjukan reog secara gratis.

#2 Budaya larungan Telaga Ngebel

Salah satu tempat wisata di Ponorogo yang direkomendasikan sebagai tempat untuk melamun dan meningkatkan imun tubuh adalah pinggir Telaga Ngebel. Suasana danau yang asri, nyes-nyes plus hening di sana tentu cocok dinikmati berdua, bertiga, berempat bahkan sekeluarga. Ada juga buah musiman yang tentu yahud dinikmati di tempat, yaitu durian Ngebel yang setiap waktu tertentu panen massal. Wisatawan luar kota tidak perlu takut kelaparan apabila berkunjung ke Telaga Ngebel, karena di pinggiran danau tersedia beberapa penjual makanan.

Di balik keindahan tempatnya, ada kewajiban yang perlu dilaksanakan khususnya oleh warga sekitar Telaga Ngebel setahun sekali, yakni “Larungan”. Acara Larungan mencerminkan rasa syukur seluruh masyarakat terhadap hasil panen selama setahun penuh dan wujud kepedulian terhadap sesama lewat berbagi atas apa yang kita punya. Acara ini identik dengan adanya tumpeng. Tumpeng dalam acara Larungan terbagi menjadi tiga macam, yakni tumpeng yang terbuat dari beras merah (tumpeng inti), tumpeng untuk sedekah bumi, dan tumpeng purak yang berasal dari sekumpulan hasil panen warga sekitar seperti buah dan sayur.

Dalam praktiknya, budaya Larungan diawali dengan tarian dari para perempuan desa sekitar dengan pakaian pernak-perniknya. Kemudian dilanjut acara arak-arakan tumpeng berkeliling danau diikuti masyarakat di belakangnya. Sesudah itu, tumpeng agung yang terbuat dari beras merah dengan kepala kerbau dibawa menggunakan rakit menuju ke tengah danau untuk dilarung (dihanyutkan) oleh bupati Ponorogo. Sedangkan tumpeng yang lain langsung dibagi-bagikan kepada wisatawan atau warga Ponorogo yang mengikuti acara budaya Larungan tersebut.

Baca Juga:

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal

#3 Kampung Patriot

Pada tahun 2008, Kampung Idiot pernah masuk dalam pemberitaan, baik di dalam negeri dan luar negeri, karena keunikannya. Kampung Idiot adalah sebutan yang hiperbola bagi saya, sekaligus penyebab stigma negatif terhadap setiap penyandang tunagrahita di Desa Karangpatihan Ponorogo. Waktu itu ada ratusan warga yang didata mengalami keterbelakangan mental, tuli, bisu dan lemah dalam berpikir. Rata-rata dalam satu keluarga di kampung itu terdapat salah seorang anggota keluarga yang mengalami gangguan baik secara fisik maupun mental.

Secara historis, penyebab ratusan orang keterbelakangan mental tersebut dimulai dari krisis pertanian total yang terjadi pada kisaran tahun 1960. Saat itu warga di Desa Karangpatihan mengalami kekurangan bahan pangan. Tidak hanya lauk-pauk, bahan makanan pokok juga diganti dengan nasi tiwul yang terbuat dari gaplek. Kesulitan tersebut juga dialami oleh kebanyakan ibu yang sedang hamil. Akibatnya, banyak calon bayi yang kekurangan gizi sejak dalam kandungan.

Dulu, setelah berita mengenai warga Desa Karangpatihan viral, bantuan dari segala penjuru sontak berdatangan dan sedikit meningkatkan taraf hidup warga khususnya yang berkebutuhan khusus. Segala sesuatu yang berlebihan itu pasti tidak baik, sama halnya dengan bantuan dari pihak luar desa. Hal ini berimbas pada ketergantungan warga terhadap bantuan yang datang. Bisa diartikan warga luar desa berniat menolong, namun secara tidak langsung juga makin memperlemah mental warga tunagrahita untuk hidup mandiri.

Untuk memberantas kecanduan berat yang terjadi, pengurus desa mengajak sekaligus mengajarkan pada setiap warga tunagrahita untuk berkarya, bahkan digadang-gadang mampu membuat produk yang dapat menghasilkan keuntungan. Kinerja kreatif itulah yang kini berfungsi ganda, yakni sebagai alternatif daya tarik wisatawan untuk melihat langsung proses kreativitas dari warga tunagrahita di Desa Karangpatihan. Desa Karangpatihan kini mampu menjadi salah satu tempat wisata di Ponorogo yang banyak dikunjungi wisatawan. Ini membuktikan bahwa orang dengan kebutuhan khusus juga mampu bekerja layaknya orang normal.

