Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pemakaian Batik yang Selalu Dihubungkan dengan Pergi Kondangan Itu Menyebalkan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
29 Agustus 2019
A A
kemeja batik

kemeja batik

Share on FacebookShare on Twitter

Sedari kecil, saya selalu dibiasakan mengenakan pakaian bercorak batik oleh Bapak. Sebagai seseorang yang mencintai budaya tempat kelahirannya, Bapak ingin anaknya sejak kecil dapat melestarikan salah satu budaya Indonesia tersebut. Tidak terbatas pada jenis kemeja yang bercorak batik, kaos pun tidak masalah.

Bapak yang senang dengan aneka batik, dan saya yang mulai nyaman mengenakannya menjadi satu kesatuan dan selalu berakhir pada pembelian kemeja batik setiap beliau pergi dinas ke beberapa wilayah yang memiliki corak khas asal daerahnya. Pada masanya, hal tersebut akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang terus dilakukan. Setiap pulang dinas, Bapak pasti membelikan satu kemeja batik untuk saya.

Lambat laun, saya pun memiliki rasa suka dan kenyamanan tersendiri sewaktu mengenakan batik. Perlahan, ada rasa bangga ketika mengenakan segala sesuatu yang berkenaan dengan batik. Kebiasaan ini pun terbawa hingga memasuki masa kuliah, tak jarang saya mengenakan sesuatu yang bercorak batik—bisa kaos, gelang, atau pun kemeja.

Selama kuliah, ketika proses belajar mengajar saya terbiasa mengenakan kemeja dan motif batik. Saya sendiri merasa pede dan nyaman saja, apalagi batik itu kan milik Indonesia—menjadi salah satu ciri dan karakter budaya. Jadi, tentu saya merasa tidak ada yang salah dari pemikiran dan apa yang saya lakukan.

Sampai akhirnya, dalam suatu kesempatan dan hari yang sama, beberapa teman saya bertanya hal yang template—itu-itu saja dan sama persis, “rapi banget pake batik, ada kondangan di mana?”. Begitu yang mereka katakan, tidak sekali dua saya menerima pertanyaan yang sama, di hari yang sama, pada hari-hari berikutnya juga ketika saya mengenakan batik, apa yang disampaikan oleh teman-teman selalu sama. Antara “rapi banget” dan “mau kondangan di mana”.

Ada, sih, satu pertanyaan lain yang berbeda—akhirnya tidak template—“mau rapat di desa mana Pak RT?”. Intinya, sih, sama. Mempertanyakan kenapa saya mengenakan batik dan terbilang rapi, seolah akan pergi ke pesta atau suatu acara. Yang lebih ekstrim lagi, teman saya sempat ada yang menyampaikan begini, “gue pernah baca, orang yang selalu pake kemeja itu bisa dikategorikam gila hormat. Nah, lo kan sering pake kemeja batik, nih. Jangan-jangan lo gila hormat?!”.

Belum tahu pasti apakah teman saya berbicara demikian bersadarkan penelitian ilmiah atau tulisan yang dibaca hanya berlandaskan prasangka saja, yang jelas itu merupakan suatu tuduhan yang tidak memiliki dasar. Apa iya, saya yang mencoba rapi dalam keseharian, menghargai diri sendiri dalam berpakaian, sekaligus ingin belajar melestarikan warisan budaya leluhur, kemudian langsung dicap gila hormat. Kan, aneh.

Sebagaimana diketahui bersama, beberapa tahun silam, batik sempat diklaim milik negara tetangga. Pada masa itu, banyak orang Indonesia berapi-api menyerukan bahwa itu adalah milik Indonesia dan merupakan salah satu warisan budaya dari para leluhur. Kala itu, masyarakat di Indonesia bersatu dan satu suara. Belum lagi gerakan di media sosial yang terbilang masif menuntut PBB agar segera memberi pernyataan bahwa sejatinya adalah milik Indonesia. Sampai pada akhirnya, batik resmi diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 02 Oktober 2009.

Baca Juga:

Alasan Saya Bertahan dengan Mesin Cuci 2 Tabung di Tengah Gempuran Mesin Cuci yang Lebih Modern 

Sumbangan Pesta Hajatan di Gunungkidul, Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

Apakah pantas dan layak, ketika ada seseorang yang menggunakan batik, ealah malah dibercandain dengan pernyataan atau pertanyaan yang nggak penting. Dibilang mau pergi kondangan lah, ditanya mau rapat di mana lah. Memangnya kalian pikir, seseorang yang menerima kalimat itu tidak jengkel? Saya pribadi, sih, amat sangat jengkel dan risih. Meski tidak mengurangi sedikit pun keinginan saya untuk tetap mengenakan motif tradisional ini dalam berbagai kesempatan.

Percayalah, batik itu bukan hanya untuk kondangan, bukan hanya untuk suatu acara tertentu. Sejatinya ia dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan sesuai dengan kebutuhan—tidak terbatas pada penggunaan atau momennya. Dikenakan dalam acara apa pun, selama masih berbanding lurus dengan tema dan menyesuaikan acara, semuanya sah-sah saja dan tiada salah.

Dan untuk kalian-kalian yang selalu mengaitkan batik dengan kondangan, apa nggak bosan dan nggak malu? Selain sudah tidak lucu, apa yang disampaikan itu betul-betul template dan usang. Sebelum saya akhiri tulisan ini, izinkan saya untuk memberi penegasan juga bahwa, selain hal tersebut menyebalkan, baiknya budaya yang sudah diakui dunia itu dipertahankan. Bukan dijadikaan bahan olokan. (*)

BACA JUGA Stroke: Susahnya Mengatur Pola Makan di Negara Kuliner Terbaik Dunia atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2022 oleh

Tags: batikBudaya IndonesiaKondanganpakaian
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Standing Party: Konsep Praktis yang Nggak Memuliakan Tamu

Standing Party: Konsep Praktis yang Nggak Memuliakan Tamu

11 November 2022
Hari Raya Ketupat

Tradisi Hari Raya Ketupat di Kota Bitung Sebagai Solusi Mempersatukan Masyarakat

21 Juni 2019
Berusaha Memahami Hobi Sound System yang Terlanjur Dibenci Banyak Orang Mojok.co

Berusaha Memahami Hobi Sound System yang Terlanjur Dibenci Banyak Orang

17 November 2023
Nggak Habis Pikir Sama Orang yang Tidak Menghabiskan Makanan Hajatan terminal mojok.co

Nggak Habis Pikir sama Orang yang Tidak Menghabiskan Makanan Hajatan

18 Oktober 2020
Sumbangan Pesta Hajatan di Gunungkidul, Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

Sumbangan Pesta Hajatan di Gunungkidul, Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

30 April 2025
Cara Orang Sumatera Selatan Memaksa Orang Datang ke Kondangan

Cara Orang Sumatera Selatan Memaksa Orang Datang ke Kondangan

8 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

11 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.