Mencintai dan Membenci Kebijakan Plastik Berbayar

Buat gue plastik berbayar itu hal yang bagus. Berarti ada inisiasi dari pemerintah untuk mengurangi sampah plastik yang sulit diurai itu.

Artikel

Avatar

Kebijakan untuk menerapkan plastik berbayar di semua pusat perbelanjaan ini memang sudah diterapkan. Kebijakan ini mengharuskan konsumen untuk membayar lebih sejumlah rupiah untuk membeli kantong plastik—setelah sebelumnya free alias gratis.

Plastik—well—memang jadi sumber polutan yang paling mengerikan. Ia tidak dapat didaur ulang dengan mudah dan memakan waktu yang sangat lama untuk terurai di alam. Membaca dari berbagai sumber, kantong plastik membutuhkan waktu 12-20 tahun buat terurai jadi tanah. Ada yang mau coba buat mempraktekkan? Plastik dikubur depan rumah, terus buka lagi di 20 tahun mendatang—itu juga kalo ingat.

Saat ini di berbagai pasar supermarket dan minimarket sudah menerapkan kebijakan plastik berbayar ini. Harganya bervariasi—mulai dari 200 rupiah hingga yang paling mahal gue temui adalah 6000 rupiah. Dan memang ada yang menjual plastiknya dengan harga, yang menurut gue, cukup wow untuk harga sebuah plastik.

Gue biasa belanja bulanan di supermarket yang ada di kota gue—Karawang. Dan yang menerapkan kebijakan plastik berbayar 6000 itu adalah pusat perbelanjaan yang cukup besar disini. Tapi ya nggak masalah soalnya memang gede banget itu plastiknya dan nggak keliatan murahan. Dijamin sangat cukup sekali untuk menampung nafsu belanjaan emak-emak yang sekali belanja bulanan buanyak banget. Jenis plastiknya mirip-mirip plastiknya toko sepatu original lah cuma lebih tebal.

Btw, di sana harga plastiknya 500 rupiah aja kalo belum tahu. Gue juga baru tau karena baru beli sepatu di sana. hehehe

Sebagai pasutri baru, hasrat belanja istri sungguh tinggi. Apalagi ketika akhir pekan dan ketika saya gajian. Istri sudah merencanakan ingin beli apa saja yang dibutuhkan. Sampai ditulis di kertas catatan dia. Lengkap sampai perkiraan harga yang harus dibayarkan dengan belanjaan sebanyak itu dengan tujuan memaksimalkan uang yang ada—walau seringnya lebih banyak dari perkiraan sih.

Baca Juga:  Gareth Bale dan Gerard Pique: Rasa Bosan yang Perlu Diatasi Real Madrid dan Barcelona

Nggak masalah. Gue mengerti kalau seorang istri perlu banyak kebutuhan. Apalagi ketika berumah tangga, istri rasanya jadi yang paling hafal apa saja yang dibutuhkan oleh rumah dan dapur yang gue sendiri nggak kepikiran kalo itu butuh. Gue ya manut-manut saja sambil iseng ngecek sisa ATM di handphone.

Buat gue plastik berbayar itu hal yang bagus. Berarti ada inisiasi dari Pemerintah untuk mengurangi sampah plastik yang sulit diurai itu. Dengan adanya charge pada plastik, mungkin diharapkan orang jadi mikir dua kali kalo mau belanja dengan kantong plastik terus beralih menggunakan kantong yang reusable sehingga plastik bisa berkurang. Tapi kok gue rasa itu jadi ladang tambahan bagi pelaku bisnis ya?

Memang plastik itu murah—dibandingkan gaji kalian mungkin jauh lebih besar gaji kalian. Tapi justru ini jadi tambahan pemasukan lain dari produsen—yang dulunya gratis jadi bayar sehingga pemasukan produsen tambah banyak. Ambilah 200 rupiah dikalikan 2000 orang yang belanja ya lumayan juga. Apalagi kalau harga plastiknya 500. Atau bahkan 6000.

Kalau gue sih sebenernya nggak keberatan. Dengan adanya kebijakan plastik berbayar ini, mungkin ada beberapa orang yang nggak mau rugi dan akhirnya pake totebag atau bawa plastik sendiri kalo mau belanja. Dengan ini aja udah lumayan tuh berapa orang yang nggak buang sampah plastik.

Tapi gue juga kadang ribet ngurus plastik di rumah hasil jajan ganteng di minimarket. Rata-rata gue kumpulin atau dijadiin alas buat tempat sampah. Gue juga males kalo bawa totebag buat belanja. Apalagi belanja bulanan yang pasti berlu banyak totebag atau totebag yang ukurannya besar. Mending gue beli plastik aja yang gede meskipun kudu bayar 6000. Kalo jajan di minimarket biasanya gue minta buat nggak pake plastik kalo cuma jajan minuman aja karena bisa gue masukan di tas.

Baca Juga:  Paradoks Produksi dan Penggunaan Plastik: Antara Butuh dan Cinta Lingkungan

Namun istri gue yang terkenal perhitungan ini orangnya nggak mau rugi. Kadang-kadang ketika belanja bulanan, istri bawa plastik sendiri dari rumah. Lumayan katanya biar cuma hemat 6000 doang. Namanya juga ibu-ibu—selisih sedikit apapun pasti dikejar.

Fyi, 6000 rupiah adalah nominal besar bagi ibu-ibu. Promo minyak goreng yang selisihnya 400 rupiah juga masih dikejar kok. Percaya deh sama gue.

Terus siapa yang diuntungkan? Dua-duanya diuntungkan. Pelaku bisnis dapat tambahan penghasilan, meskipun ada potensi berkurang kedepannya karena masyarakat lebih memilih bawa kantong plastik sendiri. Alam pun riang karena manusianya mengurangi sampah plastiknya. Lebih riang lagi kalau harga satu plastik harganya 50.000 rupiah.

---
2

Komentar

Comments are closed.