Pindah ke daerah baru atau merantau selalu penuh ekspektasi. Apalagi kalau daerah tujuannya Solo. Di kepala kalian pasti sudah terbayang daerah yang kalem, tertib, dan penuh budaya. Hidup bakal tenang dan tentram.
Akan tetapi, realitas menghantam dengan keras ketika benar-benar pindah dan tinggal di Kota Budaya ini. Kenyataannya, daerah ini tak seindah ekspektasi orang-orang.
#1 Tidak semua orang Solo itu halus dan lemah lembut
Ada istilah “putri Solo” untuk menggambarkan orang-orang yang lemah lembut dan elegan. Daerah ini memang lekat dengan warga yang halus tuturnya dan lemah lembut tindak-tanduknya.
Tidak heran kalau pendatang kemudian membayangkan hidup di Solo akan menghadapi warlok yang seragam seperti itu. “Wah, pasti gampang bergaul di sini” mungkin begitu kurang lebih ekspektasi orang-orang.
Kenyataannya jauh dari itu. Memang ada orang yang lembut tutur kata dan tindak tanduknya. Namun, tidak sedikit juga yang ugal-ugalan mulut dan tindakannya.
Apalagi ketika berkendara, banyak juga orang yang membawa kendaraan mirip film balap Fast & Furios. Ada yang klakson keras dan emosian, semua dilakukan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Budaya sopan memang masih kental, tapi itu bukan berarti konflik sosial hilang total. Malah kadang, konfliknya lebih rumit karena tipe orangnya pasif-agresif.
#2 Makanan murah itu relatif
Murah dan mahal itu relatif. Semuanya tergantung penghasilan seseorang dan di mana mereka membelanjakannya. Kalau kalian menjajakan uang kalian di tempat turis yang viral, jelas makanan dan minuman di sana mahal-mahal.
Nasi liwet atau makanan khas Solo lainnya yang enak itu ada banyak. Hanya saja, kalian perlu tahu di mana harus berkunjung. Nah, kalau sudah begini, jangan malu-malu untuk tanya warlok yang lebih tahu daerahnya lebih lama dan dalam.
#3 Solo tidak seperti Jakarta yang padat, tapi jalanannya mulai macet
Solo bukanlah kota besar seperti Jakarta maupun Surabaya. Namun, jangan berani-beraninya memimpikan jalan yang lenggang setiap saat. Ada kalanya kemacetan di jalanan Solo itu mirip jalanan Jakarta.
Jalan Slamet Riyadi di jam sibuk misalnya. Belum lagi kalau ada acara budaya, karnaval, atau event besar jalanan berubah menjadi lautan manusia dan kendaraan yang bergerak sangat lambat.
Dan, satu hal yang sering bikin pendatang kaget. Sistem jalan di Solo itu punya logika sendiri. Ada jalan satu arah yang berubah arah di jam tertentu, ada gang yang kelihatan buntu, tapi ternyata tembus. Google Maps memang bisa membantu, tapi pengalaman warga lokal adalah sumber kebenaran yang sesungguhnya.
#4 Tidak semua warlok menikmati event budaya
Ini yang paling menggiurkan. Solo punya Keraton, punya tradisi wayang, punya batik, punya sekaten. Kalian membayangkan setiap minggu ada pertunjukan seni yang bisa dinikmati sambil ngemil jadah.
Kenyataannya, acara budaya di Solo itu ada, tapi tidak setiap hari, dan tidak selalu mudah diakses kalau kamu tidak tahu jadwalnya. Orang yang bisa update soal agenda budaya Solo biasanya adalah mereka yang memang aktif di komunitas atau sudah lama tinggal di sana.
Lucunya, banyak pendatang yang justru lebih rajin datang ke acara budaya Solo dibanding warga Solo sendiri. Sebagian besar orang Solo yang sudah kerja dan punya anak malah menghabiskan waktu luang mereka di mal atau wedangan hal yang persis sama yang mereka lakukan di kota mana pun. Jadi ekspektasi kamu soal hidup yang penuh nuansa budaya setiap hari mungkin perlu sedikit direvisi.
#5 Tinggal di Solo bikin orang auto betah
Ini juga salah satu mitos paling sering dipercaya.
Solo memang nyaman, tapi tidak semua orang otomatis cocok tinggal di sini. Ada yang justru merasa ritme kota ini terlalu lambat. Ada juga yang bosan karena suasananya tidak serumit kota besar. Tidak sedikit pula yang merasa Solo terlalu “aman” sampai hidup terasa monoton.
Karena pada akhirnya, betah atau tidak bukan cuma soal kota, tapi juga soal fase hidup.
Kalau hidup sedang berantakan, pindah ke kota senyaman apa pun tetap bisa terasa sepi. Terlebih kalau belum ada lingkar pertemanan, Solo bisa terasa sunyi. Apalagi kalau belum berdamai dengan diri sendiri, setenang apapun Solo, tetap terasa melelahkan.
Itulah beberapa ekspektasi para perantau Solo yang kerap kali buyar ketika benar-benar hidup di Kota Budaya ini. Bagaimana para perantau Solo, valid tidak daftar di atas?
Penulis: Alifia Putri
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
