5 Lokasi Shooting Sinetron Indonesia yang Monoton – Terminal Mojok

5 Lokasi Shooting Sinetron Indonesia yang Monoton

Artikel

Arif Ishartadi

Sadar atau tidak sinetron Indonesia masih jadi tontonan televisi terfavorit masyarakat. Ya, menonton sinetron pada jam prime time (pukul 18.00 sampai pukul 23.00), adalah hiburan termurah yang bisa diakses masyarakat, mungkin kamu salah satunya. Selain menghadirkan aktor dan aktris nan menawan dan cantik, alur ceritanya yang tak lepas dari intrik kehidupan sehari-hari juga menambah daya tarik tayangan layar kaca ini.

Dari anak-anak yang suka main TikTok, kawula muda yang masih suka jadi bucin, bapak-bapak paruh baya, hingga ibu-ibu rumah tangga, menikmati tayangan media elektronik, khususnya sinetron. Sebab, mereka bisa mendapatkan kepuasan tersendiri dari opera sabun yang mereka saksikan. 

Selain menjadi salah satu hiburan termurah, menonton sinetron bisa menambah kebahagiaan hidup. Kapan lagi sih bisa menikmati asupan budaya populer secara gratis dari rumah? Ya sinetron Indonesia jawabannya.

Namun, saking fokusnya pada alur cerita yang rumitnya minta ampun, terkadang penonton tak sadar bahwa latar tempat di sinetron Indonesia itu monoton, alias itu-itu saja. Padahal, peran “latar tempat” itu sangat penting untuk membangun suatu cerita, khususnya sinetron yang memanjakan indera penglihatan dan pendengaran kita.

Sinetron Indonesia lebih menitikberatkan pada alur cerita yang naik-turun dan karakterisasi daripada para pemerannya. Sebagai contoh, ketika berdialog, kamera lebih difokuskan pada wajah flawless para pemeran sinetron. Penonton jadi kurang diperlihatkan bagaimana suasana dan kondisi latar tempat, seperti cuaca, arah angin, atau waktu tepatnya. Semisal ingin menampilkan adegan di bawah cuaca yang lagi hujan, penonton hanya disajikan adegan di bawah hujan bohongan (air berasal dari selang) dengan background music menyayat hati.

Setidaknya ada lima latar tempat atau lokasi shooting yang sungguh terlihat monoton yang sering dihadirkan oleh sinetron Indonesia. Kurang pendanaan atau bagaimana? Padahal ratingnya juga bagus, kok nggak berusaha kreatif sedikit sih?

#1 Ruang makan meja oval

Di ruang makan, suasana yang biasanya dipertunjukkan dalam sinetron Indonesia adalah adegan sarapan atau makan malam. Menu sarapan yang kerap kali disajikan adalah roti tawar dengan pindakas dan segelas susu segar. Selain itu, nasi goreng pun kadang dihadirkan sebagai menu sarapan mainstream, sebelum sang ayah berangkat ke kantor dan anak-anak pergi ke sekolah. Furniture meja makan nan mewah juga melengkapi panggung layar kaca di ruang makan. Selain itu, dialog yang ditampilkan tidak hanya persoalan keluarga, tetapi juga cekcok antara majikan dan pembantu rumah yang menyajikan masakan kurang enak, alias keasinan atau kurang bumbu.

Segmen tayang sinetron di ruang makan tentu memberikan dampak besar bagi pemirsa di rumah. Apalagi, hidangan yang disajikan di atas meja makan bervariasi dan lezat-lezat. Bahkan, saat ini tayangan komersial juga kerap disisipkan di adegan ruang makan sinetron Indonesia.

Padahal, adegan di ruang makan bisa dibikin lebih realistis. Misalnya, ibu belum beli bahan masakan. Jadi, sang ayah atau anak mengorder makanan dari luar via GoFood atau Grab Food. Namun, citra perempuan di sinetron seringnya adalah sosok yang kurang ahli memasak sehingga urusan dapur diserahkan kepada ART, yang kebanyakan berasal dari suku Jawa. Duh, membangun stereotip lagi.

#2 Rumah sakit serbaputih

“Bagaimana, Dok kondisi si Polan?” dan “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain.” Dua perkataan itu kerap kali ditemui dalam dialog di sinetron Indonesia antara keluarga pasien dan dokter yang memeriksa si sakit. Selain itu, stereotip dokter di sinetron Indonesia pasti mengenakan jas warna putih dan berkalung stetoskop. Secara garis besar, latar rumah sakit tidak kerap muncul, ketika pemeran terluka akibat kecelakaan lalin, melahirkan anak, atau rawat inap karena penyakit kronis, lokasinya sama.

Walaupun ini bukan kritik keras pada sutradara sinetron, sebenarnya latar tempat di rumah sakit dapat ditampilkan secara apik dan elok. Suasana di rumah sakit pas antre BPJS, nebus obat, atau di parkiran seperti film Tilik yang sempat viral itu, bisa menghidupkan antusiasme penonton di rumah dan menambah keseruan alur ceritanya. Namun, adegan ciamik seperti itu mungkin sulit terwujud apabila pemain pendukung (figuran) kurang ditampilkan.

#3 Jalanan sepi di kompleks

Penonton di rumah mungkin agak bosan disuguhkan adegan tabrak lari di jalanan sepi. Anehnya, pascatabrakan muncullah sekelompok warga yang membantu si korban. Lah, mengapa mereka tak memperingatkan korban di awal bahwa ada mobil yang mendekat (niat nabrak)? Di sisi lain, si pengemudi mobil tampak agresif saat melaju di jalan sepi. Apalagi, videotron kerap kali muncul menampilkan merek produk, yang notabene mensponsori opera sabun yang lagi tayang. Masa ada iklan telepon pintar di serial Si Doel Anak Sekolahan? Ya, otak ini pun dibikin bekerja lebih keras untuk mencerna.

