Utang Itu Sensitif, Sampai-sampai Orang yang Minjemin Duit Jadi Sangat Menyebalkan – Terminal Mojok

Utang Itu Sensitif, Sampai-sampai Orang yang Minjemin Duit Jadi Sangat Menyebalkan

Artikel

Entah sudah seberapa sering saya mendengar dan membaca cerita tentang menyebalkannya orang-orang yang utang alias minjem duit. Bermanis-manis saat mau minjem, tapi galak minta ampun saat ditagih. Sebagian malah ada yang langsung lupa ingatan secara tiba-tiba atau langsung hilang tanpa jejak.

Saya paham dan saya juga sepakat bahwa tingkah laku seperti itu memang sungguh sangat menyebalkan. Akan tetapi, perlu untuk teman-teman ketahui, bahwa bukan cuma orang yang minjem duit yang bisa menyebalkan, yang memberi utang pun ada yang menyebalkan, contohnya tetangga saya.

Tetangga saya itu (sebut saja namanya Mbak Mumu) sebenarnya cuma nyicilin barang, tapi karena ada tetangga (sebut saja namanya Mbak Mila) yang lagi butuh banget (duit), makanya dipinjemin. Nah, Mbak Mila ini ngutang ke Mbak Mumu karena waktu itu butuh duit untuk memperbaiki hapenya yang rusak. Maklum, Mbak Mila waktu itu baru akan memulai karirnya sebagai pedagang online, jadi tentu saja harus punya hape. Daripada beli baru, mending perbaiki hape lama yang masih bisa dipakai.

Berapa nominal uang yang dipinjam sama Mbak Mila, saya nggak tahu. Mmm… lebih tepatnya saya nggak mau tahu.

Singkat cerita, pada suatu hari terjadilah sebuah insiden salah paham antara Mbak Mumu dan Mbak Mila. Kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu sebenarnya, tapi baru saya ingat, wqwqwq.

Gara-garanya sih postingan di Facebook. Jadi, ada temannya Mbak Mila yang posting fotonya lagi makan sama Mbak Mila di sebuah rumah makan cepat saji. Mbak Mumu yang ngelihat postingan itu dengan perasaan emosi yang bergelora di dalam dada, langsung komen: “Wah, hebat yah, makan enak di luar bisa, utang nggak dibayar.”

Wadaw.

Tidak sampai di situ saja, karena Mbak Mumu juga langsung sebarin berita kalau Mbak Mila tuh sok-sok pamer lagi makan di luar, padahal utangnya aja belum dibayar. Hmm, hebohlah dunia pertetanggaan.

Baca Juga:  Memangnya Kenapa kalau Nggak Main Media Sosial?

Usut punya usut, ternyata Mbak Mila itu bukan sengaja nggak bayar utang, tapi memang waktu itu belum bisa bayar tepat waktu, soalnya bertepatan sama bayar kontrakan rumahnya, jadi minta tambah waktu 4 hari apa seminggu gitu, saya lupa. Mbak Mumu juga sudah iya-in. “Iya, nggak apa-apa,” begitu katanya.

Terus masalah foto itu, itu juga salah paham banget. Orang yang foto sama Mbak Mila itu adalah teman SMP-nya Mbak Mila. Mereka sudah lama banget nggak pernah ketemu karena temannya Mbak Mumu itu sudah tinggal di kota lain dan jarang ke kota asalnya karena terikat pekerjaan. Ketika mereka ketemu, itu pun secara nggak sengaja. Mereka ketemu di SPBU. 
Berhubung SPBU bukan tempat yang pas untuk ngobrol panjang lebar, akhirnya temannya Mbak Mila itu ngajakin ke rumah makan cepat saji yang tempatnya nggak begitu jauh dari SPBU tadi. Ngobrol sambil makan siang gitu ceritanya. “Nanti saya yang traktir,” begitu kata temannya Mbak Mila. Mungkin raut mukanya Mbak Mila waktu itu sudah kelihatan kalau lagi nggak punya duit lebih kali yah, hehehe. Bercanda, zheyenk.

Layaknya orang-orang di luar sana, pertemuan hari itu pun diakhiri dengan foto-foto. Ya gimana sih namanya juga baru ketemuan kan, yah. Nah foto-foto itulah yang diposting sama temannya Mbak Mila lalu disalahpahami sama Mbak Mumu. Dikiranya Mbak Mila sengaja nggak mau bayar utang karena mau gaya-gayaan makan enak di luar. Aiiishhh.

