Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Hal yang Dimiliki Magelang dan Nggak Bisa Saya Jumpai di Semarang

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
29 Oktober 2025
A A
5 Hal yang Dimiliki Magelang dan Nggak Bisa Saya Jumpai di Semarang

5 Hal yang Dimiliki Magelang dan Nggak Bisa Saya Jumpai di Semarang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah hampir tiga tahun saya merantau di Semarang setelah sebelumnya tinggal di Magelang. Awalnya sih mikir kehidupan di Semarang sama aja kayak di Magelang, paling beda dikit. Wong masih sama-sama di Jawa Tengah. Tetapi ternyata saya salah besar. Ada banyak hal yang bikin saya kangen Magelang, mulai dari soal kuliner, suasana kota, sampai cara hidup masyarakatnya yang beda banget sama Semarang.

Sebagai perantau yang bolak-balik Magelang-Semarang, saya jadi sering membandingkan kedua kota ini. Dan saya menyadari ada beberapa hal yang mudah banget ditemukan di Kota Sejuta Bunga, tapi ternyata sulit atau bahkan nggak ada di Kota Lumpia.

#1 Getuk Trio yang legendaris itu cuma ada di Magelang

Pertama, kuliner yang paling bikin kangen adalah Getuk Trio. Ini bukan getuk biasa yang bisa kamu temui di pasar-pasar tradisional. Getuk Trio itu ikonik banget buat orang Magelang. Teksturnya lembut, manisnya pas, dan yang paling penting, rasanya tuh beda dari getuk manapun.

Di Magelang, terutama daerah pusat kota, Getuk Trio ini gampang banget ditemukan. Bahkan jadi oleh-oleh wajib kalau ada tamu dari luar kota. Variannya juga macem-macem, di antaranya original, cokelat, durian, pandan, dan masih banyak lagi.

Nah, begitu saya pindah ke Semarang, saya coba cari getuk yang rasanya mirip. Susah, Bro. Yang ada cuma getuk biasa yang dijual di pasar atau toko oleh-oleh dengan merek lain. Rasanya jauh banget. Getuk Trio memang cuma bisa didapat di Magelang, dan itu bikin saya sering nitip kalau ada teman yang pulang ke sana.

#2 Pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu dari tengah kota

Ini yang paling bikin beda secara visual. Di Magelang, kamu bisa dengan mudah melihat Gunung Merapi dan Merbabu dari berbagai sudut kota. Bahkan dari rumah, kampus, atau jalanan biasa, kamu bisa langsung lihat dua gunung megah itu berdiri gagah. Apalagi kalau pagi hari pas cuaca cerah, pemandangannya tuh bikin adem hati.

Suasana ini bikin Magelang terasa lebih sejuk dan asri. Udara juga lebih dingin, terutama pagi dan malam. Kadang kalau lagi hujan atau kabut turun, rasanya kayak tinggal di pegunungan.

Beda banget sama Semarang. Kota ini lebih datar dan pesisir, jadi ya nggak ada pemandangan gunung. Yang ada malah laut di utara. Suasananya juga lebih panas dan gerah, apalagi kalau siang hari. Jadi buat saya yang terbiasa dengan kesejukan Magelang, adaptasi di Semarang tuh lumayan challenging, terutama soal cuaca.

Baca Juga:

Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang!

Banyuwangi Jawa Timur dan Banyuwangi Magelang: Nama Boleh Sama, tapi Soal Nasib Berbeda Jauh

#3 Aksesibilitas ke tempat wisata dalam radius dekat

Magelang itu surganya destinasi wisata dalam jarak deket. Mau ke Candi Borobudur? 15-20 menit doang. Mau ke Ketep Pass buat lihat Merapi lebih dekat? 30 menit. Mau ke Punthuk Setumbu buat sunrise hunting? Sejaman. Belum lagi wisata lain kayak Svargabumi, Taman Kyai Langgeng, Rafting Elo, atau Gereja Ayam.

Semua tempat wisata ini gampang banget dijangkau. Jadi kalau weekend bosen di rumah, tinggal ngajak teman jalan-jalan, nggak perlu planning ribet atau perjalanan jauh. Biaya pun relatif murah karena nggak perlu sewa hotel atau keluar ongkos transportasi besar.

Di Semarang, destinasi wisata memang ada, tapi kebanyakan itu wisata kota kayak Lawang Sewu, Kota Lama, atau Sam Poo Kong. Kalau mau yang alam, harus keluar kota lumayan jauh. Mau ke Bandungan atau Ambarawa butuh waktu minimal sejam lebih. Jadi kalau dibanding Magelang, Semarang kurang “kaya” soal variasi wisata alam yang gampang dijangkau.

#4 Kultur masyarakat Magelang lebih homogen dan kekeluargaan

Di Magelang, kultur masyarakatnya masih kental banget dengan nilai-nilai kekeluargaan. Tetangga kanan-kiri masih saling kenal, masih ada budaya saling titip kunci rumah, atau ngobrol santai di teras. Komunitasnya juga lebih homogen karena mayoritas warganya ya orang Jawa asli Magelang atau sekitarnya.

Bahasa yang digunakan pun cenderung seragam, yaitu bahasa Jawa dengan dialek khas Magelang yang lembut. Nggak ada perbedaan dialek yang terlalu mencolok kayak di kota-kota besar lainnya.

