Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Aturan Berbicara jika Kamu Berada di Kota Medan

Kristiani oleh Kristiani
2 September 2021
A A
5 Aturan Berbicara jika Kamu Berada di Kota Medan terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebelum datang ke Kota Medan, perhatikan dulu beberapa aturan berbicara berikut biar nggak salah ngomong.

Banyak yang bilang Medan memiliki bahasa yang unik. Hal ini tidak dapat dimungkiri lantaran di Medan terdapat beberapa suku dan tak ada yang paling mendominasi. Oleh karenanya, terciptalah bahasa-bahasa yang campur aduk dan telah berasimilasi dengan kehidupan masyarakat. Maka jangan heran bila suku Tamil di Medan mengetahui bahasa Toba, atau suku Jawa di Medan mengetahui bahasa Hokkian (bahasa keturunan orang Tionghoa yang lebih banyak dituturkan di Medan).

Meski begitu, ada beberapa aturan berbicara yang sebaiknya kamu hindari bila sedang berada di Kota Medan. Beberapa kata mungkin dapat terdengar ambigu di sini. Oleh karena itu, kamu perlu tahu pembicaraan dan sapaan seperti apa yang harus dihindari agar tidak terjadi salah paham.

#1 Menyebutkan uwak sesuai tempatnya

Sebelumnya, saya pernah membahas soal uwak dalam artikel ini. Supaya lebih ringkas, saya akan menjelaskannya lagi. Uwak merupakan sapaan om dan tante khas orang Medan. Sapaan ini semakin dikenal sejak Mak Beti—yang berasal dari Binjai, tak jauh dari Kota Medan—naik daun. Bahasa yang digunakan olehnya hampir mirip, termasuk sapaan uwak itu.

Nah, bagi kamu yang baru datang di Kota Medan dan hendak bertanya pada orang paruh baya, jangan sesekali memanggilnya dengan sebutan “uwak” kecuali yang sudah akrab. Pasalnya, ada beberapa orang yang kurang suka dengan panggilan tersebut. Alangkah baiknya jika kamu menyapa mereka dengan sebutan bapak atau ibu bila baru kenalan.

#2 Jangan bicara soal arah mata angin bila menunjuk suatu tempat

Orang Medan dikenal to the point. Makanya berbicara dengan orang Medan harus jelas dan tepat, termasuk perkara menunjuk suatu. Hal ini juga berpengaruh pada koran lokal yang tidak pernah menunjukkan arah mata angin bila memberitakan suatu peristiwa. Alih-alih bertanya menggunakan arah mata angin, lebih baik kamu langsung menyebutkan lokasinya.

Misalnya, kamu berada di Pasar Pajak Ikan Lama. Ketimbang menanyakan arah utaranya, lebih baik kamu langsung menanyakan lokasi Titi Gantung. Bagi orang baru, hal ini tentu agak sulit apalagi jika belum mengenal jalannya. Namun, lama-kelamaan kamu akan terbiasa menunjukkan lokasi terdekat tanpa embel-embel arah mata angin.

#3 Cukup panggil abang kepada lelaki dewasa

Di beberapa daerah, sebutan untuk kakak laki-laki ada banyak, termasuk di Medan. Memang, sih, panggilan abang lumrah saja di Indonesia, namun lebih banyak yang memanggil dengan sapaan sesuai daerah masing-masing.

Baca Juga:

Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab

Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Nah, di Kota Medan, akan lebih baik jika kamu memanggil laki-laki dewasa dengan panggilan abang saja. Pasalnya, sapaan ini lebih bisa diterima alih-alih memanggil dengan sapaan dalam bahasa lain. Sapaan seperti mas, uda, koko, aa, dan sejenisnya terdengar kikuk di Medan, kecuali oleh suku tertentu. Memang kebanyakan orang mengerti arti panggilan tersebut, namun tak semua orang terbiasa dengan panggilan itu.

#4 Di Kota Medan, penumpang adalah sewa

Saat kamu menaiki kendaraan umum, statusmu bukan penumpang, melainkan sewa. Entah dari mana asalnya, yang jelas dalam keseharian warga Kota Medan, penumpang di kendaraan umum namanya sewa. Hal ini dikarenakan penumpang hanya memakai jasa angkutan umum sebentar, makanya disebut dengan “menyewa” kendaraan. Jika kamu disebut sewa di kendaraan umum, tetap positive thinking saja, ya. Toh, kamu memang menggunakan jasa angkutan umumnya, kan?

#5 Bujang itu bukan lelaki lajang, melainkan punya arti yang lain

Pada dasarnya, kata bujang itu memang artinya lelaki lajang. Namun di Kota Medan, kata bujang ini memiliki arti yang lain. Kalau bisa, jangan menyebutkan bujang saat berada di Medan lantaran kata tersebut berarti organ reproduksi wanita dalam bahasa Batak Toba. Saat kamu menyapa pria lajang dengan panggilan bujang, kamu bakal dianggap kurang sopan. Alih-alih menyebut bujang, lebih baik menyebut lajang saja. Oh iya, pengucapan wanita lajang di sini lebih laku dengan sebutan gadis. Jangan sampai bingung, ya.

Semua daerah memiliki bahasa yang unik, tidak terkecuali di Medan. Masyarakat Medan membuktikan bahwa berbagai bahasa yang mereka tuturkan menjadi trademark tersendiri dan banyak dikenal masyarakat Indonesia. Setelah membaca ini, kamu tidak akan merasa kikuk dengan bahasanya. Justru, siapa tahu ini bisa membuatmu lebih bersemangat bila berteman dengan orang Medan atau sekadar menambah kosakata dari daerah lain.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 September 2021 oleh

Tags: bahasa daerahMedansumatra utara
Kristiani

Kristiani

Lahir di Jawa, Besar di Sumatera.

ArtikelTerkait

Bandung di Mata Perantau dari Medan, Bikin Kaget dan Perlu Banyak Waktu Adaptasi Mojok.co

Bandung di Mata Perantau dari Medan: Banyak Culture Shock, Perlu Waktu Lama untuk Adaptasi

27 Februari 2024
Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

8 November 2025
film india sinetron india siksaan penulis review sinopsis zoom in zoom out medan mojok.co

Mengenal Kampung Madras, Little India di Kota Medan

29 Agustus 2020
Dalam Bahasa Madura Hijau Memang Disebut Biruh dan Tak Perlu Diganti terminal mojok.co

Dalam Bahasa Madura, Hijau Memang Disebut ‘Biruh’ dan Tak Perlu Diganti

9 Februari 2021
Motor NMAX dan PCX Memang Nggak Cocok untuk Orang Desa, Mau Ngapain di Jalan Sekecil Itu?

Motor NMAX dan PCX Memang Nggak Cocok untuk Orang Desa, Mau Ngapain di Jalan Sekecil Itu?

13 Januari 2024
Lalu Lintas Medan Terlalu Barbar untuk Perantau Asal Surabaya seperti Saya Mojok.co

Lalu Lintas Medan Terlalu Barbar untuk Perantau Asal Surabaya seperti Saya

12 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

19 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

19 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.