#2 Olahan tempe semangit juga bermasalah dengan bau
Setali tiga uang dengan lumpia rebung, olahan tempe semangit juga punya bau pesing. Meski, tingkat ke-pesingan-nya masih lebih aman daripada lumpia rebung. Aroma khas tempe semangit ini terjadi karena tempe yang sudah melewati masa cantiknya. Warna mulai menggelap, bentuk sudah tidak kokoh lagi dan tentu saja aromanya semakin tajam. Aroma pesing.
Bagi sebagian orang, tempe semangit atau tempe pesing sebagai makanan khas Jawa Tengah, justru memberi rasa khas pada masakan. Biasanya, orang mengolah tempe semangit menjadi sambal tumpang, bothok, campuran sayur lodeh, atau sambel goreng tempe.
Bagi yang sudah terbiasa dengan olahan tempe semangit, termasuk saya, jelas ini comfort food. Buat pemula? Oo, tidak senikmat itu.
Pengalaman pertama mencoba makanan khas Jawa Tengah ini bisa terasa seperti mencium sesuatu yang seharusnya kita buang. Lha iya, wong tempe bosok kok malah dimasak itu gimana ceritanya coba? Mau uji nyali?
#3 Swike, hanya mereka yang kuat mental yang berani mencicipi makanan khas Jawa Tengah ini
Tentu yang saya maksud di sini bukan swike ayam, ya. Tapi, swike olahan daging kodok yang memang menjadi makanan khas Jawa Tengah.
Bayangkan, kodok yang biasa kita lihat lompat-lompat di sawah tiba-tiba jadi makanan. Biasanya sih, orang memasak kodok dengan kuah tauco atau menggorengnya dengan mentega. Bagi yang pernah mencoba, katanya rasa daging kodok ini mirip-mirip kek daging ayam. Ta-tapi kan…iyuh~
Jujur saja, baru mendengar bahan utamanya daging kodok saja, otak sudah langsung travelling. Kebayang kulit si kodok yang licin, matanya yang bulat melotot, lehernya yang menggelembung, tentu membuat nyali jadi maju mundur.
Jelas, tidak semua orang siap secara psikologis untuk menyantap makanan khas Jawa Tengah ini. Jadi ya, skip aja udah. Apalagi, swike tetap jadi red flag bagi mereka yang punya batasan tertentu soal jenis hewan yang halal untuk dikonsumsi.
#4 Didih katanya sih enak, tapi begitu tahu bahan utamanya… Nggak dulu!
Terakhir, daftar makanan khas Jawa Tengah yang red flag adalah didih. Kalian tahu apa bahan utama didih? Darah, Gaes. Lebih tepatnya darah sapi atau kambing yang dimasak hingga mengental dan padat. Teksturnya kenyal, warnanya gelap pekat, dan aromanya cukup khas. Khas mengganggu maksudnya.
Bagi yang terbiasa, didih itu lezat dan bergizi. Tapi untuk yang belum pernah mencoba, ide mengonsumsi darah dalam bentuk padat seringnya sudah cukup untuk membuat mundur perlahan. Red flag-nya sudah terang banget ini. Lha iya, makan kok darah? Emangnya vampir?
Dipikir-pikir, memang sih red flag dalam urusan makanan itu sangat subjektif. Apa yang terasa nggak banget bagi satu orang, bisa jadi biasa saja bagi yang lain.
Daftar makanan khas Jawa Tengah yang red flag ini, tentu berdasarkan referensi saya pribadi. Kalau kamu nggak setuju, itu hak kamu. Yang jelas, kuliner Jawa Tengah tetap kaya dan layak untuk dijelajah, sambil hati-hati.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 3 Makanan Khas Jawa Timur Paling Red Flag, Cukup Sekali Dicoba atau Sekalian Nggak Usah Dicoba Sama Sekali
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















