Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

5 Sisi Gelap Profesi Bankir

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
24 Agustus 2022
A A
5 Sisi Gelap Profesi Bankir Terminal Mojok

5 Sisi Gelap Profesi Bankir (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mungkin selain PNS, profesi yang terlihat cukup mentereng di mata calon mertua adalah bankir. Penampilan yang necis dan elegan membuat profesi ini seolah memiliki daya tarik tersendiri. Terlebih secara paras, para bankir—terutama mereka yang bekerja sebagai frontliner seperti teller dan customer service officer—memiliki penampilan di atas rata-rata.

Selain itu, para bankir juga terkenal sangat santun, ramah, dan bersahaja. Nggak peduli dia seorang frontliner atau bekerja di back office dan marketing di lapangan sekalipun, perilaku dan tutur katanya biasanya sangat baik. Nggak perlu tanya soal gaji, tentu saja mereka minimal selalu memperoleh insentif di atas UMR. Itu belum ditambah bonus dan tunjangan lainnya, lho. Maka wajar saja kalau profesi satu ini sulit ditolak calon mertua.

ADVERTISEMENT

Namun, seperti halnya profesi lain di luar sana, profesi bankir juga menyimpan sisi gelap yang perlu kalian ketahui. Setidaknya sisi gelap ini bisa dijadikan pertimbangan buat kalian yang hendak berprofesi sebagai bankir.

#1 Status kepegawaian yang tidak jelas

Status kepegawaian dari seorang bankir di sebuah bank itu ada dua, yakni tetap dan tidak tetap (kontrak). Para bankir yang statusnya kontrak ini ada yang direkrut langsung oleh pihak bank, ada juga yang direkrut melalui jasa pihak ketiga atau perusahaan outsourcing.

Skema outsourcing ini mulai marak diterapkan oleh bank ketika muncul Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/25/PBI/2011 mengenai prinsip kehati-hatian bagi bank menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pihak ketiga (outsourcing). Salah satu yang diatur di dalam peraturan tersebut adalah bank diperbolehkan menggunakan tenaga alih daya. Komposisi tenaga outsourcing di tiap bank berada di kisaran 30% hingga 40% dari total keseluruhan pegawai.

Para bankir dengan status kontrak ini tentu memiliki daya tawar yang rendah dengan pihak bank. Karena secara relasi kontrak, mereka sebenarnya hanya terikat dengan perusahaan outsourcing-nya, bukan dengan pihak bank-nya.

Terlebih, banyak perusahaan outsourcing yang cenderung lebih suka mengganti pekerja saat kontrak berakhir untuk menghindari kenaikan upah. Bahkan nggak jarang kontrak pekerja diputus secara sepihak. Hal ini menjadi realita pahit yang harus dihadapi para bankir yang statusnya kontrak (outsourcing).

#2 Jenjang karier yang terjal dan berliku

Punya ijazah S1 Perbankan itu nggak akan menjamin kalian punya karier mulus dan lancar layaknya Indomie yang kamu seruput tengah malam. Banyak tantangan dan rintangan yang harus kalian lewati selama menjadi bankir. Hanya ada dua cara untuk mendompleng karier di industri perbankan. Pertama, melalui orang dalam. Kedua, melalui program Officer Development Program (ODP) yang merupakan program rekrutmen untuk calon bankir yang dibutuhkan secara khusus.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Masalahnya, dua cara ini nggak bisa didapatkan begitu saja. ODP sendiri seleksinya bahkan lebih ketat ketimbang seleksi CPNS karena kualifikasi yang dibutuhkan sangat tinggi. Mau lewat jalur orang dalam? Ya silakan saja kalau situ punya kenalan.

Di luar dari jalur itu, terutama mereka yang berstatus kontrak bukan dari outsourcing, harus mengabdi dulu setidaknya 2,5 sampai 3 tahun. Itu saja kesempatan untuk menjadi pegawai tetap kecil lantaran bank lebih memilih merekrut pegawai baru karena secara gaji bisa lebih mudah dinegosiasikan.

Lantas, gimana dengan para bankir yang statusnya outsourcing? Sudah tentu bakal wassalam ketika kontrak berakhir.

#3 Beban kerja berat dan target yang tinggi tapi insentifnya nggak sesuai

Poin ketiga ini sering sekali saya dengar dari kawan-kawan yang bekerja sebagai bankir, baik di bank swasta maupun BUMN. Tentu saja semua bermula dari praktik outsourcing yang membuat pihak bank seringnya melegalkan diskriminasi terhadap insentif. Padahal secara beban kerja dan target, seorang bankir berstatus tetap dan bankir kontrak itu relatif sama.

Seorang kawan yang bekerja di salah satu bank pembangunan daerah melihat sendiri bagaimana gap insentif antara bankir tetap dan bankir kontrak bisa mencapai 50%. Misalnya, bankir tetap memperoleh insentif bulanan sebesar 6 juta rupiah, bankir kontrak biasanya hanya dapat setengahnya yakni 3 juta rupiah.

Bahkan ada juga bank yang menyamakan target dan beban kerja untuk dua jenis sales yang statusnya berbeda, namun gajinya berbeda. Sales tetap ada gaji pokoknya, sementara sales kontrak digaji berdasarkan closing target bulanannya.

Perihal target yang dibebankan kepada para bankir, terutama mereka yang memiliki posisi sebagai marketing, target-target tersebut harus selalu naik angkanya tiap bulan. Apabila turun, maka itu akan menjadi catatan merah. Masalahnya, ketika target seorang bankir kurvanya terus naik, hal itu nggak serta-merta menaikkan insentifnya sebagai bentuk apresiasi. Jadi, kalau performa kalian bagus ya oke, tapi kalau performa kalian jelek ya bakal dikasih kartu kuning, bahkan merah.

