Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

5 Alasan untuk Benci PKI dan Komunis Selain Pakai Isu-isu Ala Orba

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
29 September 2020
A A
anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Share on FacebookShare on Twitter

September berlalu, dan Oktober menyongsong. Dan apa lagi yang paling dinanti dari akhir September selain menggoreng kembali isu komunisme dan PKI? Toh, pandemi tidak menghalangi para penggiat anti komunis dan tokoh kebelet tampil untuk membahas hantu yang sudah mati 55 tahun lalu. Saatnya kita kembali membahas “kejahatan” PKI sembari merayakan hari besar orba ini

Tapi, lima dekade ini tidak ada kemajuan tentang narasi kebencian pada komunis. Kalau tidak ateis, anti agama, anti ulama, ya haus darah. Padahal, isu tersebut sudah dibantah susah payah oleh pihak yang ingin meluruskan sejarah. Tapi, apa lacur, tetap saja yang diangkat hanya isu-isu so yesterday ini.

ADVERTISEMENT

Padahal, banyak alasan untuk kita benci PKI tanpa menggoreng isu ala orba ini. Daripada ditertawakan oleh orang banyak, bukankah lebih baik benci dengan narasi yang fresh. Dan dalam artikel ini saya ajukan beberapa alasan yang jarang dinarasikan para pembenci komunis. Hitung-hitung agar isu ala orba yang so yesterday ini bisa dilupakan.

PKI selalu setengah-setengah saat memberontak

Kita mulai dari rebel management PKI. Dan untuk menyimak ini, kita cukup melihat kiprah dua pemberontakan PKI: pemberontakan 1926 dan pemberontakan Madiun. Saya tidak memasukkan G30S yang memang masih simpang siur dan penuh kepentingan. Serta saya tidak memasukkan konflik PKI-Ulama yang juga penuh kepentingan politik.

Mengapa dua pemberontakan di atas patut dibenci? Alasannya ada pada niat setengah-setengah PKI dalam memberontak. Pemberontakan 1926 gagal karena kegagalan koordinasi intern dan kurangnya dukungan rakyat. Gara-gara kebelet nge-rebel, PKI menyajikan pemberontakan setengah matang ini. Tan Malaka sampai gemas dengan partai kemarin sore yang sempat dia pimpin.

Bagaimana dengan Madiun? Menurut sejarah resmi, pemberontakan Madiun bertujuan untuk mendirikan pemerintahan Soviet yang terpisah dari Indonesia. Masalahnya, pemberontakan yang hanya sehari ini tidak memberikan dampak signifikan selain Muso dipanggang di sekitar alun-alun. Bahkan PKI jadi mlempem. Benar-benar membuat malu (komunis) Indonesia, sekaligus buang-buang waktu dan tenaga.

PKI hobi bikin pesta ulang tahun yang tidak ada ruh proletarnya

Namanya partai komunis, pasti selalu mengedepankan perjuangan kelas proletar. Tentunya, ruh perjuangan ini harus terhembus di setiap tindakan partai komunis. Tapi, PKI memang beda. Dalam kondisi krisis, PKI malah menyajikan pesta gegap gempita pada 1964. Anda bisa lihat sendiri foto-fotonya di berbagai media.

Nah, ini adalah alasan tepat untuk membenci PKI. Memang, partai komunis seantero dunia doyan membuat parade ulang tahun yang cetar. Tapi, PKI itu bukan partai pemerintahan kok congkak sekali. Di satu sisi, kelas proletar waktu itu juga masih pusing bertahan hidup dengan makan shorgum. Bukankah lebih baik salurkan dana ulang tahun untuk mentraktir kaum miskin kota? Kok PKI malah tak beda dengan bupati yang ngajak dangdutan itu ya?

Baca Juga:

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

Desa Nglopang Magetan, Desa yang Menyimpan Sejarah Kelam Indonesia

PKI membuat kekirian hari ini tidak kreatif

Semangat PKI yang terdzolimi masih jadi batu penjuru para muda-mudi kekirian. Beberapa anak muda (yang boleh kita sebut kiri kekimcil-kimcilan) masih saja membawa nama PKI sebagai simbol perlawanan mereka. Tak masalah, toh PKI tetap bagian sejarah. Masalahnya, PKI membuat kekirian kita tidak kreatif.

