Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Hal Unik Terkait Pasar Papringan Temanggung

Fajar Fery Ferdiansyah oleh Fajar Fery Ferdiansyah
31 Agustus 2022
A A
5 Hal Unik terkait Pasar Papringan Temanggung Terminal Mojok

5 Hal Unik terkait Pasar Papringan Temanggung (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Temanggung adalah sebuah kabupaten yang berada di tengah-tengah Provinsi Jawa Tengah. Kota kecil ini berbatasan dengan Kendal di bagian utara, Semarang di bagian imur, Magelang di bagian selatan, dan Wonosobo di bagian barat.

Sebagian besar wilayah Temanggung juga berada di dataran tinggi dan pegunungan karena letaknya ada di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dengan posisi geografis seperti ini, wajar bila kota ini menawarkan banyak panorama wisata alam khas pegunungan yang indah dan memanjakan mata.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi selain wisata pegunungan, ada satu lagi tujuan wisata di Temanggung yang punya ciri khas unik sampai-sampai terkenal hingga ke luar negeri. Tujuan wisata tersebut adalah Pasar Papringan, sebuah pasar desa yang terletak di kaki Gunung Sindoro, tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu. Apa saja keunikan dari pasar ini?

#1 Digelar di tengah hutan bambu

Pasar Papringan memang nggak seperti pasar lain yang menempati sebuah bangunan kokoh. Pasar ini justru digelar di tengah-tengah hutan bambu yang rimbun seluas 2.500 meter persegi. Ketika datang ke sini, selain berbelanja, pengunjung yang datang bisa menikmati udara sejuk dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Alih-alih ingin cepat pulang, suasana seperti itu justru bikin pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Pasar Papringan awalnya bermula dari keresahan yang dirasakan Singgih Kartono Susilo bersama bersama timnya dari komunitas Spedagi terhadap kebiasaan masyarakat desa di Indonesia yang suka menjadikan hutan bambu sebagai lokasi pembuangan sampah. Mereka lantas membuat Pasar Papringan sebagai bagian dari proyek Spedagi untuk mewujudkan gerakan revitalisasi desa dengan pendekatan yang kreatif. Profil tentang komunitas Spedagi bisa kalian cek melalui website mereka di sini.

#2 Jualan kuliner tradisional, kerajinan, hingga hasil pertanian masyarakat desa

Layaknya pasar pada umumnya, pengunjung yang datang ke Pasar Papringan Temanggung bisa berbelanja aneka barang. Apa saja yang bisa dibeli di sini?

Kalau kalian kangen dengan jajanan atau kuliner tradisional, datang kemari adalah pilihan tepat. Sebab, kalian bakal menemukan berbagai jenis kuliner tradisional yang sudah mulai sulit ditemui di tempat lain. Sebut saja bajingan kimpul dan singkong, dawet iwel-iwel, ndas borok, bal handal, dan masih banyak lagi.

Selain kuliner, ada juga kerajinan bambu dan hasil pertanian dari desa setempat yang dijual di sini. Ada buah-buahan, umbi lokal suweg, hingga gembili. Kurang lebih ada 100 pedagang yang ada di Pasar Papringan ini dan semuanya merupakan warga lokal.

Baca Juga:

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

5 Stereotipe Purwokerto yang Sudah “Kedaluwarsa”, tapi Masih Saja Banyak Dipercaya

#3 Transaksi menggunakan uang bambu

Selain lokasinya yang berada di tengah hutan bambu, satu hal lain yang bikin Pasar Papringan berbeda dari pasar umumnya adalah pengunjung dan penjual melakukan transaksi menggunakan keping pring atau bambu. Inilah yang menjadi cikal bakal kenapa pasar ini dinamakan “papringan”.

Soal uang bambu ini kalian nggak perlu khawatir, Gaes. Sebelum masuk ke pasar, kalian bisa menukarkan uang dengan keping pring di tempat yang sudah disediakan. Satu pring setara Rp2.000. Daftar harga untuk makanan atau benda-benda yang dijual juga tertera dengan jelas. Untuk makanan berat rata-rata harganya 6 pring atau Rp12.000.

#4 Bebas sampah plastik

Kalau tertarik ingin berbelanja ke Pasar Papringan Temanggung, jangan lupa bawa kantong belanja sendiri, ya. Pasalnya, pasar ini sudah menerapkan 100% bebas plastik. Tapi kalau kalian lupa bawa kantong belanja sendiri, kalian bisa membeli keranjang atau besek yang terbuat dari anyaman bambu di pasar ini.

#5 Hanya digelar dua kali tiap 35 hari

Pasar Papringan buka mulai pukul 06.00 pagi hingga 12.00 siang. Namun, pasar ini nggak digelar setiap hari, melainkan dua kali setiap 35 hari, yakni di hari Minggu wage dan Minggu pon berdasarkan perhitungan kalender Jawa.

Hal ini bertujuan untuk memberikan jarak waktu yang cukup bagi para pedagang yang ingin berjualan di Pasar Papringan agar bisa mempersiapkan semuanya tanpa terburu-buru. Makanya sebelum datang ke pasar ini, kalian wajib mengecek kalender biar nggak salah jadwal.

Dengan segala keunikan yang dimiliki Pasar Papringan, apalagi lokasinya juga berada di tengah-tengah hutan dengan panorama yang indah, rasanya pasar ini memang sayang sekali dilewatkan bila kebetulan kalian singgah di Temanggung. Untuk menuju ke pasar ini juga nggak sulit, kok. Jarak Pasar Papringan dari pusat Kota Temanggung cuma sekitar 11 kilometer dengan akses jalan yang baik. Nggak usah takut nyasar juga, sebab lokasinya sudah bisa dilihat di Google Maps.

Penulis: Fajar Fery Ferdiansyah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Tempat Camping di Temanggung dengan View Gunung Sindoro dan Sumbing.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Agustus 2022 oleh

Tags: jawa tengahPasar Papringanpasar tradisionaltemanggung
Fajar Fery Ferdiansyah

Fajar Fery Ferdiansyah

Seorang kurir pengantar paket wilayah Jabodetabek, yang tertarik dengan dunia membaca dan menulis.

ArtikelTerkait

Solo Grand Mall (SGM), Mall Pertama yang Masih Eksis (Unsplash)

Solo Grand Mall (SGM), Mall Pertama di Solo yang Masih Eksis Hingga Sekarang

29 November 2023
Wisata Alam Posong Temanggung Berubah: Dulu Indah, Sekarang Bikin Pengunjung Kecewa

Wisata Alam Posong Temanggung Berubah: Dulu Indah, Sekarang Bikin Pengunjung Kecewa

18 Mei 2025
5 Keunikan Cilacap yang Tidak Dimiliki Daerah Lain Terminal Mojok

5 Keunikan Cilacap yang Tidak Dimiliki Daerah Lain

5 September 2022
Orang Ungaran Pilih Mengaku Asli Semarang karena Malu Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan

Orang Ungaran Pilih Mengaku Asli Semarang karena Malu Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan

8 Maret 2024
10 Kosakata Pemalang yang “Ajaib” hingga Bikin Bingung Banyak Orang Mojok.co

10 Kosakata Pemalang yang “Ajaib” hingga Bikin Bingung Banyak Orang

1 Oktober 2025
Purwokerto Timur, Kecamatan Paling Maju di Kabupaten Banyumas dan Nggak Mungkin Disaingi Kecamatan Lain

Purwokerto Timur, Kecamatan Paling Maju di Kabupaten Banyumas dan Nggak Mungkin Disaingi Kecamatan Lain

2 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026
GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.