Sementara Semarang, sebagai kota besar dan pelabuhan, jauh lebih kosmopolitan. Banyak pendatang dari berbagai daerah, jadi kulturnya lebih beragam. Ini sih ada plus-minusnya. Plusnya, kamu bisa ketemu banyak orang dengan latar belakang berbeda. Minusnya, nuansa kekeluargaan itu jadi berkurang. Tetangga sebelah mungkin nggak terlalu kenal, apalagi di area kos-kosan atau apartemen.

Buat saya yang terbiasa dengan kultur Magelang yang hangat, awal-awal tinggal di Semarang tuh berasa agak “dingin” secara sosial. Butuh waktu buat adaptasi dan cari circle sendiri.

#5 Harga kuliner yang jauh lebih terjangkau

Last but not least, soal harga makanan. Di Magelang, makan di warung atau angkringan itu bener-bener murah meriah. Dengan uang Rp10 ribu-Rp15 ribu, kamu udah bisa kenyang makan nasi + lauk pauk + es teh manis. Bahkan mie ayam atau bakso yang enak pun harganya masih di bawah Rp15 ribu.

Kultur makan di warung kaki lima atau angkringan juga masih sangat kuat di Magelang. Jadi pilihan tempat makan murah itu banyak banget dan mudah ditemukan di mana-mana.

Begitu pindah ke Semarang, saya langsung ngerasain perbedaan harga yang signifikan. Makan di warung biasa aja bisa habis Rp15 ribu-Rp20 ribu, belum tentu kenyang. Mie ayam atau bakso yang enak harganya bisa Rp18 ribu-Rp25 ribu. Apalagi kalau makan di resto atau kafe, uang Rp30 ribu-Rp50 ribu bisa langsung melayang.

Memang sih Semarang sebagai kota besar punya standar harga yang lebih tinggi. Tapi buat anak rantau kayak saya yang budgetnya pas-pasan, ini lumayan bikin kantong jebol kalau nggak pinter-pinter ngatur pengeluaran.

Inilah beberapa hal yang menurut saya mudah dijumpai di Magelang tapi sulit atau bahkan nggak ada di Semarang. Meskipun sama-sama di Jawa Tengah, ternyata karakteristik kedua kota ini beda banget, ya. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian punya pengalaman serupa tinggal di dua kota berbeda dalam satu provinsi? Atau mungkin punya versi lain tentang keunikan Magelang yang nggak ditemukan di kota lain?

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Alasan Anak Muda Ogah Menetap di Magelang yang Katanya Nyaman.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2025 oleh

Tags: kabupaten magelangKota Magelangkota semarangmagelangSemarang
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Gejayan Jogja dan Gejayan Magelang: Namanya Sama, tapi Nasibnya Jauh Berbeda  Mojok.co

Gejayan Jogja dan Gejayan Magelang: Namanya Sama, tapi Nasibnya Jauh Berbeda 

4 November 2025
Pengalaman Tinggal di Semarang Menyadarkan Saya kalau Cikarang Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Semarang Menyadarkan Saya kalau Cikarang Ternyata Nggak Buruk-Buruk Amat

23 Februari 2024
Semarang Sesak oleh Spanduk Narsis Pejabat Daerah (Unsplash)

Fenomena Narsisme Pejabat Daerah di Semarang: Spanduk dan Baliho yang Bikin Saya Jengah

22 September 2023
Alasan Saya Ogah ke Lawang Sewu Semarang, meski Tempatnya Benar-benar Ikonik

Alasan Saya Ogah ke Lawang Sewu Semarang, meski Tempatnya Benar-benar Ikonik

2 Desember 2024
Terminal Bayangan Terboyo Semarang, Terminal Paling Berbahaya di Jawa Tengah

Terminal (Bayangan) Terboyo Semarang, Terminal Paling Berbahaya di Jawa Tengah

5 September 2024
Sarapan Sate di Semarang Memang Aneh, tapi Saya Ketagihan (Unsplash)

Sarapan di Semarang Memang Rada Aneh, tapi Sekarang Saya Bisa Menikmati Bahkan Ketagihan

16 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Grand Livina Bukan Mobil Lemah, Ia Adalah Bukti Kenyamanan Sejati Memang Butuh Ongkos dan Keringat

Grand Livina Bukan Mobil Lemah, Ia Adalah Bukti Kenyamanan Sejati Memang Butuh Ongkos dan Keringat

5 Januari 2026
Motor Matic Tanpa Kick Starter Itu Judi: Ini Daftar Motor Baru yang Masih Waras dan Layak Dijadikan Pilihan!

Motor Matic Tanpa Kick Starter Itu Judi: Ini Daftar Motor Baru yang Masih Waras dan Layak Dijadikan Pilihan!

5 Januari 2026
Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Hal Unik yang Lumrah Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk Kota Jogja, dari yang Biasa Saja sampai yang Menyebalkan

8 Januari 2026
Warung Gunung Semeru Lumajang Ikonik, tapi Nggak Cocok untuk Kalian yang Kesabarannya Setipis Tisu Mojok.co

Warung Gunung Semeru Lumajang Ikonik, tapi Nggak Cocok untuk Kalian yang Kesabarannya Setipis Tisu

5 Januari 2026
Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua Mojok.co

Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua

9 Januari 2026
Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya dengan Berat Hati Mojok.co

Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati

7 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.