Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Seharusnya Utang Piutang Masuk dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia

Hepi Nuriyawan oleh Hepi Nuriyawan
22 Februari 2021
A A
Seharusnya Utang Piutang Masuk dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia terminal mojok.co

Seharusnya Utang Piutang Masuk dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Utang piutang itu bukan hal sepele, loh! Perlu dipelajari dengan matang supaya kita punya dasar yang kuat saat dewasa nanti.

Beberapa hari lalu, saya bersama salah seorang staf saya berkunjung ke rumah salah seorang anggota koperasi (sebut saja nasabah kalau di bank). Namanya Pak Sukin. Menurut data kolektibilitas di kantor, Pak Sukin (bukan nama sebenarnya) memiliki track record angsuran yang cukup jelek. Hampir selama setahun ini beliau sama sekali tidak pernah mengangsur.

Saya baru dua kali kunjungan ke rumah beliau. Kunjungan pertama diterima cukup baik sambil memperkenalkan diri. Nah, yang kedua ini agak berbeda (dan membuat jantung berdegup kencang). Bagaimana tidak? Ketika saya memberikan pemahaman agar segera melunasi angsuran, beliau langsung naik darah. Padahal, nada dan penyampaian saya ke Pak Sukin saya rasa sudah sangat halus.

“Njenengan ini masih muda, lebih muda dari saya. Nggak usah sok menasehati saya. Kalau mau gelut, ayo gelut. Saya masih punya tenaga, Mas,” jawab beliau dengan nada keras diikuti dengan gerakan menggebrak meja. Sontak kami berdua kaget, khususnya saya sendiri karena sebagai aktor penyulut kemarahan beliau.

Saya diam saja. Tidak membalas ucapan atau tindakan. Walau saya muda, memilih tubuh lebih besar, dan bisa bela diri, saya tidak mau melawan orang yang sudah sepuh. Selain itu, saya juga berusaha menjaga nama baik perusahaan dan keluarga Pak Sukin, serta menjaga kondisi lingkungan agar tetap kondusif. Bayangkan kalau ada ribut-ribut di depan rumah beliau, pasti akan banyak warga yang berkerumun di depan rumahnya. Dan itu membahayakan jiwa kami berdua.

Sepulang dari rumah anggota, saya langsung memikirkan soal utang piutang. Tentu persoalan ini akan kita temui setiap hari dan selama kita hidup. Entah kita menjadi pihak yang berutang, atau pihak yang memberi utang. Harusnya, persoalan utang piutang bisa dijadikan sebagai mata pelajaran di kurikulum pelajaran Indonesia. Ya, cocoknya, sih, untuk bangku SMA. Mengapa demikian? Pasalnya, utang piutang itu menyangkut kehidupan kita secara langsung dan melibatkan dua atau lebih orang.

Saya sudah bekerja di koperasi simpan pinjam swasta selama empat tahun lebih. Sudah banyak peristiwa persoalan tentang utang piutang anggota. Mulai dari anggota ribut dengan keluarga anggota sendiri, kabur entah ke mana (seperti dia yang pergi tanpa kabar), sampai pada puncaknya yaitu penyelesaian lewat pengadilan.

Untuk itu, sudah waktunya menyisipkan materi utang-piutang ke dalam pembelajaran di sekolah. Kalaupun tidak menjadi mata pelajaran tersendiri, ya ada sub materi di beberapa pelajaran.

Baca Juga:

Menjamurnya Bimbel Bukan karena Pendidikan Kita Ampas, tapi karena Mengajar di Bimbel Memang Lebih Mudah

Dari Sekian Banyak Jurusan Pendidikan, Pendidikan Sejarah Adalah Jurusan yang Tidak Terlalu Berguna

Misalnya dalam pendidikan agama. Bagaimana menurut Fiqih para alim ulama atau imam-imam terdahulu tentang utang piutang. Kemudian pengetahuan tentang riba. Dengan menghadirkan beberapa pandangan maupun teori tentang riba oleh beberapa ulama terdahulu dan sekarang. Saya sering menemui beberapa anggota menggunakan “tameng” masalah bunga bank adalah riba. Namun, sudah tahu riba, kok, masih mau-maunya berutang di bank maupun lembaga keuangan lainnya? Giliran terlambat lama angsuran, pakai alasan “riba” sebagai salah satu benteng pertahanannya. Ini yang membuat kami sebagai collector jadi gemas.

Lalu bisa juga disisipkan dalam pelajaran Sosiologi dan Antropologi. Beberapa kasus terkait utang-piutang sampai melibatkan beberapa orang hingga terputusnya silaturahmi. Bahkan parahnya sampai terjadi pembunuhan. Nah, dalam pelajaran ini, utang piutang dibuat sebagai studi kasus hubungan antar manusia.