#4 Selalu tersenyum meski hati sedang menangis

Situasi ini biasanya dialami oleh para bankir yang bekerja sebagai frontliner, baik itu teller atau customer service officer. Suasana hati dan pikiran memang nggak pernah bisa kita kendalikan untuk selalu positif. Namanya persoalan hidup memang nggak pernah berhenti berdatangan, kan?

Namun bagi para bankir, sesedih apa pun perasaan mereka atau sesumpek apa pun pikiran mereka, ekspresi wajah yang mereka tampilkan harus tetap positif dengan senyum merekah dan intonasi suara yang ramah serta meneduhkan. Padahal karakter nasabah yang dihadapi para bankir ini tiap harinya bisa sangat beragam.

Seorang kawan yang memiliki posisi sebagai teller pernah sambat bahwa cobaan berat bagi dirinya adalah ketika harus menghadapi nasabah kolot, songong, sok kaya, tapi rak mudengan. Tambah parah ketika situasi tersebut harus dia hadapi saat kondisi hatinya sedang nggak baik-baik saja.

#5 Lingkungan kerja yang toksik

Lingkungan toksik adalah sisi paling gelap yang menurut saya harus siap dihadapi ketika memilih profesi menjadi seorang bankir. Target tinggi dan beban kerja berat mungkin masih bisa sedikit diobati apabila lingkungan kerja nyaman. Namun kalau lingkungan kerja sudah toksik dan nggak mendukung sama sekali, sudah pasti bakal terasa berat saat menjalaninya.

Ekosistem kompetitif di dunia perbankan membuat setiap orang di dalamnya dituntut mahir mencari muka dan bermuka dua sekaligus jadi pembunuh bagi rekan kerja lainnya. Jadi, kalian bakal sering melihat ada bankir yang sepertinya kerjaannya biasa saja, kompetensinya standar saja, tapi selalu diajak ke sana kemari sama atasan dan duitnya selalu banyak. Biasanya yang begini punya skill andal cari muka.

Selain itu, di bank, perasaan nggak suka pada seseorang bisa sangat kentara hingga memicu klaster per-gibah-an. Bahkan, meski dalam satu klaster per-gibah-an, saling tusuk menusuk tak jarang dilakukan sesama bankir. Agak ngeri, ya.

Sebenarnya apa pun profesi yang kita pilih, tentu punya sisi gelapnya masing-masing. Sisi gelap profesi bankir di atas pernah saya rasakan sendiri dan juga dirasakan teman-teman saya hingga kini. Gimana? Setelah tahu hal-hal di atas, masih tetap tertarik dan semangat kerja di bank, kan?

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Hal yang Sering Ditutup-tutupi Soal Bank Syariah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2022 oleh

Tags: bankbankirpilihan redaksiprofesi
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

4 Film dan Series MCU yang Perlu Ditonton Sebelum Nonton Doctor Strange in the Multiverse of Madness Terminal Mojok

4 Film dan Series MCU yang Perlu Ditonton Sebelum Nonton Doctor Strange in the Multiverse of Madness

3 Mei 2022
Saya Nggak Menyesal Membeli Honda Vario 125 2013

Honda Vario 125 2013, Motor yang Nggak Saya Sesali Pembeliannya

24 Juli 2023
7 Playlist Lagu yang Selalu Ada dalam Mobil Dinas Pelat Merah Terminal Mojok

7 Playlist Lagu yang Selalu Ada dalam Mobil Dinas Pelat Merah

4 Januari 2022

Reply 1988 vs Hometown Cha-cha-cha: Jelas Homcha Juaranya!

16 Oktober 2021
Sisi Gelap Servis iPhone yang Tak Disadari Konsumen, Menguras Kantong hingga Jutaan Rupiah!

Sisi Gelap Servis iPhone yang Tak Disadari Konsumen, Menguras Kantong hingga Jutaan Rupiah!

27 Juli 2024
Bintang di Surga: Semakin Mewah, Semakin Indah

Bintang di Surga: Semakin Mewah, Semakin Indah

8 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sekolah Angkringan Klaten, Tempat Belajar Buka Usaha Angkringan dari Nol hingga Siap Jualan Mojok.co

Sekolah Angkringan Klaten, Tempat Belajar Buka Usaha Angkringan dari Nol hingga Siap Jualan

2 Juli 2026
Unpopular Opinion: Skripsi Adalah Matkul Favorit Saya Sampai Rela Kuliah 7 Tahun Mojok.co jurnal

Tugas Akhir Jurnal sebagai Pengganti Skripsi Bukan Solusi kalau Budaya Riset Kampus Masih Setengah Hati

1 Juli 2026
Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

Jogja Sudah Terlalu Banyak Coffee Shop, yang Kita Butuhkan Sekarang Adalah Ruang Terbuka Hijau

4 Juli 2026
Alasan Saya Malas Jajan di Area Food Street AEON Mall Tanjung Barat Mojok.co

Alasan Saya Malas Jajan di Area Food Street AEON Mall Tanjung Barat

2 Juli 2026
Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan Mojok.co

Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan

1 Juli 2026
Sidang Skripsi Mahasiswa UNY: Ribetnya Mirip Hajatan, Pantas Saja Disebut “Kondangan Akademik” Mojok.co

Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

5 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.