Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Menanti Khataman Kabupaten Magelang, Budaya Pemersatu Kaum Abangan dan Santri

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
31 Januari 2021
A A
Pahit Getir Bertahan Jadi Santri Pondok di Rentang Usia 25 ke Atas terminal mojok.co

Pahit Getir Bertahan Jadi Santri Pondok di Rentang Usia 25 ke Atas terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap daerah memiliki keunikan masing-masing. Ada yang dari kuliner, nama daerahnya, bahasanya sampai kegiatan agama dan perayaan adat. Di wilayah saya sendiri Kabupaten Magelang, ada salah satu perayaan yang terkenal hingga luar daerah. Mungkin Anda pernah dengar khataman?

Mirip-mirip grebek Ramadan dan semi-semi pasar malam. Khataman dari kata khatam yang maknanya rampung atau selesai. Acara yang biasanya menandai libur dan masa berakhirnya seseorang ngaji atau nyantri. Acara ini diadakan seminggu penuh di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, sebelum bulan Ramadan tiba. Di sana ada salah satu pondok pesantren besar pimpinan Gus Yusuf. Nah, dari pesantren inilah, budaya khataman bermula.

Dahulu, menurut cerita Mbah saya, khataman telah eksis sejak zaman bahuela. Pasar malam baru ada saat akhir 80-an atau awal 90-an. Sebelum era pasar malam, dulu orang berjalan kaki bahkan dari luar kota hanya untuk pergi khataman. Pada awalnya, acara yang pasti ada dan satu-satunya ya, pengajian di pondok.

Memasuki dekade 80-an acara khataman mulai ditambah dengan unsur tontonan. Wayang dan kesenian daerah mulai masuk dan menjadi pusat perhatian utama. Saat pasar malam yang penuh permainan dan hiburan muncul, khataman pun berubah fungsi menjadi acara hiburan semua kalangan selama seminggu full. Akhirnya, khataman lebih terkenal sebagai pasar malam dan tempat beragam pertunjukan kesenian tradisional.

Saat khataman, jalan sekitar pasar dan Terminal Tegalrejo, Kabupaten Magelang, punya bau khas seperti pecinan. Cakwe dan bolang-baling tercium sepanjang jalan. Banyak penjual baju dan barang penunjang gaya lainya. Arum manis, donat, molen, pokoknya semua makanan ada di situ. Tawa anak-anak dan keluh kesah orang tua yang tengah repot, ikut mendominasi kebisingan, selain suara musik dangdut dari speaker penjual DVD bajakan tentu saja.

Jinontro alias kandang manuk alias kincir, tampak berkelap-kelip. Komedi putar, tong setan, kora-kora, dan masih banyak lagi yang bisa kita nikmati. Tak lupa, para muda-mudi dimabuk asmara dan juga beberapa korban friendzone ikut menyemarakan kegiatan itu. Kapal kluthuk, alias kapal mainan dari kaleng masih sering kita jumpai di sana. Pergi khataman itu, serupa berkumpul dengan banyak potret zaman yang telah berlalu, tapi awas suka ada copet.

Arak-arak adalah malam acara puncak. Jalan ditutup dan arak-arakan manusia berjalan mengitari Tegalrejo. Mirip seperti karnaval. Banyak orang berkostum, obor yang menyala dalam jumlah banyak, sampai kereta dan gunungan hias. Saat acara puncak ini berlangsung, seluruh jalan ramai sampai berkilo-kilo meter. Walau acara puncak sebenarnya adalah pengajian, tapi arak-arak sudah terlanjur dianggap sebagai penutup. Sehingga tentu saja, pengajian khataman tampak lebih sepi dibanding arak-arak.

Namun, sudah dua tahun ini khataman tak terlihat batang hidungnya. Saya bukan orang yang bisa nyaman menikmati acara ini. Saya tak suka keramaian, titik. Namun, saya rindu juga dengan khataman. Rindu dengan cakwenya tentu saja. Pada 2019 acara ini vakum karena ada pilpres dan pileg (yopiye, ya? Yang punya hajat sedang sibuk). Sementara pada 2020 tentu saja karena corona.

