Kecamatan-kecamatan di Sleman ini lebih enak untuk slow living daripada Kota Jogja.
Belakangan ini saya sering menemui pembicaraan tentang slow living. Kehidupan yang disebut-sebut lebih santai, sederhana, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Biasanya, keinginan slow living muncul dari diri orang-orang kota yang sudah jenuh dengan ritme kehidupan yang serba cepat.
Sialnya, yang sering dijadikan tempat tujuan slow living oleh orang-orang adalah Jogja. Sebagai orang Jogja, sebenarnya saya malas kalau banyak orang yang ingin pindah ke Jogja. Bukannya gimana-gimana, Jogja sudah banyak pendatang dari berbagai macam latar belakang. Dari mulai pelajar, mahasiswa, pekerja, sampai para wisatawan.
Sebetulnya , jika yang dimaksud tempat yang cocok untuk slow living adalah Kota Jogja, anggapan tersebut kurang tepat. Saat ini Kota Jogja bisa dibilang sudah penuh dan sesak. Banyak kawasan yang mulai dipadati penduduk. Sedangkan ruang untuk mobilitas rasanya semakin terbatas.
Justru tempat yang cocok untuk slow living adalah kabupaten-kabupaten di sekitar Kota Jogja yang masih masuk provinsi DIY. Kabupaten relatif menawarkan tempat yang lebih lega, sederhana, tenang, namun terkadang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Salah satu kabupaten yang cocok untuk slow living adalah Kabupaten Sleman. Tinggal di Sleman menjadi menarik karena masih banyak kawasan dengan suasana lebih tenang. Seperti sawah, kebun, jalan kampung yang tidak terlalu ramai, dan rumah-rumah yang jaraknya tidak dempet-dempetan.
Akan tetapi, tidak semua daerah di Sleman cocok untuk slow living. Karena sebagian masih dekat dengan pusat keramaian kota. Berikut adalah kecamatan-kecamatan di Sleman yang cocok untuk slow living.
#1 Pakem kecamatan adem di sisi utara Sleman
Kecamatan Pakem terletak di bagian utara. Daerah ini terkenal memiliki udara yang sejuk karena letaknya dekat dengan lereng Gunung Merapi. Meskipun udaranya dingin, tapi Pakem pada aslinya tidak jauh-jauh amat dari Kota Jogja.
Bagi orang yang ingin hidup dengan tenang, tapi tetap tidak terlalu jauh dari pusat kota, Pakem adalah jawaban yang tepat. Jarak tempuh dari Pakem menuju pusat kota tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 12 atau 13 kilometer saja.
Keunggulan dari Pakem lainnya adalah akses jalannya yang cukup mudah. Untuk menuju ke sana, kita tinggal mengikuti Jalan Kaliurang ke arah utara. Jalannya pun cukup mudah dikenali. Sehingga tidak perlu repot mencari jalan alternatif atau takut kesasar.
#2 Turi yang identik dengan kebun salak
Kecamatan Turi identik dengan pohon salak. Jika pergi Turi, kalian pasti akan menemui pohon-pohon salak di kanan dan kiri jalan. Udaranya yang dingin, dan jalannya yang tidak terlalu ramai, membuat Turi cocok untuk slow living di masa tua.
Turi terletak bersebelahan dengan Pakem. Tepatnya berada di barat kecamatan Pakem. Maka, untuk dapat pergi ke kecamatan Turi biasanya kita akan melewati Pakem terlebih dahulu.
#3 Tempel yang aksesnya dekat dengan Jalan Magelang
Sebenarnya kecamatan Tempel tidak terlalu jauh dari keramaian. Namun, bukan keramaian yang seperti di Kota Jogja, melainkan ramainya standar kabupaten biasa. Tempel dekat dengan keramaian yang berada jalan arah menuju Magelang. Hal ini tidak mengherankan sebab Tempel adalah kecamatan di Sleman yang berbatasan langsung dengan Magelang.
Tempat yang yang berada di timur Jalan Magelang ini punya hawa yang dingin, sehingga punya kesan syahdu yang cocok untuk slow living. Mirip-mirip dengan Kecamatan Turi. Jalan utamanya juga jarang dilalui kendaraan. Di beberapa desanya juga masih ada pohon-pohon salak yang membuat suasana pedesaan terasa semakin kuat.
#4 Moyudan, kecamatan di sisi barat Sleman yang syahdu
Moyudan merupakan kecamatan yang berada di bagian barat Kabupaten Sleman. Moyudan punya letak yang cukup jauh dari pusat kota. Maka dari itu suasana di Kecamatan Moyudan masih terasa lebih tenang. Dan, cocok untuk slow living.
Karakter wilayah Moyudan kebanyakan berupa persawahan. Pemandangan sawah masih mudah ditemukan di sepanjang jalan. Di beberapa tempat, kita juga masih bisa melihat petani yang sedang bekerja di sawah. Maka, tidak heran jika daerah ini terasa lebih tenang dibandingkan kawasan perkotaan yang dipenuhi bangunan dan kendaraan. Namun, suhu udara di Moyudan tidak sedingin kecamatan Turi dan Pakem.
#5 Minggir masih banyak area sawah
Kecamatan Minggir memiliki kemiripan dengan Moyudan. Yakni sama-sama dipenuhi area persawahan. Bedanya, Minggir terasa lebih jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Hal ini karena Minggir berada tepat di utara Kecamatan Moyudan.
Melihat aktivitas petani di persawahan Minggir, tentu akan menjadi kegiatan slow living menyenangkan. Kita tidak perlu membayar tiket masuk, tidak perlu antre, dan tidak perlu sibuk mencari spot foto. Cukup datang ke jalan persawahan, duduk sebentar, lalu melihat petani bekerja sambil menikmati angin yang berembus.
Demikianlah lima kecamatan di Sleman yang cocok untuk slow living versi saya. Mungkin jika versi jamaah Mojok yang lain preferensinya bisa berbeda lagi. Saya hanya mengambil indikator keheningan dan ketenangan untuk menentukan tempat tersebut.
Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Slawi, tempat paling ideal untuk slow living ketika saya dan istri menua nanti
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.