Komennya Mbak Mumu itu pun berbuntut panjang karena temannya Mbak Mila ikutan tersinggung. Ya iyalah, itu kan yang posting temannya Mbak Mila. Orang-orang yang baca komen itu bisa berpikiran kalau temannya Mbak Mila yang punya utang terus nggak mau bayar. Tahu sendiri, isu nggak bayar utang itu sebelas-dua belas sama isu pelakor-pebinor, sensitif dan gampang viral.

Baca Juga:  Jang Nara Main Drama Bareng Jung Yong Hwa, 'Sell Your Haunted House' Layak Masuk Daftar Drakor Tahun 2021 yang Wajib Ditonton

Saya juga nggak habis pikir, ini kan masih tetanggaan yah, kenapa nggak tanya langsung? Harus banget gitu menegur di kolom komentar media sosial dan cerita sama tetangga? Ya, saya paham itu duitnya dia, tapi kan ada yang namanya cari tahu atau konfirmasi.

Kalau dilihat dari sudut pandangnya Mbak Mila sendiri, masa iya sih ketika kita ditraktir teman lantas bilang: Nggak usah, mending bayarin utang saya aja. Kalau teman yang akrab banget sih mungkin bisalah yah. Kalau cerita Mbak Mila ini kan mereka baru ketemu setelah lama nggak pernah ketemu. Bilang kayak gitu apa nggak mempermalukan diri sendiri? Hadeh.

Ada juga tetangga yang bilang, makanya kalau kayak gitu nggak usah pamer. Loh, itu kan yang posting temannya Mbak Mila bukan Mbak Mila. Dia bahagia ketemu teman lamanya. Ya kali Mbak Mila mau ngelarang dengan alasan dia punya utang. Mbak Mila kan ditraktir, gimana sih? Suka bingung saya sama pemikiran sebagian orang.

Oh, atau mungkin maunya ngelapor dulu kali yah sama Mbak Mumu biar nggak salah paham. Mbak Mumu, ini saya lagi di kaepci, lagi makan, ditraktir sama teman. Tenang aja, saya ingat kok utang saya. Habis itu Mbak Mila malah disangka pamer lagi . Ditraktir aja kok pakai pamer segala. Ngapain lapor-lapor? Tuh, salah lagi kan Mbak Mila.

Tadinya saya pikir cerita tentang menyebalkannya orang yang kasih pinjaman itu cuma ada di FTV yang biasa ditonton sama ibu saya. Eh, tahunya di dunia nyata juga ada—meski nggak semenyebalkan cerita di FTV.

Saya pernah menonton satu episode. Ceritanya tuh, tokoh jahatnya suami istri. Nah, di akhir cerita, suaminya meninggal. Pas masih di pemakaman, eh… istrinya didatangi sama tiga orang bapak-bapak penagih utang. “Bu, bapak punya utang yang harus dilunasi sekarang juga karena sudah jatuh tempo, kalau tidak, rumah Anda akan kami sita.” Monmaap nih, Pak. Ya kali nagih utang di kuburan. Itu mau nagih utang apa mau ikutan acara uji nyali sih? Tapi balik lagi, namanya juga FTV. Memang ceritanya kadang tak ada logika, kayak lagunya Cik Momon.

Baca Juga:  5 Strategi untuk Tetangga Saya yang Sudah Bosan Diutangi Sahabatnya

Ujung dari cerita Mbak Mumu dan Mbak Mila itu diakhiri dengan Mbak Mila ngelunasin utangnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Mbak Mila juga minta maaf ke temannya. Bagaimanapun, Mbak Mila merasa nggak enak sama temannya. Mbak Mumu sih santai aja. Apalagi tetangga yang sudah gosipin Mbak Mila, semuanya biasa aja. Nggak ada yang gimana-gimana sama Mbak Mumu sekalipun mereka tahu bahwa Mbak Mumu salah paham. Ya iyalah, ntar kalau gosipin Mbak Mumu, lalu ketahuan, nggak dikasih nyicil panci lagi dong, wqwqwq.

Begitulah, orang yang minjem duit itu memang kadang menyebalkan, tapi yang minjemin duit juga bisa menyebalkan. Kalaupun jumlah orang seperti itu tidak banyak, setidaknya ada. Salah satunya ya, Mbak Mumu.

Kebaikan Mbak Mumu yang sudah mau minjemin duit ke Mbak Mila itu adalah satu hal yang tentu penting untuk diingat, tapi kesalahpahaman (kalau tidak bisa dibilang fitnah) dari Mbak Mumu juga adalah hal lain yang bisa untuk ditulis membuat Mbak Mila jadi malu.

BACA JUGA Rasanya Punya Mantan yang Menikah dengan Sahabat Sendiri dan tulisan Utamy Ningsih lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.