Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Malioboro, Saksi Pahit Cinta Tak Terbalas. Kencan Amburadul #13

Hepi Nuriyawan oleh Hepi Nuriyawan
14 Februari 2021
A A
malioboro ditolak cinta mojok

malioboro ditolak cinta mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Malioboro, tak bisa dimungkiri, punya pesona yang unik. Saya tidak sedang berusaha meromantisisasi Jogja, namun berbicara kenyataan. Malioboro menyimpan aura takjub yang terpancar dari orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Jogja. Malioboro pun menyimpan duka dan cinta orang yang—sialnya—jatuh cinta di Jogjakarta. Malioboro adalah saksi pahitnya cinta saya yang bertepuk sebelah tangan. Asu.

Suatu hari, masih dalam suasana orientasi mahasiswa baru alias ospek, saya dan beberapa teman mendirikan stand sebagai tempat display kegiatan yang dilakukan organisasi mahasiswa. Hal ini bertujuan untuk menjaring calon-calon regenerasi organisasi.

Hal yang tak sangka-sangka terjadi. Ketika saya kembali dari toilet, ada dua orang mahasiswi mengunjungi stand kami. Menurut info dari teman yang jaga stand, mereka lama berada di stand kami. Hanya saja karena saya baru saja dari toilet, jadi waktu ngobrolnya menjadi terasa kurang.

“Namanya siapa, Dek?” tanyaku kepada mereka.

“Aku Nisa, Mas. Kalau ini Risa.”

Saya pun melanjutkan obrolan dengan mereka berdua. Tapi, lambat laun saya mengobrol secara intens hanya ke Nisa. Kami pun bertukar informasi dari asal kota, nomor WhatsApp, dan ngekos di mana. Ternyata, dia adalah calon adik tingkatku di program studiku, Pendidikan Kimia. Mungkin kebetulan, mungkin memang rencana semesta yang membuat kami dipertemukan.

Seperti pada lelaki pada umumnya, saya pun mulai membribik Nisa via WhatsApp. Maklum, sebagai lelaki biasa, saya canggung kalau berbicara empat mata secara langsung di depan Nisa. Sejak kami berkomunikasi lewat chat, tiada hari yang terlewat tanpa chattingan dengan Nisa.

Beberapa waktu berjalan, saya mulai memberanikan diri untuk mengajaknya main dan makan bersama. Alhamdullillah dia selalu mau ketika diajak main dan makan berdua. Perlahan tapi pasti saya mulai menghilangkan rasa canggung di hadapan Nisa. Masa iya, mengajak main berdua malah sendirinya gugup? Lelaki macam apa itu?

Baca Juga:

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Kesawan, Malioboro Medan yang Penuh Sejarah dan Bikin Jatuh Cinta

Setelah mengajaknya main dan makan berdua, timbul perasaan suka dengan Nisa. Rasa yang bukan hanya sebatas kakak-adik tingkat saja, tapi lebih dari itu. Namun, saya belum berani mengungkapkan perasaan sesungguhnya ke Nisa.

Akhirnya saya mencari cara lebih agar bisa lebih dekat dan bisa mengungkapkan isi hati. Salah satunya dengan menjadi mentor dia. Pelajaran di kuliah tentu memiliki tingkat kesulitan lebih. Terlebih Nisa baru masuk kuliah dan pelajaran kimia di perkuliahan memang menguras tenaga dan pikiran. Saya pun dengan sukarela (dan sedikit modus juga) pasang badan menjadi mentor belajarnya.

Dengan jadi mentor, nyaris setiap hari kami belajar bersama. Maklum kami berdua adalah anak perantauan. Saya Purwokerto, dia Ponorogo. Jadi Sabtu dan Minggu kadang digunakan untuk belajar bersama, selain main berdua tentunya kalau tidak ada tugas dari dosen.

