4 Mitos yang Menyelubungi Gunung Kelud di Kediri – Terminal Mojok

4 Mitos yang Menyelubungi Gunung Kelud di Kediri

Artikel

Gunung Kelud yang dikenal masuk wilayah administratif Kabupaten Kediri sejatinya masuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kediri, Blitar, dan Malang. Sempat terjadi sengketa kepemilikan antara Kabupaten Blitar dan Kediri soal kepemilikan gunung ini, namun Kediri lah yang menang.

Terlepas dari masalah tersebut, Gunung Kelud mempunyai beragam mitos yang hingga saat ini masih diyakini kebenarannya oleh masyarakat Kediri dan Blitar. Berikut merupakan beberapa mitos mengenai gunung yang bertipe stratovulkano tersebut.

#1 Kutukan Lembu Suro

Cerita kutukan Lembu Suro sudah menjadi tradisi lisan turun-temurun bagi masyarakat di Kediri dan Blitar. Ada berbagai macam versi terkait tokoh yang terlibat dalam kisah tersebut. Namun, yang paling populer di kalangan masyarakat setempat adalah cerita antara Dewi Kilisuci dan Lembu Suro.

Diceritakan, Dewi Kilisuci yang merupakan putri dari Jenggolo Manik sang penguasa Kediri dilamar oleh dua raja. Seorang berkepala lembu bernama Lembu Suro dan seorang berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

Sang putri berkeinginan menolak lamaran tersebut dengan membuat sayembara yang tak masuk akal demi menggagalkan niat mereka menikahi sang putri. Baik Lembu Suro dan Mahesa Suro diminta untuk membuat dua sumur yang berbau amis dan wangi di Gunung Kelud dalam waktu satu malam. Yang berhasil melaksanakan sayembara tersebut akan dijadikan suami oleh Dewi Kilisuci.

Singkat cerita karena kedua peserta sayembara bukan manusia biasa, dua sumur tersebut dapat terselesaikan dalam waktu satu malam. Dewi Kilisuci pun resah. Tak kehabisan akal, ia meminta Lembu Suro dan Mahesa Suro masuk ke dalam sumur untuk membuktikan apakah sumur tersebut benar-benar memiliki bau amis dan bau wangi. Keduanya menuruti permintaan Dewi Kilisuci. Saat keduanya berada di dalam sumur, Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit kerajaan untuk mengubur mereka hidup-hidup.

Baca Juga:  Enaknya Olahan Bekicot Khas Kediri

Mahesa Suro pun meninggal. Sedangkan Lembu Suro sempat meminta tolong agar diselamatkan nyawanya. Sadar bahwa usahanya meminta pertolongan sia-sia, sebelum meninggal Lembu Suro mengucapkan sumpah serapah terhadap Dewi Kilisuci dan seluruh keturunannya yang terus melegenda sampai sekarang.

“Oyoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi kedung.”

Maksud dari sumpah Lembu Suro adalah ketika Gunung Kelud meletus, Kediri akan menjadi sungai tempat mengalirnya lahar, Blitar menjadi hamparan padang pasir letusan Gunung Kelud, dan Tulungagung menjadi bendungan tempat bermuaranya lahar Gunung Kelud. Banyak masyarakat Kediri dan Blitar yang percaya bahwa Gunung Kelud meletus merupakan bentuk kemarahan Lembu Suro terhadap Dewi Kilisuci dan seluruh keturunannya.

Letusan terakhir pada 2014 lalu yang dampak letusannya sampai ke Jakarta dipercaya masyarakat bisa terjadi karena Lembu Suro benar-benar murka dan terus mengejar seluruh keturunan Dewi Kilisuci.

#2 Keris Mpu Gandring

Banyak yang percaya bahwa keris Mpu Gandring dikuburkan di kawah Gunung Kelud. Keris sakti yang berasal dari Kerajaan Singasari tersebut dikuburkan karena dianggap memiliki aura yang jahat dan menimbulkan perang saudara. Oleh sebab itu, Prabu Hayam Wuruk yang berasal dari Majapahit memutuskan menguburkan keris Mpu Gandring guna memutus kutukan jahat tersebut.

#3 Siklus 20 tahun

Masyarakat memiliki keyakinan bahwa Gunung Kelud memiliki kebiasaan meletus 20 tahun sekali. Dari beberapa catatan dapat diketahui bahwa Gunung Kelud memiliki periode letusan yang bisa dihitung. Jarak antara satu letusan dengan letusan selanjutnya berkisar antara 15 sampai 25 tahun, kecuali yang terjadi pada tahun 2007.

Baca Juga:  Sambal Tumpang, Makanan Khas Kediri yang Ramah Lingkungan

#4 Wage Keramat

Wage merupakan salah satu pasaran di hari Jawa. Bagi masyarakat yang tinggal tidak jauh dari Gunung Kelud, Wage dianggap keramat karena berkenaan dengan meletusnya Gunung Kelud.

Hal ini diyakini masyarakat setempat berdasarkan ilmu titen di mana letusan terakhir terjadi pada Kamis Kliwon malam sudah masuk dalam hitungan Jumat Wage. Letusan yang terjadi pada tahun 1990 terjadi pada Sabtu Wage dan letusan pada tahun 1965 juga terjadi pada Jumat Wage. Belum ada penelitian yang mengenai korelasi antara Wage dengan meletusnya Gunung Kelud. Namun, bagi sebagian masyarakat khususnya di sekitaran Gunung Kelud, hal itu mereka yakini berdasarkan pengalaman yang sudah mereka alami.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Di Kediri, Anak Kecil Nggak Bisa Bercita-cita Jadi Presiden 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.