Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

5 Dosa Jurusan Ekonomi yang Bikin Lulusannya Kagok di Dunia Kerja

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
18 November 2025
A A
5 Dosa Jurusan Ekonomi yang Bikin Lulusannya Kagok di Dunia Kerja

5 Dosa Jurusan Ekonomi yang Bikin Lulusannya Kagok di Dunia Kerja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jurusan Ekonomi “berdosa” pada mahasiswanya karena menjanjikan masa depan gemilang. Tetapi realitasnya bikin mereka terdampar di zona abu-abu dunia kerja.

Kalau ada yang bilang jurusan Ekonomi itu jurusan kuliah bergengsi, saya setuju. Kalau ada yang bilang lulusan Ekonomi pasti kaya raya, saya cuma bisa senyum miris sambil mengecek saldo rekening. Masalahnya, gap antara ekspektasi dan realitas di jurusan ini lebih lebar dari jurang pemisah si kaya dan si miskin.

Sejak awal masuk kuliah, mahasiswa Ekonomi sudah dicekoki mimpi indah, seperti kalian akan jadi ekonom handal, analis keuangan, manajer perusahaan multinasional, atau minimal jadi konsultan yang gajinya bikin iri satu kampung. Tapi kenyataannya? Banyak lulusan Ekonomi yang malah jadi admin online shop, sales asuransi yang ditolak mulu, atau pegawai bank yang sebenarnya cuma jadi tukang ketik data.

Ini bukan berarti lulusan jurusan Ekonomi gagal semua, ya. Tapi jurusan ini punya beberapa “dosa” fundamental yang bikin lulusannya sering kagok pas terjun ke dunia kerja. Dan dosa-dosa ini perlu dibongkar habis-habisan.

#1 Terlalu banyak rumus jurusan Ekonomi, minim skill praktis

Selama empat tahun kuliah, mahasiswa jurusan Ekonomi dipaksa menghafal ratusan rumus. Mulai dari rumus elastisitas permintaan, GDP, inflasi, sampai model ekonometrika yang bikin pusing tujuh keliling. Katanya sih biar jadi ekonom yang cerdas dan bisa menganalisis kondisi perekonomian negara.

Tapi pertanyaannya adalah berapa sih lulusan Ekonomi yang beneran jadi ekonom? Berapa yang posisinya sampai bisa mempengaruhi kebijakan ekonomi nasional?

Kebanyakan lulusan Ekonomi masuk ke dunia kerja yang butuh skill praktis, seperti bikin laporan keuangan pakai software, analisis data pakai Excel atau tools lain, presentasi yang menarik, atau bahkan sekadar komunikasi yang baik dengan klien. Nah, skill-skill kayak gini jarang banget diajarkan dengan serius di bangku kuliah.

Alhasil, fresh graduate Ekonomi masuk kantor dengan modal rumus-rumus yang dalam CV kelihatan keren, tapi pas disuruh bikin cash flow projection atau laporan audit sederhana, langsung blank. Ujung-ujungnya harus belajar lagi dari nol. Terus gunanya kuliah empat tahun apa, coba?

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut Jurusan Paling Green Flag

#2 Janji manis “prospek kerja luas” yang menyesatkan

Setiap ada open house atau pameran pendidikan, stand jurusan Ekonomi selalu penuh. Mahasiswa yang jaga stand dengan pede-nya bilang, “Lulusan Ekonomi prospek kerjanya luas banget! Bisa kerja di bank, konsultan, perusahaan swasta, BUMN, bahkan jadi pengusaha!”

Dengar kalimat itu, calon mahasiswa langsung berbinar-binar. Orang tua langsung setuju. Masa depan cerah terbentang luas. Tapi setelah lulus, baru deh sadar kalau prospek kerja luas itu artinya “nggak spesifik kemana-mana”.

Lulusan Akuntansi jelas jadi akuntan. Lulusan Teknik bisa jadi engineer. Dan lulusan Kedokteran ya jadi dokter. Tapi lulusan Ekonomi? Bisa ke mana aja, tapi seringnya nggak diterima di mana-mana karena dianggap kurang spesialis.

Mau jadi analis keuangan? Kalah sama lulusan Akuntansi yang lebih paham pembukuan. Mau jadi data analyst? Kalah sama lulusan Statistik atau Informatika yang lebih jago ngoding. Mau kerja di bank? Persaingannya ketat banget karena semua jurusan juga ngelamar ke sana.

Akhirnya, banyak lulusan Ekonomi yang nyasar ke pekerjaan yang bahkan nggak ada hubungannya sama ekonomi. Dan yang lebih ironis, mereka tetap bisa kerja di situ. Artinya apa? Ilmu yang dipelajari selama kuliah memang nggak terlalu relevan dengan dunia kerja.

#3 Mata kuliah jurusan Ekonomi yang ketinggalan zaman

Di era digital ini, ekonomi bergerak dengan kecepatan cahaya. Ada fintech, cryptocurrency, ekonomi digital, e-commerce, dan berbagai model bisnis baru yang bermunculan setiap hari. Tapi apa yang diajarkan di jurusan Ekonomi? Teori ekonomi klasik yang umurnya lebih tua dari dosen yang ngajar.

Mahasiswa masih disuruh baca buku teks yang diterbitkan puluhan tahun lalu. Masih diajarin tentang sistem ekonomi yang relevansinya dipertanyakan. Diskusi di kelas masih soal teori-teori yang itu-itu aja, sementara di luar sana dunia ekonomi sudah berevolusi.

