Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

3 Alternatif bagi Warga Jogja Setelah Malioboro dan Area Kraton Dilarang untuk Demo

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
15 Januari 2021
A A
ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Kado tahun baru bagi warga Jogja memang istimewa. Tidak hanya wajah baru Tugu serta meroketnya angka kasus positif Covid-19, tapi Peraturan Gubernur (Pergub) yang sah pada tanggal 4 Januari kemarin. Pergub No. 1/2021 ini berisi perkara penyampaian pendapat. Termasuk di dalamnya larangan menyuarakan pendapat di lokasi tertentu.

Lokasi yang dilarang adalah: Malioboro, Gedung Agung, Kompleks Kraton Yogyakarta, Kompleks Kadipaten Pakualaman, serta Kotagede. Apakah Anda merasakan apa yang saya rasakan?

Benar! Warga tidak bisa lagi demo di depan Gedung DPRD dan Kantor Gubernur alias Kepatihan. Tidak ditulis secara eksplisit, tapi kedua pusat pemerintahan itu berada di area Malioboro. Dengan batasan 500 meter dari titik larangan, berarti tidak ada tempat di sekitar dua gedung tadi untuk demo.

Lha iki karepe piye? Area Nol kilometer yang jadi jujukan rutin aksi demonstrasi juga kena larangan ini. Lokasinya yang dalam zona larangan Gedung Agung serta Kraton Jogja membuat titik api paling tengah kota ini tidak bisa untuk demo lagi. Entah demi alasan pariwisata atau keistimewaan, jelas pergub baru ini terlalu nggatheli.

Lalu di mana lagi rakyat Jogja akan menyuarakan pendapat? Memang ada Gejayan yang dikenal sebagai titik bersejarah demonstrasi. Ada juga area Tugu Jogja yang selama ini menjadi titik Kamisan. Tapi, keduanya jauh dari telinga wakil rakyat serta Ngarso Dalem sendiri. Demo di depan kantor mereka saja bisa tidak didengarkan, apalagi di Gejayan? Paling yang mendengarkan hanya rektor UNY, Sanata Dharma, dan bakul boneka.

Lalu di mana warga Jogja bisa demo? Saya usulkan lokasi extraordinary yang bisa menjadi ide lokasi demo yang tepat. Setidaknya lokasi ini punya nilai filosofis dan spiritual tinggi, sehingga bisa membawa suara rakyat sampai tataran spiritual.

Makam Raja-Raja Imogiri

Lokasi ini diusulkan oleh kanal YouTube Buruh Jogjakarta. Terdengar aneh, demo kok di makam. Eh jangan salah, justru makam Imogiri adalah solusi jitu dalam menyuarakan aspirasi. Bahkan tidak perlu repot-repot bikin spanduk lucu atau berorasi sampai suara habis.

Dengan berpegang dalam falsafah akar hening, kita bisa menyuarakan aspirasi langsung kepada leluhur Kasultanan Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, yang kita tuju adalah Sultan Agung serta belasan raja Jawa yang dimakamkan di sana. Kecuali sang pendiri Mataram Panembahan Senopati dan Sultan HB II yang dimakamkan di Kotagede. Sayang sekali, makam kedua tokoh besar ini masuk dalam restricted area.

Baca Juga:

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

3 Alasan Teror Pocong Tidak Akan Laku di Jogja, Klitih Lebih Nyata dan Lebih Mengerikan ketimbang Pocong Palsu!

Tentu cara demo yang mengadu pada leluhur sangat njawani. Bagaimana tidak, suara Anda akan didengar sampai tataran spiritual lho. Tentu ini adalah cara jitu agar para leluhur menegur dan menasehati Gubernur Jogja. Tentu melalui Sultan HB X sebagai perpanjangan lidah.

Parangkusumo

Lokasi kedua ini melibatkan politik bilateral. Jika Anda sudah muak dengan keputusan Pemda Jogja yang penuh estetika, mungkin Anda bisa wadul pada negara sebelah, yaitu Kerajaan Pantai Selatan. Ini tidak main-main. Aspirasi Anda akan didengar oleh Ratu Kidul yang punya kuasa atas pantai dan laut selatan Jogja.