Perihal nama Kampung Idiot, tentu lebih baik diubah julukannya menjadi Kampung Patriot. Sebab, selain warga tunagrahita di sana mencintai tanah air, mereka juga mencintai keluarga mereka. Tidak sedikit dari mereka yang kini sudah mampu menjadi tulang punggung keluarga.

#5 Gethuk golan serta cinta yang tak direstui

Dari beberapa jajanan pasar khas Ponorogo, ada satu jajanan yang dinamakan sesuai dengan daerah asal pembuatannya, yakni gethuk golan. Terbuat dari singkong yang disandingkan dengan ketan, parutan kelapa, dan gula jawa yang digebyur di atasnya, gethuk golan biasa dihidangkan di atas daun pisang. Hmmm, jadi terbayang kenikmatannya.

Dibalik nama Desa Golan yang terkenal dengan getuknya, terdapat sebuah desa di seberangnya yang bernama Desa Mirah. Kedua desa tersebut dulunya dikenal akur sebelum ada sepasang kekasih yang tak direstui oleh orang tua kedua belah pihak. Konon, Ki Honggolono, calon mertua Mirah Ayu, mengeluarkan sumpah serapah yang dipercayai oleh masyarakat sekitar hingga sekarang. Inti dari sumpah yang disabdakan oleh ayah dari Joko Lancur atau pemuda dari Golan tersebut adalah kekayaan alam dari Golan tak akan bisa dibawa ke Mirah, dan barang kepunyaan Golan dan Mirah akan selamanya berpisah.

Sekadar percaya tanpa mengimani loh ya. Sebab, menurut saya mitos itu boleh jadi doa orang terdahulu yang dikabulkan hingga sekarang, sehingga cukup kita hormati dan tidak perlu disepelekan.

Uniknya, konflik antardesa tersebut dibenarkan menurut beberapa cerita dan bukti dari warga desa. Misalnya, air sungai yang melintas di antara kedua desa tersebut terbagi menjadi dua warna layaknya hubungan yang tak direstui. Contoh lain, suatu ketika ada acara pernikahan antara warga Desa Golan dan Desa Mirah, air yang dimasak untuk acara pernikahan tersebut tak kunjung matang hingga acara berakhir.

Tak ada salahnya memasukkan Desa Golan sebagai tempat wisata di Ponorogo yang layak dikunjungi. Berburu gethuk golan sekaligus menyambangi sungai yang melintasi Desa Golan dan Desa Mirah bakal jadi kenangan yang tak terlupakan selama berwisata di Ponorogo.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Penjelasan Tatakan Mangkuk Dawet Jabung Ponorogo Tak Boleh Dipakai Pembeli

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Desember 2020 oleh

Tags: ponorogowisata
Muhammad Mawin Asif Hakiki

Muhammad Mawin Asif Hakiki

Buruh mebel yang sesekali upload foto instagramable dan seringkali beranagram

ArtikelTerkait

Ngapain sih (Masih) Nekat Berlibur di Puncak Saat Libur Panjang? Udah Jelas-jelas Bakal Macet Nggak Ngotak, Masih Aja ke Sana puncak bogor

Ngapain sih (Masih) Nekat Berlibur di Puncak Saat Libur Panjang? Udah Jelas-jelas Bakal Macet Nggak Ngotak, Masih Aja ke Sana

27 Januari 2025
5 Hal yang Bikin Sate Ayam Ponorogo Istimewa Terminal Mojok

5 Hal yang Bikin Sate Ayam Ponorogo Istimewa

16 Januari 2022
Orang Bali Sulit Menikmati Wisata di Tanah Kelahirannya Sendiri kuliah di bali

Orang Bali Sulit Menikmati Wisata di Tanah Kelahirannya Sendiri

17 Januari 2024
Ubah Jalan HOS Cokroaminoto Ponorogo Jadi Mirip Jalan Malioboro Adalah Gagasan yang Maksa terminal mojok.co

Ubah Jalan HOS Cokroaminoto Ponorogo Jadi Mirip Jalan Malioboro Adalah Gagasan yang Maksa

16 Juli 2021
Warung Kopi Legendaris di Ponorogo yang Perlu Didatangi

Warung Kopi Legendaris di Ponorogo yang Sayang untuk Dilewatkan, Wajib Mampir!

20 Juli 2023
Tips Wisata ke Lombok Budget Kere Hore Bagi Sobat Dompet Tipis Terminal Mojok

Tips Wisata ke Lombok Budget Kere Hore Bagi Sobat Dompet Tipis

9 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang Mojok.co

Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang

22 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.