Berapa banyak jurusan Ekonomi yang punya mata kuliah khusus tentang ekonomi digital? Tentang blockchain? Tentang analisis big data untuk bisnis? Atau tentang startup ecosystem? Minimal, tentang cara pakai software analisis data yang sekarang jadi kebutuhan dasar di dunia kerja?

Sangat sedikit. Dan kalau ada pun, cuma jadi mata kuliah pilihan yang seringnya malah nggak dibuka karena kuota peserta nggak mencukupi.

#4 Magang yang cuma formalitas

Seperti jurusan lain, mahasiswa jurusan Ekonomi juga punya program magang atau praktik kerja lapangan. Katanya sih buat ngasih pengalaman real di dunia kerja. Tapi kenyataannya? Kebanyakan cuma jadi ajang ngumpulin tanda tangan buat syarat kelulusan.

Mahasiswa magang di perusahaan, tapi nggak dikasih pekerjaan yang bermakna. Paling cuma disuruh fotokopi, filing dokumen, atau bikin kopi buat pegawai tetap. Kalau beruntung, dikasih tugas input data yang membosankan. Ilmu yang didapat? Hampir nol.

Masalahnya, jurusan juga nggak punya kontrol ketat terhadap kualitas magang ini. Yang penting mahasiswa dapat tempat, dapat tanda tangan, selesai. Padahal, magang yang berkualitas bisa jadi bekal penting buat fresh graduate bersaing di dunia kerja.

Alhasil, lulusan Ekonomi masuk dunia kerja dengan CV yang terlihat oke (ada pengalaman magang), tapi pas interview atau pas kerja beneran, nggak punya cerita atau skill yang bisa dijual.

#5 Dosen jurusan Ekonomi yang jauh dari praktik lapangan

Ini mungkin dosa terbesarnya adalah banyak dosen jurusan Ekonomi yang sebenarnya jauh dari dunia praktik. Mereka ahli teori, tapi belum tentu paham gimana ekonomi bekerja di lapangan. Belum tentu pernah kerja di korporasi, belum tentu pernah bangun bisnis sendiri, atau bahkan belum tentu update sama perkembangan ekonomi terkini.

Yang mereka ajarkan adalah apa yang mereka baca dari buku teks dan jurnal akademis. Tapi pengalaman nyata menghadapi klien, negosiasi bisnis, atau bahkan sekadar bikin proposal yang disetujui investor? Minim.

Padahal mahasiswa butuh role model yang bisa kasih gambaran nyata tentang dunia kerja. Butuh mentor yang bisa kasih insight praktis, bukan cuma teori yang mengawang-awang.

Menulis ini bikin saya sendiri galau. Jurusan Ekonomi seharusnya jadi tempat lahirnya pemikir-pemikir ekonomi yang cerdas dan praktisi yang handal. Tapi realitanya, banyak lulusannya yang jalan tertatih-tatih di awal karir, bingung mau kemana, dan ngerasa ilmu yang dipelajari selama kuliah nggak cukup jadi bekal.

Mungkin memang bukan sepenuhnya salah jurusannya. Sistem pendidikan tinggi kita yang perlu dirombak. Kurikulum yang harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Dosen yang perlu lebih banyak terjun ke lapangan. Dan mahasiswa yang juga harus lebih proaktif cari ilmu di luar kelas.

Tapi satu hal yang pasti kalau jurusan Ekonomi nggak segera bertobat dari dosa-dosanya, akan terus ada lulusan yang merasa tertipu dengan janji manis masa depan cerah yang ternyata cuma ilusi semata.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kukira Jurusan Ekonomi Pembangunan Cuma Itung-itungan, Ternyata Isinya Analisis Kebijakan Melulu yang Bikin Pusing

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 November 2025 oleh

Tags: dunia kerjajurusan ekonomijurusan kuliahkondisi dunia kerjalulusan ekonomimahasiswa ekonomistereotip jurusan kuliah
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Stereotip Menyebalkan terhadap Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Terminal Mojok

Stereotip Menyebalkan terhadap Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional

23 Desember 2020
8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut sebagai Jurusan Paling Green Flag Mojok.co

8 Alasan Jurusan Psikologi Pantas Disebut Jurusan Paling Green Flag

27 Januari 2026
4 Salah Kaprah tentang Jurusan Ilmu Komunikasi yang Telanjur Dipercaya Terminal Mojok

4 Salah Kaprah tentang Jurusan Ilmu Komunikasi yang Telanjur Dipercaya

28 Oktober 2022
sejarah peradaban islam UIN mojok

Sejarah Peradaban Islam: Alternatif Jurusan yang Pengin Belajar Kajian Keislaman, tapi Malas Ketemu Bahasa Arab

13 April 2021
dunia kerja mental kerja Kalau Negara Gagal Nyediain Lapangan Kerja, Masak Buruh yang Bayar?

Dunia Kerja Bukan Semata soal Keterampilan, Kamu Juga Perlu Melatih Mental

12 Juli 2020
13 Istilah Dunia Kerja yang Wajib Diketahui Pekerja agar Tidak Dicurangi Perusahaan Mojok.co

13 Istilah Dunia Kerja yang Wajib Diketahui Pekerja agar Tidak Dicurangi Perusahaan

17 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja
  • Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan
  • Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana
  • Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan
  • Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik
  • Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.