Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Hal Tidak Biasa di Situbondo, tetapi Wajar di Bondowoso

Nurul Khofifatul Molika oleh Nurul Khofifatul Molika
3 Juni 2025
A A
4 Hal Tidak Biasa di Situbondo, tetapi Wajar di Bondowoso

4 Hal Tidak Biasa di Situbondo, tetapi Wajar di Bondowoso (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Faktanya, Situbondo dan Bondowoso adalah dua daerah yang letaknya bersebelahan di Jawa Timur. Sebagai daerah yang berdekatan, seharusnya kedua kabupaten ini tak memiliki perbedaan yang jauh. Akan tetapi ketika saya sebagai orang kelahiran Situbondo memutuskan pindah domisili ke Bondowoso, saya baru menyadari bahwa kedua daerah ini memiliki banyak perbedaan.

Saya merangkum beberapa hal yang biasa terjadi di Bondowoso tapi nggak wajar di Situbondo. Ini daftarnya.

#1 Di Situbondo, tamu yang datang ke rumah cukup diberi hidangan minum, sementara di Bondowoso wajib makan berat

Tamu yang datang memang selayaknya mendapat pelakuan istimewa. Hal itu juga yang dipikirkan oleh warga Bondowoso. Maka ketika ada tamu yang datang, warga di sini wajib menjamu mereka dengan memberi makan tamu. Katanya sih kasihan tamu yang datang mungkin saja menahan lapar selama menempuh perjalanan.

Maka memberi hidangan berupa nasi dan makanan berat sudah menjadi hal biasa di Bondowoso. Saya bahkan pernah mendapat teguran dari warga sini karena nggak memberikan tamu yang datang ke rumah makanan berat.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan orang Situbondo. Di sana, tuan rumah cukup menghidangkan teh atau kopi kepada tamu yang datang. Nggak perlu menyediakan makanan berat seperti nasi beserta lauk-pauknya. Segelas teh atau kopi adalah hal lumrah yang diberikan warga Situbondo kepada tamunya.

#2 Orang Bondowoso gotong royong membangun rumah tetangga, di Situbondo nggak begitu

Perbedaan kebiasaan yang saya alami antara daerah Situbondo dan Bondowoso adalah soal kerja sama warganya. Di Bondowoso, warga masih memegang teguh tradisi gotong royong saat ada tetangga yang membangun rumah. Bapak-bapak tetangga akan saling membantu dalam proses pembangunan, sementara para ibu akan datang membawa gula dan beraas sebagai bentu sumbangan juga membantu memasak di dapur.

Saling membantu para tetangga sudah menjadi kebiasaan di sini. Jadi ketika ada tetangga yang akan melakukan renovasi rumah atau membangun rumah juga, tetangga lain nantinya juga akan membantu dan meluangkan waktu mereka.

Jujur saja saya sempat merasa kaget sekaligus kagum dengan kebiasaan warga Bondowoso ini. Pemilik rumah nggak perlu mengeluarkan uang untuk biaya pekerja karena sudah dibantu tetangga. Hubungan antarmasyarakat masih terasa kental di sana.

Baca Juga:

Sisi Gelap Jalan Pantura Situbondo: Gelap, Banjir, dan Jalan Berlubang Bikin Jalan Ini Begitu Gawat!

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Hal ini berbeda dengan yang saya alami waktu di Situbondo. Selama proses pembangunan rumah atau renovasi, butuh biaya untuk membayar pekerja sekitar Rp100 ribu per hari.

#3 Setiap halaman rumah punya musala pribadi

Poin selanjutnya ini menjadi culture shock bagi saya saat melihat rata-rata halaman rumah di desa Bondowoso memiliki musala. Warga memiliki alasan kenapa di halaman depan rumah mereka dibangun musala. Selain digunakan untuk salat, kehadiran ruang musala ini juga sebagai tempat untuk istirahat dadakan tamu yang datang .

Selain itu, di bulan tertentu, warga Bondowoso biasa mengadakan syukuran. Dalam bahasa orang sini “arebbe” dengan mengundang bapak-bapak untuk membaca doa. Nah, biasanya acara tersebut diadakan di ruang musala yang berada di halaman rumah. Setelah acara doa bersama, biasanya tuan rumah juga akan membagikan berkat berupa kue kepada tamu yang hadir.