Baca Juga:

Banyuwangi Jawa Timur dan Banyuwangi Magelang: Nama Boleh Sama, tapi Soal Nasib Berbeda Jauh

Tinggal di Kabupaten Magelang: Dekat Borobudur, tapi Tidak Pernah Merasa Hidup di Tempat Wisata

Tahun lalu, sebenarnya para pekerja pasar malam sudah sampai lokasi dan tengah menyiapkan wahana permainan. Namun PSBB Kabupaten Magelang digalakkan dan mereka harus bubar. Para pedagang makanan yang sudah terlanjur datang sejak jauh-jauh hari juga harus pulang dengan terpaksa. Padahal banyak orang sangat menantikan dan bergantung pada khataman, keno gawe sangu badha.

Cerminan kehidupan masyarakat suburban bisa kita lihat di sana. Selain itu, ada alasan yang lebih penting dari sekadar motif ekonomi dan rindu hiburan, mengapa khataman harus selalu ada. Acara ini sejatinya sudah menjadi bagian dari hidup masyarakat. Tak beda jauh dengan Lebaran dan Imlek. Khataman sudah terlanjur menjadi hari yang ditunggu-tunggu setahun penuh oleh banyak orang. Bisa juga acara ini disebut sebagai identitas Tegalrejo. Tanpanya, Tegalrejo bukanlah Tegalrejo yang sejati.

Sejatinya, tahun ini juga masih belum diprediksi: apakah acara ini bisa hadir lagi? Perayaan di mana kaum abangan dan santri bisa saling bahu membahu jadi panitia, ataupun sama-sama menikmati pasar malam dan tontonan.

Tak banyak yang tahu, banyak pihak luar pondok yang ikut membantu, entah sekadar bersih-bersih, jaga jalan, mengurusi tamu Pak Kiai, mengurusi pengisi acara, dll. Khataman itu serupa padusan, grebek Ramadan, pamongan Ramadan, bubur Ramadan, pokoknya semua kegiatan untuk menyambut Ramadan dengan suka cita dan bahagia (terlepas dirimu puasa atau tidak). Jika khataman tahun ini bisa diadakan, seharusnya tahun ini ia jadi khataman paling dirindukan, terdebes, tertragis, dan semoga benar-benar terjadi.

BACA JUGA Nasi Senerek, Kuliner Underrated nan Sulit Ditemui di Luar Magelang dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: kabupaten magelangkhataman
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

5 Hal yang Nggak Dimiliki Magelang: Rasanya Jadi Kurang Lengkap

5 Hal yang Nggak Dimiliki Magelang: Rasanya Jadi Kurang Lengkap

23 Januari 2025
Magelang Bukan Tempat yang Cocok untuk Slow Living (Unsplash)

Magelang Bukan Tempat yang Cocok untuk Slow Living, Tolong Hentikan Cita-citamu Itu

21 April 2025
4 Keuntungan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Muntilan Magelang

4 Keuntungan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Muntilan Magelang

10 Maret 2025
Sukomakmur Magelang, Wisata Negeri Sayur yang Sebaiknya Dikunjungi Hari Selasa dan Sabtu

Sukomakmur Magelang, Wisata Negeri Sayur yang Sebaiknya Dikunjungi Hari Selasa dan Sabtu

23 Agustus 2024
Seandainya Ada Stasiun Kereta di Magelang, Ini yang Akan Terjadi

Seandainya Ada Stasiun Kereta di Magelang, Ini yang Akan Terjadi

11 Februari 2025
Payaman, Desa di Magelang yang Viral karena Bunga Tabebuya Ternyata Menyimpan Masalah

Payaman, Desa di Magelang yang Viral karena Bunga Tabebuya Ternyata Menyimpan Masalah

18 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

27 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

26 Januari 2026
Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat Mojok.co

Datsun GO Bekas Kondisinya Masih Oke dan Murah, tapi Sepi Peminat

27 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.