Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

5 Kuliner Lamongan Sedap tapi Kalah Pamor dari Pecel Lele Lamongan

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
13 Januari 2021
A A
Entah Kenapa Mendengar Nama Kota Lamongan Saja Sudah Bikin Lapar mojok.co/terminal

Entah Kenapa Mendengar Nama Kota Lamongan Saja Sudah Bikin Lapar mojok.co/terminal

Share on FacebookShare on Twitter

“Dari Lamongan ya, Mas? Wah, saya suka tuh pecel lele.” Kurang lebih seperti itu respons orang-orang ketika mendengar kata Lamongan. Ya, mereka memang selalu menghubungkan orang Lamongan dengan lalapan idaman semua umat, yaitu pecel lele. Melihat fenomena tersebut, saya benar-benar gusar. Bukan dengan orang-orang tersebut, melainkan dengan orang Lamongan.

Bagi saya, Lamongan merupakan kota penghasil makanan yang tingkat enaknya di atas rata-rata, namun beberapa makanan khasnya nggak terlalu dikenal. Salah satu sebabnya adalah karena mereka nggak pernah peduli tentang branding. Padahal di zaman serba digital ini, cara terbaik untuk mempromosikan sesuatu (termasuk makanan), ya dengan mendekati karakter masyarakat digital, yaitu digital branding.

Personal branding adalah hal yang sangat penting. Banyak produk lokal yang seharusnya cukup bagus, namun nggak terlalu diminati masyarakat hanya karena nggak dikenal atau dianggap nggak spesial. Contohnya adalah mata air Jolotundo yang berada di Mojokerto. Mata air tersebut merupakan mata air nomor 2 terbaik se-dunia setelah air zam-zam. Saya ulangi, NOMOR 2 TERBAIK SE-DUNIA, loh!

Fakta tersebut nyatanya nggak berbanding lurus dengan kepopuleran mata air Jolotundo tersebut. Bahkan kalau misalkan diberikan pilihan, saya sangat yakin orang Indonesia lebih percaya khasiat air Ponari daripada Mata Air Jolotundo dalam kesehatan. Hal ini bukan kesalahan masyarakat sepenuhnya, namun karena efek dari branding.

Masalah serupa juga terjadi di Lamongan. Bagi saya, kuliner Lamongan terlalu sempit jika hanya diartikan sekadar pecel lele. Banyak makanan yang benar-benar enak, namun nggak terlalu dikenal. Sebagai klan pecel lele, branding kuliner Lamongan adalah tugas kita bersama. Kita nggak bisa mengandalkan influencer, karena memang nggak ada influencer atau brand ambassador yang berasal dari Lamongan.

Saya kira sudah saatnya mimpi menjadi influencer perlu ditawarkan pada generasi muda agar segala hal yang ada di Lamongan bisa lebih dikenal masyarakat luas. Selain itu, juga agar nggak ada lagi orang yang menganggap kalau Lamongan hanya sekadar pecel lele.

Jika Jogja tercipta dari rindu, pulang, dan angkringan. Kemudian Bandung diciptakan saat Tuhan sedang jatuh cinta. Maka, Lamongan juga nggak mau kalah. Sepertinya kota ini tercipta saat Tuhan sedang memasak. Haish, kelihatan maksa banget ya, Hyung~

Kalimat di atas tentu adalah kiasan, jadi jangan malah bertanya kira-kira Tuhan ketika menciptakan Lamongan sedang masak pecel lele atau bukan. Itu pertanyaan konyol. Baiklah, mari kita mulai berkenalan dengan makanan dari Lamongan selain pecel lele.

Baca Juga:

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

#1 Soto Lamongan

Selain pecel lele, tentu saja ada soto Lamongan. Kuliner Lamongan satu ini memiliki derajat satu tingkat di bawah pecel lele. Yang spesial dari soto Lamongan adalah kuah yang kental, bumbu yang tajam, serta tentu saja rasa yang nendang. Ciri khasnya adalah taburan koya udang atau bubuk kuning yang ditaruh di atas soto.

#2 Tahu campur

Kuliner ini sebenarnya mudah ditemukan di berbagai kota. Yang membedakan adalah penggunaan petis udang dan kacang tolo. Sejauh yang saya ketahui, di Malang ada kuliner yang bernama campur telur. Kebanyakan pemiliknya berasal dari Lamongan, dan tentu saja sangat laris. Nah, alasan logis kenapa bisa laris dan enak tentu saja karena bumbu campur telur tersebut mengadopsi bumbu tahu campur Lamongan.

#3 Sego boran

Selain soto dan pecel lele, di Lamongan juga ada sego boran. Sego artinya nasi, sedangkan boran sendiri diambil dari tempat nasi yang bentuknya seperti bakul gendong.

Ada mitos menarik tentang kuliner satu ini, yaitu meski rasanya sangat enak, sego boran nggak bakal laku jika dijual di luar Lamongan. Terlepas dari mitos tersebut, faktanya makanan satu ini memang sulit ditemui di luar Lamongan. Entah karena kebenaran mitos tersebut, atau memang lidah orang luar Lamongan yang nggak cocok dengan kuliner Lamongan satu ini makanya nggak laris dan akhirnya gulung tikar.