Namun, sampai menjadi mentor pun saya masih belum memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati sesungguhnya kepada Nisa. Beberapa teman yang tahu pun sudah mewanti-wanti agar jangan lama-lama. Tapi, ego ini masih menahan diri untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat.

Setelah dipikir matang-matang, kuputuskan untuk melakukan eksekusi perasaan ini ke negeri sebelah, yaitu Yogyakarta. Seperti kata Pak Anies Baswedan, “Setiap detik di Jogja adalah detik romantis.” Saya yakin ada kekuatan magis di sana yang bisa membuat impianku tercapai.

Saya mengajaknya pergi main agak jauh, yaitu Jogja. Saya belum pernah sama sekali mengajak main berdua dengan Nisa ke Jogja.

“Dek, besok sabtu main ke Jogja ya. Sekalian temenin mas ke UGM.” Pintaku ke Nisa. Saya memang ada urusan dengan kawan di UGM. Tapi, tidak lebih dari 30 menit.

“Hmmm, gimana ya, Mas? Jauh e.” Jawabnya agak ragu-ragu.

“Ga papa. Kita sekalian main ke malioboro. Belum pernah ke Jogja bareng kan kita, Dek?”

Setelah dibujuk rayu dan kuyakinkan, Nisa mengiyakan keinginanku untuk ke Jogja bersama. Sampai di sini saya sudah merasa lega dan ada bahagia-bahagia gitu.

Hari yang ditunggu pun tiba. Kami berdua ke Jogja naik motor dengan berboncengan. “Berani-beraninya aku bawa anak orang pergi jauh.” Dalam pikirku. Saya belum pernah mengajak seorang perempuan ke tempat jauh, berduaan lagi.

Perjalanan kurang lebih dua jam dan menguras tenaga akhirnya terbayarkan sudah. Kami sampai di Jogja. Kami mampir sebentar ke UGM untuk membayar utang urusan dengan kawan di sana.

Setelah itu, saya langsung membawa dia berkeliling Jogja. Mulai dari Taman Siswa, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, sampai pada tujuan sebenarnya, Malioboro. Saya sengaja memilih Malioboro sebagai destinasi terakhir agar momen “katakan cinta” pas di suasana malam minggu. Apalagi prakiraan cuaca sangat cerah, tidak akan ada hujan. Cocok bagi siapapun yang ingin melakukan aksi “tembak-menembak” ke gebetan di jalanan utara Keraton itu.

Akhirnya cakrawala menghadirkan semburat senja yang indah. Suasana Jogja menjadi sangat memukau akan keindahannya. Keramaian pelancong dari dalam maupun luar negeri, hiasan lampu dan ornamen khas budaya Jawa, serta cuaca yang mendukung sangat cocok untuk dijadikan momen istimewa. Hanya tinggal satu yang kurang : amunisi penembakan belum dikeluarkan.

Kami duduk di pedestrian Malioboro. Kebetulan ada bangku yang kosong yang memang disediakan untuk para wisatawan. Sambil menikmati ramainya orang dan kendaraan yang membelah jalan utama Yogyakarta itu dengan menyantap sepotong Roti’O yang masih hangat dan segelas teh Tong Tji.

Setelah melepas lelah sejenak, akhirnya momen itu tiba. Amunisi yang telah disiapkan dari kos dengan segera dikeluarkan.

“Dek, Mas sebenarnya mau ngomong sesuatu lho ke Adek.”

“Ada apa, Mas?”

“Jadi gini, Dek. Sebenarnya Mas tuh bingung mau ngomong dari dulu. Mungkin ini momennya pas buat kita. Jadi tuh intinya Mas suka sama Adek. Cinta sama Adek. Adek gimana ke Mas?”

Kulihat wajah ayunya. Tapi, ekspresi yang diharapkan seketika agak memudar. Dia kaget bercampur bingung. Seperti ada yang disembunyikan.

“Kenapa, Dek? Gimana Adek ke Mas?” Tegasku ke dia.

“Terima kasih, Mas, tapi maaf ya, Mas?” Jawab Nisa dengan suara lirih. Lirih sekali.

