Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Saya Sempat Menyesal dan Malu setelah 7 Tahun Kuliah di UNY, Berakhir Jadi Beban Keluarga dan Ditertawakan Banyak Orang

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
25 April 2025
A A
7 Tahun Kuliah di UNY Berakhir Jadi Tertawaan dan Beban (Unsplash)

7 Tahun Kuliah di UNY Berakhir Jadi Tertawaan dan Beban (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) selama 7 tahun. Yup, 7 tahun! 

Ini dia. Kisah saya yang hampir selalu menjadi bahan tertawaan. Setelah 7 tahun kuliah, dan sejujurnya, saya agak malu juga karena menjadi beban keluarga.

Bayangkan saja. Saat saya masih sibuk di UNY untuk kuliah, banyak teman seangkatan yang sudah mengisi CV dengan berbagai pengalaman kerja, magang di perusahaan ternama, atau bahkan mulai menata karier. 

Saya, masih berjuang memahami teori sastra yang mungkin hanya segelintir saja yang benar-benar mengerti. Belum lagi, saya harus menghadapi anggapan dari banyak orang yang mengatakan bahwa Sastra Indonesia itu hanya untuk para pengangguran. “Lulus kuliah, kerja jadi apa? Nulis novel? Jadi pengajar?” 

Penuh warna 7 tahun di UNY

Tapi jangan salah, masa 7 tahun saya di UNY ini penuh warna. Selain teori sastra yang tak ada habisnya, saya juga menyaksikan perubahan-perubahan besar di kampus saya. Salah satu yang ikonik tentu saja gonta-ganti rektor. Seingat saya, selama saya kuliah, rektor UNY itu ganti 3 kali!

Tiga kali ganti rektor itu seolah jadi simbol perjalanan akademik saya. Perubahan kurikulum, nama fakultas yang berubah dari FBS menjadi FBSB (yang entah kenapa nama terakhir terasa lebih “resmi” dan “birokratis”) turut menjadi bagian dari perjalanan ini. 

Saya mungkin menjadi angkatan 2017 terakhir yang mengalami transisi ini. Memang cukup absurd dan penuh misteri. 

Saya juga merasakan pergantian dekan. Lalu, mata kuliah yang semula menyenangkan mendadak berubah menjadi penuh persyaratan yang tampaknya lebih mengarah pada siapa yang paling bisa bertahan, bukan siapa yang paling pintar.

Baca Juga:

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

Namun, selama 7 tahun di UNY ini saya belajar banyak hal. Kuliah Sastra Indonesia selama 7 tahun itu bukan hanya tentang membaca novel atau menulis makalah. Di balik tumpukan buku, saya sebenarnya sedang memperkaya cara pandang terhadap dunia, cara berbicara yang lebih tajam, dan tentu saja, cara melihat potensi dalam diri. 

Menjadi beban keluarga atau cita-cita?

Selama saya kuliah di UNY, ada 1 beban yang tak bisa saya sembunyikan, yaitu menjadi beban keluarga. Masa studi yang panjang sering menjadi bahan obrolan keluarga besar. Tidak jarang mereka berkata, “Kok lama banget sih? Masa nggak selesai-selesai?” 

Makanya, saya selalu merasa seperti beban. Namun, di sisi lain, saya merasa sedang menapaki jalan saya sendiri, meskipun agak melenceng. 

Tidak mudah untuk terus berjalan di jalur yang terasa tidak menjanjikan. Terlebih, saya sempat merasa pesimis. Apalagi ketika melihat teman-teman saya sudah bekerja dengan gaji tetap.

Nah, di sini, saya merasa menemukan titik balik. Ketika merasa hampir menyerah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar 7 tahun kuliah di UNY, saya menemukan podcast dari penulis idola saya, Mas Puthut EA.

Jadi, Mas Puthut bercerita dengan santai bahwa dirinya juga kuliah selama 7 tahun di jurusan Filsafat UGM. Momen itu seperti pencerahan bagi saya. “Tunggu dulu, kalau dia bisa, kenapa saya nggak?” 