Sementara itu di Situbondo, saya jarang sekali melihat rumah yang memiliki musala di halaman depan. Ada sih, tapi biasanya digunakan untuk mengajar ngaji dan nggak semua rumah memilikinya. Lagi pula kegiatan arebbe jarang dilakukan warga Situbondo.

#4 Tilik bayi menjadi kegiatan wajib

Waktu saya baru melahirkan, saya senang sekaligus kaget dengan banyaknya tetangga yang berkunjung ke rumah di Bondowoso. Saat itu para tetangga membawa berbagai buah tangan seperti gula berukuran 5 kg, beras 5 kg, minyak goreng, sabun mandi, bedak bayi, dll. Waktu saya total, satu orang tetangga bisa membawa barang setara RpRp250 ribu sampai Rp300 ribu.

Saya sampai menuliskan para tetangga yang membawa bawaan untuk tilik bayi ini. Kalau ditotal ada 80 orang lebih. Ini beda lagi dengan yang memberi hadiah kelahiran berupa cincin dan gelang emas. Tilik bayi atau menengok bayi yang baru lahir dan membawa hadiah seperti ini adalah kebiasaan wajar di Bondowoso.

Hal ini berbanding balik dengan Situbonso. Tilik bayi bukan sebuah tradisi yang harus dilakukan. Bahkan hadiah yang dibawa juga sekadarnya. Bujetnya pun tak banyak, biasanya di bawah Rp100 ribu. Biasanya tilik bayi juga hanya dilakukan orang yang benar-benar kenal.

Perbedaan ini saya tuliskan bukan untuk membanding-bandingkan antara daerah satu dengan daerah lain, ya. Justru hal ini menunjukkan keragaman budaya di masyarakat kita. Biarlah jamaah Mojok yang menilai langsung dengan datang sendiri ke Bondowoso dan Situbondo. Dijamin kalian akan mendapatkan pengalaman baru.

Penulis: Nurul Khofifatul Molika
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Orang Situbondo Sebaiknya Jangan Cari Pasangan Orang Bondowoso, Nggak Cocok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2025 oleh

Tags: bondowosositubondo
Nurul Khofifatul Molika

Nurul Khofifatul Molika

Menekuni hobi menulis sejak kecil, dengan mimpi karya tampil dan dibaca luas melalui mesin pencarian.

ArtikelTerkait

Wisata Sejarah Bondowoso Lebih Layak Dicintai daripada Jember

Wisata Sejarah Bondowoso Lebih Layak Dicintai daripada Jember

26 Januari 2024
Bondowoso, Sebaik-baiknya Kandidat Ibu Kota Jawa Timur

Bondowoso, Sebaik-baiknya Kandidat Ibu Kota Jawa Timur

15 Maret 2023
UMK Situbondo Kecil Nggak Ngaruh, Selama Ada Padi dan Ikan, Tagihan Tetap Bisa Lunas! banyuwangi

Siapa pun Presidennya, UMK Situbondo Tetap Terendah di Jawa Timur, dan (Mungkin) Selamanya Akan Tetap Jadi yang Terendah

18 Februari 2024
Tidak Ada Hujan di Situbondo

Tidak Ada Hujan di Situbondo

29 Maret 2023
4 Kemungkinan Kenapa Banyuwangi Tidak Diajak Kerja Sama oleh Tiga Kabupaten Tetangganya

4 Kemungkinan Kenapa Banyuwangi Tidak Diajak Kerja Sama oleh Tiga Kabupaten Tetangganya

18 Oktober 2025
Alasan Orang Bondowoso seperti Saya Malas Berwisata ke Kawah Ijen Mojok.co

Alasan Orang Bondowoso seperti Saya Malas Berwisata ke Kawah Ijen

25 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokal Mojok.co

Slow Living di Gamping Itu Nyata, Asal Kamu Tidak Jadi Warga Lokalnya

11 Mei 2026
Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus (Unsplash)

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

8 Mei 2026
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

10 Mei 2026
Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

9 Mei 2026
Dilema Jawa Murtad di Gunungkidul Lidah Sumatra Jadi Petaka (Wikimedia Commons)

Dilema “Jawa Murtad” di Gunungkidul: Ketika Lidah Sumatra Menjadi Petaka

7 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.