Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Woke Culture dan Netizen yang Salah Kaprah

Aileen Zahran oleh Aileen Zahran
4 Februari 2021
A A
woke culture mojok

woke culture mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Pernah nggak sih kalian dengar atau baca frasa “stay woke”, “i stay awake”, “wokeness”, “awaken”? Kalau iya, apakah kamu paham maknanya? Dan jika paham, apakah kamu termasuk penganut woke culture?

Woke adalah istilah yang berasal dari Amerika Serikat, dan mengacu pada kesadaran yang dirasakan akan isu-isu yang menyangkut keadilan sosial dan keadilan rasial. Ini berasal dari ungkapan Bahasa Inggris Afrika-Amerika Vernakular “stay woke” yang aspek gramatikal mengacu pada kesadaran berkelanjutan tentang masalah ini. Istilah woke pertama kali digunakan pada tahun 1940-an, istilah tersebut telah muncul kembali dalam beberapa tahun terakhir sebagai konsep yang melambangkan kesadaran yang dirasakan akan masalah dan gerakan sosial.

Pada akhir 2010-an, woke telah diadopsi sebagai istilah gaul yang lebih umum secara luas terkait dengan keadilan sosial kritis, politik sayap kiri, aktivisme keadilan sosial dan penyebab progresif atau liberal secara sosial seperti anti-rasisme, hak LGBT, feminisme dan lingkungan (dengan istilah bangun budaya, bangun politik dan bangun kiri juga digunakan). Itu juga telah menjadi subyek meme, penggunaan ironis, dan kritik untuk metode dan konsekuensinya. Penggunaannya secara luas sejak 2014 adalah hasil dari gerakan Black Lives Matter.

Idiom woke lalu digunakan dalam konteks aktivisme secara general. OED menyatakan: “Pada pertengahan abad ke-20, woke telah diperpanjang secara kiasan untuk merujuk pada ‘sadar’ atau ‘terinformasi dengan baik’ dalam arti politik atau budaya”. The Urban Dictionary menambahkan: “Menjadi woke berarti awake (menyadari) … mengetahui apa yang terjadi di komunitas (terkait dengan rasisme dan ketidakadilan sosial).”

Penggunaan idiom woke secara meluas ini kemudian menimbulkan kritik di mata pengamat lantaran penggunaannya yang dianggap tidak sesuai pada makna aslinya. Beberapa pengamat berkomentar bahwa konsep woke mungkin memiliki niat baik, gaya aktivisme, dan filosofinya yang terkait telah merugikan daripada membantu kemajuan penyebab sosial. Tetapi, saat ini kita lebih cenderung melihatnya digunakan sebagai alat untuk mengalahkan orang-orang yang menginginkan nilai-nilai seperti itu, sering kali digunakan oleh mereka yang tidak menyadari betapa tidak terbangunnya mereka (not woke), atau bangga dengan fakta tersebut.

Penulis dan aktivis Chloé Valdary telah mengakui bahwa konsep woke culture adalah “pedang bermata dua” yang dapat “mengingatkan orang akan ketidakadilan sistemik” sekaligus juga “sikap agresif dan performatif terhadap politik progresif yang hanya memperburuk keadaan.”

Kritik atas woke culture juga diungkapkan oleh seorang kolumnis, Alex Beams pada Mei 2017 dalam artikel yang ia tulis berjudul “Not Woke and Never Will Be”. Dalam artikel tersebut, Beams menulis, tujuan utama woke culture untuk membagi dunia menjadi kelompok yang super sadar atas isu sosial; orang-orang yang mengklaim sendiri sebagai pengawas omongan serta perilaku; dan orang-orang biasa.

Januari 2020, Narasi Newsroom dalam liputannya yang berjudul “Wokeist : Niatnya Ngasih Edukasi, Jadinya ‘Ngerujak’ Orang di Medsos”, mengatakan bahwa Wokeism dianggap sebagai kultur SJW (social justice warrior – istilah peyoratif bagi seseorang yang mengusung pandangan progresivisme sosial).

Baca Juga:

Komedi Bukan Alasan Kalian Bisa Beropini Goblok dan Kebal dari Konsekuensi

Haruskah Diciptakan Undang-Undang ala SJW?