Walaupun sandiwara di jalanan kompleks nan sepi bisa bikin hati dongkol, penampilan cakep dan anggun para artis dan kemampuan aktingnya bisa sedikit mengobati hati pemirsa di rumah.  Bahkan, percakapan di dalam mobil yang berisi dua atau empat orang juga terkesan mandul di industri pertelevisian.

Ketika para artis lagi enak berdialog (biasanya sih cekcok) di mobil, dan ada yang nyetir, pemirsa di rumah diperlihatkan bayangan pepohonan rindang di kaca samping mobil (biasanya sedan), seolah mereka lagi menyetir di tengah hutan atau bersafari di Taman Nasional Baluran. Lah, bukannya daerah syutingnya di daerah suburban Jabodetabek?

Terlebih lagi, kecelakaan antara pemotor dan pengemudi mobil atau pedestrian dan pengendara mobil menjadi tahap awal kemunculan konflik di sinetron Indonesia. Bahkan, kita sering dipertunjukkan oleh adegan pejalan kaki yang terserempet sepeda motor. Setelah dirujuk di rumah sakit terdekat, eh luka yang diderita cukup parah, sampai diamputasi salah satu kakinya. Namun, kalau pengarang cerita sinetron TV sampai bikin adegan kayak film Final Destination, pasti KP langsung menolaknya, alias tidak lulus sensor. Ya, meskipun tidak sedikit masyarakat kita yang suka tayangan seperti itu.

#4 Kantor kayak rumah

Tokoh utama dalam sinetron televisi tak jarang yang tampil sebagai karyawan kantoran atau eksmud. Mereka pun menampilkan adegan ngantor, tapi tidak jelas kantor di mana dan bekerja bergerak di bidang apa. Tiba-tiba jadi manajer aja, atau paling tidak sekretaris. Setelan rapi layaknya seorang belantik di Wall Streets pun kerap dikenakan oleh bos atau karyawan kantoran.

Penampilan necis pegawai kantoran memang sengaja ditonjolkan untuk menarik perhatian penonton, khususnya ibu-ibu dan remaja. Ketidakjelasan bidang pekerjaan bisa memberikan kesan canggung kepada para penonton kritis. 

Minimnya informasi tentang jabatan pekerjaan, bidang usaha, dan produknya, membuat penonton semakin penasaran dan ingin tahu, ibarat seekor kucing yang bermain dengan bola benang. Padahal, sinetron Indonesia yang bisa tayang hingga beribu-ribu episode membagikan kejelasan tentang latar tempat untuk mencari nafkah, misalnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan (kantor: bergerak di bidang perminyakan), Tukang Ojek Pengkolan (kantor: pangkalan ojek dan jalanan), dan Tukang Bubur Naik Haji (kantor: warung bubur).

Seharusnya sinetron lain juga memperjelas profesi tokoh-tokoh di dalamnya agar cerita semakin realistis. Sayangnya demi mengedepankan kesederhanaan atau “hemat budget” semua hal ini dianggap minor dan tidak dipikirkan.

#5 Kafe interior teras

Mungkin kebiasaan kawula muda yang kerap mengobrol lama di warung kopi atau kafe dengan hanya memesan satu gelas minuman, dipengaruhi oleh tayangan sinetron televisi. Memang, nongkrong di kafe berjam-jam adalah salah satu gaya hidup masyarakat modern. Adegan di kafe seperti itu sudah sering ditemukan di acara FTV dan sinetron. Walaupun hanya memesan satu gelas sirup stroberi, para pemain FTV juga bisa mengobrol dan membahas gosip terhangat, arisan, hingga pamer kekayaan duniawi.

Interior kafe yang terkesan mewah dan gemerlap oleh hiasan lampu dan ornamen dinding pun mendukung sebagai tempat untuk pacaran dan selingkuh. Dengan alasan sedang lembur kerja, pemeran sinetron laki-laki yang biasanya sudah beristri, sering menemui kekasih simpanan di kafe. Tentunya, latar tempat di kafe tidak hanya digunakan untuk memadu kasih dan menenggak segelas minuman sambil ngobrol, tetapi kafe seharusnya juga menyediakan makanan berat yang mengenyangkan.

Citra kafe di sinetron televisi jadi tampak negatif di mata penonton karena latar tempat kerap jadi titik pertemuan untuk selingkuh, gosip sosialita, pesta pora, pamer perhiasan, dan mabuk-mabukan. Selain itu, konflik dalam opera sabun mulai muncul juga sering kali terjadi di kafe, misalnya memergoki pasangan selingkuh atau kafe sebagai tempat usaha dilalap si jago merah.

Ini adalah saran yang sudah lama terpendam di benak saya. Sudah seharusnya sinetron Indonesia naik level. Apabila hendak menayangkan genre kolosal atau fiksi ilmiah, peningkatan teknologi visual dan audio wajib dilakukan, apalagi saat ini saingan tontonan dari luar negeri lebih menarik untuk dikonsumsi. Jangan hanya ingin meraup rating dan revenue tinggi, tapi tontonan yang kurang berkelas dan berkualitas.

BACA JUGA Kaido Ternyata Mengidap PTSD: Sebuah Analisis dan tukisan Arif Ishartadi lainnya.

Baca Juga:  Sebagian Ibu-ibu Adalah Pencinta Kresek Hitam Garis Keras

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.