Saya sadar, 7 tahun kuliah di UNY bukan aib. Itu bukan sesuatu yang harus saya sembunyikan. Justru itu adalah proses yang membentuk siapa saya sekarang.

Ternyata, 7 tahun itu lebih dari sekadar angka, tapi waktu yang penuh dengan proses pematangan. Saya banyak belajar tentang kesabaran, kegigihan, dan yang terpenting, tentang apakah tujuan akhir itu penting ataukah yang lebih penting adalah perjalanan menuju tujuan tersebut.

Mencoba bangga dengan masa 7 tahun kuliah di UNY

Saat ini, saya tidak lagi merasa malu meski kuliah sampai 7 tahun di UNY. Saya belajar lebih banyak tentang Sastra Indonesia, budaya, dan diri saya sendiri. 

Saya belajar menganalisis karya sastra, berbicara dengan lebih percaya diri, dan lebih penting lagi, belajar untuk tidak menilai diri saya hanya dari lamanya kuliah atau gelar. Bagi saya, perjalanan ini membentuk saya untuk bisa berbicara dengan cara yang berbeda.

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Kok lama banget kuliah?” Saya hanya akan tertawa dan bilang, “Sastra itu bukan tentang cepat atau lambat. Itu tentang bagaimana memahami dunia yang lebih besar melalui kata-kata.” 

Tujuh tahun di UNY ini bukan hanya tentang menghabiskan waktu. Ini juga soal menemukan diri dan menyadari bahwa setiap proses itu berharga, meskipun orang lain tidak selalu mengerti atau menghargainya.

Sekarang, saya bisa sedikit lebih bangga. Karena di akhir perjalanan ini, saya tahu satu hal yang penting. Bahwa waktu tidak pernah sia-sia jika kita belajar sesuatu yang berharga darinya. Dan kalau ada yang masih menganggap jurusan Sastra Indonesia itu tidak menjanjikan, ya… saya hanya bisa tertawa.

Tujuh tahun di Sastra Indonesia UNY? Itu lebih dari cukup.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kuliah 7 Tahun Itu Bukan Aib, Justru Banyak Hal Positif yang Lulusan Cumlaude sekalipun Nggak Bakalan Dapet

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 April 2025 oleh

Tags: Jogjakampus negerikuliah 7 tahunSastra IndonesiaSastra Indonesia UNYuniversitas negeri yogyakartaUNY
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Jogja Memang Bukan Tempat Pensiun Ideal Orang Kota, Jangan Sampai Menderita di Daerah Istimewa

Jogja Memang Bukan Tempat Pensiun Ideal Orang Kota, Jangan Sampai Menderita di Daerah Istimewa

5 Februari 2024
Sastra Indonesia UNY, Jurusan yang Aslinya Biasa Saja, tapi Dikemas Luar Biasa oleh Kampus Mojok.co

Derita Fresh Graduate Sastra Indonesia: Kenapa Lowongan Kerja Seolah Cuma Cari Anak IT?

17 September 2025
Banyuwangi Seharusnya Masuk dalam Daftar Tempat Pensiun Paling Enak Mojok.co

Banyuwangi Seharusnya Masuk dalam Daftar Tempat Pensiun Paling Enak

19 Januari 2024
Alasan Saya Nggak Kecewa Masuk UIN Jogja meski Bukan Kampus Impian Mojok.co

Alasan Saya Nggak Kecewa Masuk UIN Jogja meski Bukan Kampus Impian 

27 September 2025
Jalan Raya Ambarawa-Magelang, Jalan Penghubung Demak-Jogja yang Diam-diam Mematikan. Kalau Siang Indah, tapi kalau Malam, Beda Cerita

Jalan Raya Ambarawa-Magelang, Jalan Penghubung Demak-Jogja yang Diam-diam Mematikan. Kalau Siang Indah, tapi kalau Malam, Beda Cerita

3 Juli 2024
Kasta Tempat Duduk di Kopi Klotok Jogja terminal mojok.co

Kasta Tempat Duduk di Kopi Klotok Jogja

13 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot Mojok.co

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

30 Januari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.