Bisa juga dengan materi mengutamakan pembayaran utang di atas segala-galanya. Jika pembayaran utang dilakukan sesuai dengan waktu dan perjanjian, akan terjalin kerja sama yang harmonis di antara dua insan. Namun, jika sekali saja telat pembayaran utang alias meleset dari janji, kepercayaan akan luntur. Ini yang perlu dipahami oleh semua orang. Bukan masalah uang saja tentang utang piutang, tapi juga masalah ikatan cinta persaudaraan antar umat manusia yang terlibat.

Selain itu, bisa juga diberikan materi tentang mengontrol emosi ketika penagihan. Emosi di sini bukan masalah marah-marah dan lain sebagainya. Bukan. Namun, bagaimana cara menjaga perasaan orang yang berutang ketika ditagih. Misal yang ditagih meleset janji bayar utangnya pasti ada sesuatu hal yang dihadapi. Mungkin gajian telat, baru sembuh dari sakit, atau hal-hal urgent lainnya. Kalaupun alasan itu mengada-ada, bisa dengan cara lainnya. Ya begitulah menagih utang, harus berlatih seni cara menagih yang baik dan benar.

Dan yang terakhir adalah dalam pelajaran Ekonomi. Di situ akan dilatih bagaimana membuat program ekonomi secara sederhana ketika terpaksa berutang maupun memberikan utang. Ada dasar penilaian ketika akan memberi utang, yang dalam istilah lembaga keuangan disebut dengan 5C. Character (karakter calon pengutang), Capital (modal untuk membayar utang), Capacity (kemampuan membayar utang), Condition of Economy (kondisi keuangan terbaru), dan Collateral (apabila menggunakan barang sebagai jaminan, nilainya bisa masuk atau tidak sesuai pokok yang dipinjam).

5C itu benar-benar dibutuhkan dalam proses utang piutang. Setidaknya memberikan gambaran ketika akan berutang maupun memberi utang. Yang berutang bisa mengukur kemampuannya sendiri kapan dan bagaimana melunasi utangnya. Yang memberi utang bisa menilai karakter dan lain-lain dari calon pengutang. Begitu juga dengan kekuatan ekonomi yang dimilikinya saat ini sebelum memberikan utang. Semua itu demi menjaga kesehatan jasmani, rohani, dan mental kedua belah pihak.

Begitu pentingnya untuk diadakan pelajaran utang piutang di sekolah. Alasan sederhananya adalah utang-piutang akan kita temui sepanjang jalan kehidupan kita. Mengingat pada usia remaja adalah masa-masa pubertas. Kebanyakan dari mereka masih dalam kondisi yang labil. Maka, dibutuhkan pengetahuan dasar yang kuat supaya hal ini tidak menimbulkan masalah yang serius saat dewasa nanti.

Seperti yang dilakukan Pak Sukin. Dia yang notabene sudah sepuh menyepelekan pembayaran utang sampai beberapa purnama lamanya. Hal ini bisa menjadi beban keluarganya karena masih ada tanggungan dalam keluarga Pak Sukin. Apalagi sistem lembaga keuangan masih mengenal istilah “denda” per hari jika terlambat. Jika ingin melunasi, otomatis akan menambah biaya yang dikeluarkan oleh Pak Sukin sendiri.

Untuk itu, pengetahuan tentang utang piutang menurut saya sangat penting sekali. Apalagi hidup di negara dengan masyarakatnya sangat majemuk dan berbagai latar belakang. Hal ini demi keberlangsungan masa depan yang lebih baik. Toh, utang piutang akan selalu kita temui. Entah sekarang atau nanti.

BACA JUGA Utang Itu Sensitif, Sampai-sampai Orang yang Minjemin Duit Jadi Sangat Menyebalkan dan tulisan Hepi Nuriyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2021 oleh

Tags: kurikulumMata PelajaranPendidikanutang piutang
Hepi Nuriyawan

Hepi Nuriyawan

Karyawan Swasta. Esais dari Purwokerto

ArtikelTerkait

Udah, Santai Aja Menyikapi SPP yang Bisa Dibayar Pakai GoPay!

Udah, Santai Aja Menyikapi SPP yang Bisa Dibayar Pakai GoPay!

18 Februari 2020
Anggapan Keliru Soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitu... terminal mojok.co

Anggapan Keliru soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitulah

2 Februari 2021
pascasarjana

Apa Iya, Pendidikan Pascasarjana Itu Pelarian Saja?

28 Agustus 2019
Apa Betul Sekolah Favorit Memang Begitu Menjanjikan?

Jangan Mudah Termakan Embel-embel Sekolah Favorit, Nanti Nyesel

22 Juli 2020
Kelas Unggulan: Proyek Ambisius Dunia Pendidikan yang Nggak Baik-baik Amat

Kelas Unggulan: Proyek Ambisius Dunia Pendidikan yang Nggak Baik-baik Amat

12 Oktober 2022
Membandingkan Platform Belajar Paling Asyik Antara Ruangguru dan Zenius terminal mojok.co

Ruangguru vs Zenius. Mana yang Paling Asyik?

6 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.