“Maaf kenapa, Dek? Adek nggak salah apa-apa kok.”

“Maaf ya, Mas. Nisa harus bilang ini. Sebenarnya Nisa sudah punya pacar di program studi lain. Sudah ada empat bulanan aku jadian sama dia, Mas. Maafin Nisa ya, Mas?”

Saya terdiam sejenak. Memang cuaca di Jogja sangat cerah. Namun, rasanya ada gelegar petir yang menyambar dalam dada. Memang saat itu tidak ada rintikan air hujan yang jatuh dari angkasa. Tapi, rasanya hati ini menjadi basah. Malu campur kecewa. Itulah yang kurasakan saat mendengar pengakuannya.

“Hmm ya udah kalau begitu, Dek.Nggak apa-apa kok. Semoga bahagia ya dengan dia. Yuk cepat-cepat dihabisin. Mbok kemalaman sampe kos.”

Niat sebelumnya memang ingin pulang tengah malam dari Jogja. Namun, terpaksa dipercepat. Ternyata seperti inilah rasanya patah hati. Menembak gebetan namun sudah punya pacar. Parahnya, saya tak pernah tahu kalau Nisa punya pacar selama empat bulan ini.

Saya jadi teringat pada suatu ungkapan dari Kahlil Gibran. Itu pun saya tahu dari cuplikan film 5 cm. “Cinta itu perlu diungkapkan. Tidak ada cinta yang tidak diungkapkan. Kecuali orang-orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri.”

Sejak saat itu, saya mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan cinta secepatnya. Jangan sampai terlambat. Kalau terlambat, ya wassalam. Selamat menikmati sakitnya patah hati.

*Kencan Amburadul adalah segmen khusus, kisah nyata, momen asmara paling amburadul yang dialami penulis Terminal Mojok dan dibagikan dalam edisi khusus Valentine 2021.

BACA JUGA Jogja, Sebaik-baiknya Solusi untuk Mengobati Patah Hatimu dan tulisan Hepi Nuriyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2021 oleh

Tags: kandasMalioboronembak pacar
Hepi Nuriyawan

Hepi Nuriyawan

Karyawan Swasta. Esais dari Purwokerto

ArtikelTerkait

Terima Kasih Magelang Atas Malioboro di Borobudur

Terima Kasih Magelang Atas Malioboro di Borobudur

15 Januari 2023
Nggak Usah Sok Ngomong Bahasa Jawa Saat Belanja di Malioboro, Nggak Semua Pedagangnya Orang Jawa Kok!

Malioboro Tanpa Kendaraan Bermotor: Memangnya Sudah Siap?

27 Oktober 2020
Titik Nol Jogja: Tempat Terbaik Wisatawan untuk Menonton Kemacetan dan Keruwetan Hidup Warga Jogja Mojok.co

Nol Kilometer Jogja: Titik Terbaik bagi Wisatawan Mengenal Kacaunya Kota Jogja

15 Februari 2024
Jogja Darurat Parkir 10 Juta Manusia Serbu Jogja saat Nataru (Unsplash)

10 Juta Manusia Banjiri Jogja Saat Libur Nataru padahal Jogja Darurat Parkir

23 Desember 2024
Jalan Dhoho Kediri, Pusat Kebudayaan dan Jalan Bersejarah yang Berpotensi Menyalip Malioboro sebagai Jujugan Wisata

Jalan Dhoho Kediri, Pusat Kebudayaan dan Jalan Bersejarah yang Berpotensi Menyalip Malioboro sebagai Jujugan Wisata

8 Agustus 2023
7 Perbedaan Becak Tokyo dan Becak Malioboro terminal mojok.co

7 Perbedaan Becak Tokyo dan Becak Malioboro

11 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat Mojok.co

Tunjungan Plaza Surabaya Lebih Cocok Disebut Labirin daripada Mal, Membingungkan dan Rawan Tersesat

2 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.