Sampai saat ini, Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) masih menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa pendidikan. Pada kegiatan PPL, mahasiswa akan latihan menjadi guru secara langsung di lingkungan sekolah.
Jadi, selama beberapa minggu, atau mungkin satu semester, mahasiswa akan beraktivitas di sekolah layaknya seorang guru. Ya, mungkin ini yang memang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa pendidikan.
Akan tetapi, saya kasih tahu nih, jangan ke-GR-an dulu bahwa kedatangan mahasiswa PPL itu akan membuat guru-guru di sekolah senang. Kadang sebaliknya, mahasiswa PPL malah membuat mereka merasa jengkel. Tapi tentu saja rasa jengkel itu cukup berasalan. Nah, bagi kalian mahasiswa pendidikan yang akan melaksanakan PPL, berikut saya spill alasan yang membuat guru-guru jengkel.
#1 Mahasiswa pendidikan mengajukan PPL tanpa observasi dulu
Di sekolah saya, hampir setiap tahun menerima mahasiswa PPL. Mereka terutama berasal dari kampus-kampus swasta. Nah, mereka yang datang ini tidak dulu melakukan observasi, tetapi langsung mengajukan permohonan untuk melaksanakan PPL. Entah darimana mereka mendapat informasi tentang sekolah saya ini.
Nah, karena tidak observasi di awal, kehadiran mereka sering kali malah tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan, terutama asal prodi mereka yang kadang tidak tersedia mata pelajarannya di sekolah. Misalnya yang kerap terjadi yakni mahasiswa dari prodi Bahasa Arab, mereka tetap maksa masuk ke sekolah padahal di sekolah nggak ada mata pelajaran tersebut. Alasannya, kata mereka sudah tidak ada waktu lagi buat cari sekolah lain.
Jadi, PPL ini beneran buat belajar atau formalitas saja sebetulnya? Haduh.
#2 Mahasiswa PPL terlalu sering izin tidak masuk
Masalah berikutnya yang juga sering ditemukan, mereka sering kali tidak masuk. Apalagi, jika dalam satu tim anggotanya lebih dari 3 orang, yang seharusnya mereka masuk tiap hari, kadang mereka malah masuk bergantian. Hari ini siapa yang absen, besoknya pasti salah satu teman lainnya yang akan tidak masuk.
Sebagai guru, saya sebetulnya paham mengapa mereka bisa seperti itu. Yang pertama mungkin karena niatnya memang cuma formalitas saja. Kedua, mereka sering merasa sungkan ketika ingin berbaur dengan para guru. Tapi bagi saya, seharusnya kita bisa sabar dan bertahan, sebab ini jadi kesempatan buat mahasiswa terlibat di lingkungan sekolah.
#3 Lempar-lempar tugas antar anggota
Selanjutnya yang tidak kalah menjengkelkan, mahasiswa PPL itu juga sering saling lempar-lempar tugas. Misalnya nih, saat mereka diminta untuk mengisi kelas, dengan samar mereka masih saja berdebat siapa yang akan mengisinya. Apalagi jika mapelnya tidak sesuai dengan prodi mereka. Yah, lagian siapa suruh mengambil sekolah yang tidak sesuai dengan keilmuannya, iya kan?
Nah, lempar-lempar tugas ini bukan cuma pas ngajar saja. Ketika ada acara atau rapat yang mengharuskan adanya moderator, tidak ada dari mahasiswa PPL yang berinisiatif untuk berkenan menjadi moderator. Pas kami tawarkan pun sering kali mereka saling tunjuk-tunjuk temannya. Haduh! Mau belajar nggak sih, Nak?
#4 Hanya meninggalkan dokumentasi
Terakhir, kalau saya perhatikan mahasiswa PPL itu, saya percaya mereka sebenarnya ingin sekali kegiatan PPL-nya segera berakhir. Dari kebiasaan jarang masuk sampai keseringan berdebat saat diberi tugas menjadi tanda kalau mereka sebetulnya tidak betah.
Nah, tapi apa yang bisa diharapkan dari kegiatan PPL yang seperti itu? Tidak ada lagi selain dokumentasi formalitas belaka.
Ya, sulit mencari hal yang bisa dibanggakan dari kehadiran mahasiswa pendidikan yang PPL di sekolah. Program paling mainstream-nya ya paling cuma menyediakan tempat sampah. Tidak lupa ditempel pula nama asal kampus mereka sebagai tanda mereka pernah PPL di sekolah itu. Atau kalau tidak, mereka kadang cuma meninggalkan plakat sebagai ucapan terima kasih. Hmmm, sampai menumpuk plakat mahasiswa PPL di ruang kantor kami!
Yah, demikianlah hal-hal menjengkelkan yang sering dilakukan oleh mahasiswa PPL. Saya menulis ini bukan berarti mahasiswa PPL seperti itu semua ya. Mungkin ada yang tidak demikian, tapi ya jarang. Maka dari itu, buat mahasiswa pendidikan yang akan melakukan PPL, lebih dipersiapkan lagi diri kalian ya supaya nggak bikin jelek nama kampusnya.
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir bingung melanjutkan hidup setelah lulus.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