Tentu pihak Pemda Jogja akan bergidik jika Ratu Kidul ikut menyuarakan aspirasi rakyat. Hubungan bilateral yang sudah terpelihara sejak berdirinya Mataram ini akan menjadi dukungan besar bagi keluhan masyarakat Jogja. Istilahnya, warga Jogja punya dekengan yang ngadi-adi bahkan dalam lingkup astral.

Goa Selarong

Lokasi menyuarakan aspirasi satu ini kental dengan simbolisme. Pada saat Perang Jawa, Pangeran Diponegoro menggunakan Goa Selarong sebagai pusat koordinasi pemberontakan. Dari gua yang dalamnya tidak sampai lima meter, perang berdarah yang jadi simbol perlawanan ini digerakkan.

Lokasi ini sangat cocok bagi Anda yang ingin mengkritik kebijakan jalan tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen. Toh dulu Pangeran Diponegoro juga melawan Belanda yang menggeser pathok makam leluhur blio demi membuka jalan.

Bukankah ini akan menjadi sejarah yang berulang? Goa Selarong kembali menjadi perlawanan terhadap pembangunan jalan tol yang jelas merengggut tanah tumpah darah warga yang terdampak. Selain itu, kita bisa menghidupi semangat Pangeran Diponegoro yang tanpa gentar melawan Belanda. Benar-benar simbolis kan?

*****

Ketiga lokasi tadi saya pandang sebagai titik api baru dalam menyuarakan pendapat. Dan memang terkesan lebih njawani daripada demo yang dianggap “budaya luar Jogja.” Jika usul ditolak bahkan dibatasi, maka hanya ada satu hal tersisa: minta tolong leluhur dan Ratu Kidul!

BACA JUGA Sejarah Minol di Jogja: Dari Kedai Pemabuk Sampai Lahirnya Minuman Oplosan dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2021 oleh

Tags: DemoJogjakratonMalioboro
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Geliat Kos LV Malang: Belum Setenar, Seheboh, dan “Tersentralisasi” Kos LV Jogja, tapi Sama-sama Dianggap Meresahkan  

Geliat Kos LV Malang: Belum Setenar, Seheboh, dan “Tersentralisasi” Kos LV Jogja, tapi Sama-sama Dianggap Meresahkan  

19 Mei 2025
Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta!

Nggak Perlu Kaget kalau KRL Jogja-Solo Penuh Sesak, yang Paham Transportasi Umum Bukan Cuma Orang Jakarta!

7 November 2023
Ayam Geprek, Makanan Khas Jogja Sukses Menginvasi Semarang (Unsplash)

Makanan Khas Semarang Kini Menjiplak Warisan Kuliner Khas Jogja: Ayam Geprek

7 Agustus 2023
Pengalaman Nonton Film di Studio VIP Cinepolis Jogja, Selama Nonton Berasa Sultan

Pengalaman Saya Nonton Film di Studio VIP Cinepolis Jogja, Selama Nonton Berasa Sultan

1 Agustus 2024
Jogja Sangat Layak Dinobatkan sebagai Ibu Kota Ayam Goreng Indonesia!

Jogja Sangat Layak Dinobatkan sebagai Ibu Kota Ayam Goreng Indonesia!

1 Desember 2025
Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja terminal mojok.co

Panduan Memahami Perbedaan Olive, Popeye, dan Yogya Chicken: 3 Ayam Goreng Lokalan Jogja

27 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

26 Mei 2026
Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga (Unsplash)

Generasi Sandwich Adalah Takdir Bajingan yang Bikin Muak: Saya Baik pada Keluarga Bukan karena Cinta, tapi karena Sudah Lupa Hidup Sebenarnya untuk Apa

24 Mei 2026
Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Dunia Kerja yang Bikin Pekerja Keras Tersingkir dan Menderita Mojok.co

Penjilat Atasan Adalah Borok dalam Kantor yang Bikin Pekerja Lain Tersingkir dan Menderita

21 Mei 2026
Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

22 Mei 2026
Mengenal Kabupaten Bungo, Tempat Awal Mula Sumber "Sumatera Blackout" yang Bikin Satu Pulau Geger

Mengenal Kabupaten Bungo, Tempat Awal Mula “Sumatera Blackout” yang Bikin Satu Pulau Geger

23 Mei 2026
Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.