“Mereka yang woke, kerap menghakimi orang lain yang tidak peduli atau belum paham isu keadilan sosial. Bukan tercerahkan, orang awam malah bisa alergi duluan dengan isu sosial karena cara ‘call out’ kaum woke yang dianggap tak simpatik”

Pada 2008, Erykah Badu merilis lagu “Master Teacher”. Sepanjang lagu, Badu menyanyikan kalimat “I stay woke.” Meskipun frasa tersebut belum ada hubungannya dengan masalah keadilan, lagu Badu dikreditkan dengan hubungan selanjutnya dengan masalah ini. Sejak lagu tersebut rilis, orang-orang berkulit hitam menggunakan idiom woke untuk mengomentari peristiwa terkini. Lalu pada Februari 2019, Erykah Badu dalam artikelnya di The New York Times, membantu mendefinisikan “Wokeness”.

“Jadi, ketika kita mengatakan itu (stay woke) artinya kita hanya memperhatikan apa yang terjadi di sekitar kita, dan tidak mudah terpengaruh oleh media, atau oleh massa yang marah, atau oleh kelompok. Anda tahu: Tetap fokus, perhatikan. (…) Stay woke berarti memperhatikan segala sesuatu, tidak bersandar pada pemahaman Anda sendiri atau orang lain, mengamati, berevolusi, menghilangkan hal-hal yang tidak lagi berevolusi. Itulah artinya. Stay conscious, stay awake (tetap sadar, tetap terjaga). Itu tidak berarti menilai orang lain. Ini tidak berarti mengeroyok seseorang yang Anda rasa belum bangun (woke). Itu tidak berevolusi.”

Seperti apa yang dikatakan Valdary, konsep woke sering kali justru memperburuk keadaan. Kalau kamu seorang pengguna twitter, pasti sudah tidak asing dengan akun auto-menfess base @.tubirfess. Jika kamu termasuk salah satu pengikutnya, kamu tentu tahu bahwa akun ini memang dijadikan sebagai lapak ribut. Kolom komentar pada tiap menfess biasanya akan dipenuhi oleh berbagai opini. Di lapak ribut inilah yang akhirnya terjadi keributan antara kaum woke dan kaum lainnya—yang tidak atau belum paham atas isu sosial. Alih-alih merespon sender, kolom komentar terkadang malah justru dipenuhi komentar salty yang terkesan memojokkan beberapa pihak yang dianggap tidak memiliki simpatik.

Penggunaan sosial media yang kurang bijak pada akhirnya semakin memperburuk keadaan. Orang awam akan menelan mentah-mentah informasi dan opini yang mereka baca tanpa mencari tahu lebih lanjut. Informasi atas opini-opini tersebut kemudian meluas tanpa benar-benar mereka ketahui akar masalahnya. Ketika seseorang mengetahui “suatu hal” yang orang lain belum tentu ketahui, mereka cenderung akan bersifat congkak. Oleh karena merasa dirinya lebih pintar dibanding yang lain, mereka berani beropini atas “suatu hal” tadi tanpa validasi.

BACA JUGA Haruskah Diciptakan Undang-Undang ala SJW?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2021 oleh

Tags: SJWwoke culture
Aileen Zahran

Aileen Zahran

Penulis amatir yang menulis hanya ketika masa langganan streaming berbayarnya berakhir.

ArtikelTerkait

polusi

Orang yang Naik Motor Berhak Protes Soal Polusi

27 Juni 2019
plastik berbayar

Mencintai dan Membenci Kebijakan Plastik Berbayar

23 Juni 2019
dulu saya

Sebuah Curhatan Mahasiswi : Perilaku yang Saya Benci Dulu Adalah Perilaku Saya Sekarang

11 Juni 2019
Komedi Bukan Alasan Kalian Bisa Beropini Goblok dan Kebal dari Konsekuensi popon

Komedi Bukan Alasan Kalian Bisa Beropini Goblok dan Kebal dari Konsekuensi

30 Agustus 2022
Ningsih Tinampi dan Lingkaran Setan Patriarki

Ningsih Tinampi dan Lingkaran Setan Patriarki

26 November 2019
Haruskah Ada Undang-Undang ala SJW?

Haruskah Diciptakan Undang-Undang ala SJW?

21 Februari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

26 Januari 2026
Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

29 Januari 2026
5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

Perlintasan Kereta Volvo Pasar Minggu Memakan Banyak Korban: Bukan Salah Setan!

27 Januari 2026
Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

26 Januari 2026
Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.