Banyak penggerak pemikiran kiri masih menggunakan pendekatan ala PKI. Dan karena PKI berkiblat pada USSR, masih saja yang diangkat adalah pemikiran Leninis. Padahal, pendekatan ala raksasa komunis dunia tersebut sudah tidak relevan hari ini. Pendekatan inilah yang membuat muda-mudi kiri hari ini masih tenggelam dalam romantisme menanti revolusi sambil menyanyi soyuz nerushimy.

PKI membuat warna merah, bintang, dan palu arit didiskriminasi

PKI adalah partai yang sangat doyan simbol. Semua yang berbau PKI pasti dibalut dengan warna merah lengkap dengan simbol bintang dan palu arit. PKI memang overproud dengan simbolisme kekirian. Eh, tapi bukannya semua partai juga sama saja? Dikit-dikit pasang simbol partai dan muka ketua umum.

Tapi, PKI telah gagal dan jadi kambing hitam. Dan segala simbolnya ikut menjadi barang haram di Indonesia, meskipun alasan ini bukan murni kesalahan PKI. Jika dulu yang berbau PKI dibalut simbolisme tadi, kini semua simbolisme “kekirian” dicap PKI. Baju merah dibilang PKI. Bintang kuning dibilang PKI. Bahkan artwork band mancanegara dibilang PKI.

Dan ini alasan saya membenci PKI, kaos dan kemeja saya banyak yang warna merah.

PKI membuat politisi tidak kreatif berkampanye

Seperti alasan keempat, alasan ini bukan murni dosa PKI. Alasan ini lahir karena PKI dikambing hitamkan oleh orde baru. Tapi, gara-gara PKI setengah-tengah dalam beraksi dan “menjaga diri”, hari ini kita menjadi saksi isu komunis digoreng sampai crispy. Gara-gara PKI, hari ini kita melihat salah satu purnawirawan berdrama dipecat karena ajakan nonton film fiksi produk orba itu.

Menurut saya, lima alasan di atas lebih tepat untuk menumbuhkan rasa benci pada PKI. Jika Anda memang tidak suka pada PKI, janganlah menggunakan alasan so yesterday ala orde baru. Masak, 55 tahun PKI runtuh tapi dibenci dengan isu yang sama tuanya. Bahkan isu tersebut sudah diluruskan oleh banyak pihak. Kebencian yang berdasarkan propaganda orde baru hanyalah dinosaurus politik yang menyebalkan.

BACA JUGA CONPLAN 8888-11: Strategi Amerika Serikat Menghadapi Serangan Zombi Ayam dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2020 oleh

Tags: komunisleninorbapki
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Desa Nglopang Magetan Menyimpan Sejarah Kelam Indonesia (Unsplash)

Desa Nglopang Magetan, Desa yang Menyimpan Sejarah Kelam Indonesia

20 Desember 2024
Pengkhianatan G30S/PKI

Film Pengkhianatan G30S/PKI Memang Layak Diputar dan Ditonton Saban Tahun

30 September 2021
Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil  terminal mojok.co

Tentang Razia Buku: Baca Buku Kok Dilarang, Pfffttt

31 Juli 2019
mengkritik pemerintah, wabah corona covid-19 residu politik Seandainya Elite Politik Negeri Adalah Kenshin Himura, Betapa Indahnya Negeri Ini

Mengkritik Pemerintah Dianggap Kadrun/Komunis, Demokrasi Kita Masih Waras Nggak sih?

6 Juni 2020
anti-kapitalisme buku kiri komunis oktober PKI Orba Lenin mojok

Kenapa Kita Butuh Membaca Buku Kiri?

2 November 2020
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gara-gara pada magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri (Unsplash)

Gara-gara semua orang magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri

21 Juli 2026
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026
Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

Pucang Surabaya, kawasan di kota pahlawan yang tak pernah kenal tidur

16 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng Mojok.co

Melawan serbuan semut di kamar, drama anak kos yang tampak sepele, tapi cukup bikin puyeng

16 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.