#4 Wingko Babat

Kemampuan branding orang Lamongan memang cukup meresahkan. Ini terbukti ketika salah satu jajanan khas Lamongan, yaitu wingko babat lebih dikenal berasal dari Semarang. Padahal sudah jelas kalau wingko babat ini 100% asli Lamongan.

Makanan tradisional ini lebih dikenal di Semarang karena the founding father wingko babat tersebut, yang awalnya tinggal di Kecamatan Babat Lamongan, hijrah ke Semarang. Dan kebetulan ketika tinggal di Semarang, dagangan wingko tersebut lebih diminati, sehingga orang-orang menganggap wingko berasal dari Semarang.

Wingko adalah makanan yang berasal dari kelapa yang dipadukan dengan tepung ketan dan gula pasir. Bentuk awal dari wingko ini adalah bulat dan besar, namun karena dirasa kurang efektif untuk dijual, maka dibentuk agak mungil.

#5 Es batil

Minuman ini mirip dengan es dawet, yang membedakan tentu saja ada campuran batil. Batil sendiri merupakan kue yang mirip dengan apem, hanya saja rasanya agak asam karena dibuat dengan campuran tapai.

Sekarang sangat mudah mencari es batil di Lamongan. Namun tentu saja es batil yang paling melegenda adalah warung es batil bu Bayana yang terletak di Bulubrangsi, Kecamatan Laren.

Nah, itu tadi beberapa kuliner dari Lamongan selain pecel lele. Kalian nggak perlu berterimakasih atas informasi yang saya bagikan, cukup ingat-ingat saja kalau Lamongan nggak hanya tentang pecel lele saja.

Sedikit menambahi, sebenarnya alasan kenapa makanan asli Lamongan seperti pecel lele, soto Lamongan, dan sebagainya sangat nikmat adalah karena budaya mengkritik. Iya, budaya yang suka mengkritik merambat ke makanan. Di Lamongan, jika kalian membuat makanan yang kurang nendang, maka bersiaplah menerima kritik pedas.

Pernah suatu ketika saya ikut rombongan ziarah Wali Songo bersama para warga desa. Kami lalu berkesempatan mencicipi masakan di beberapa daerah, topik pembicaraan yang sering kami bahas adalah tentang makanan di daerah tersebut.

Tentu saja nggak hanya sekadar pembahasan yang sifatnya kulit, melainkan daging. Karena obrolan tersebut lebih terkesan penjurian ala-ala MasterChef. Semua hal tentang makanan akan dikomentari mulai dari bumbu, komposisi masakan, ketebalan daging, sampai tingkat kematangan masakan.

Konon, soto Lamongan awalnya dikiritik habis-habisan karena nggak memiliki rasa yang “nendang” sehingga dianggap sebagai makanan berkuah bening. Alhasil ketika memasak soto, orang Lamongan menambahkan banyak bumbu agar terhindar dari kritik tersebut. Lamongan memang keras, Hyung.

Budaya tersebut cukup menjelaskan kalau masakan orang Lamongan nggak perlu diperdebatkan lagi. Kami masih memiliki makanan lain seperti sego boran, siwalan, es batil, dan masih banyak lagi. Kuliner tersebut rasanya sudah pasti enak. Jika nggak percaya, mampir saja, lidah kalian nggak bakal bisa bohong~

Sumber Gambar: food.detik.com

BACA JUGA Mengenal Kata Umpatan Jogja yang Nggak Ada Serem-Seremnya dan tulisan M. Afiqul Adib lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2022 oleh

Tags: Kulinerlamongan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

3 Tempat Makan di Bandung yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

3 Tempat Makan di Bandung yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup 

13 Februari 2026
Tuban, Kota Elite Branding Sulit: Kabupaten yang Takdirnya Memang Sulit Terkenal, Diusahain pun Percuma lamongan

4 Hal Ciamik di Tuban yang Membuat Orang Lamongan Seperti Saya Iri Dengki

23 Oktober 2025
Surat Terbuka untuk Bupati Lamongan Terpilih dari Warga yang Sudah Lelah Mojok.co

Surat Terbuka untuk Bupati Lamongan Terpilih dari Warga yang Sudah Lelah

4 Februari 2025
3 Kuliner Jogja yang Laris Manis di Daerah Asalnya, tapi Kurang Laku di Malang Mojok.co

3 Kuliner Jogja yang Gagal Menggoyang Lidah Orang Malang

1 Agustus 2024
nasi ulam betawi

Nasi Ulam: Kuliner Betawi yang Terlupakan

29 Oktober 2021
Betapa Meresahkannya Sekte Ayam Geprek yang Tidak Digeprek Terminal Mojok

Ayam Geprek Sambal Matah, Varian Kuliner yang Sering Bikin Salah Paham

18 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.